Friday, 28 July, 2017 - 06:51

Menguat, Perekonomian Kelas Menengah di Sulteng

Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Gini Ratio Sulteng Turun 0,015 Poin

Palu, Metrosulawesi.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah merilis data tingkat ketimpangan pengeluaran atau gini ratio penduduk di Sulawesi Tengah per September 2016. BPS mencatat gini ratio sebesar 0,347 atau menurun sebesar 0,015 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret di tahun yang sama yang sebesar 0,362.

Sementara jika dibandingkan dengan gini ratio September di tahun sebelumnya yang sebesar 0,370, gini ratio September turun sebesar 0,023 poin.

“Artinya ketimpangan mulai membaik, meskipun penurunannya tidak drastis namun angka ketimpangan di Sulteng sudah mulai membaik dari sebelumnya. Ketimpangan pengeluaran masyarakat di Sulteng sudah merata,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faizal Anwar saat merilis pertumbuhan ekonomi Sulteng, Senin 6 Januari 2017, di kantornya.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap perbaikan tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode September 2015–September 2016 diantaranya adalah menguatnya perekonomian penduduk kelas menengah (kelompok 40 persen menengah).

Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu pekerja tidak dibayar yang merupakan kelompok terbesar pada kelas menengah sebagai dampak dari lebih kondusifnya pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), terjadi peningkatan jumlah pekerja yang berusaha dibantu pekerja tidak dibayar dari 287,9 ribu (Agustus 2015) menjadi 305,9 ribu (Agustus 2016) atau naik sekitar 6,27 persen. Untuk lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, dan angkutan peningkatannya jauh lebih tinggi lagi yaitu sebesar 19,91 persen dari 385,9 ribu (Agustus 2015) menjadi 462,8 ribu (Agustus 2016).

Kemudian adanya kenaikan pengeluaran kelompok bawah yang merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah tidak lepas dari upaya pembangunan infrastruktur padat karya, dan beragam skema perlindungan dan bantuan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan lainnya yang dijalankan oleh pemerintah.

BPS Sulawesi Tengah juga mengungkapkan bahwa gini ratio di daerah perkotaan pada September 2016 tercatat sebesar 0,372. Angka ini juga turun dibanding gini ratio Maret 2016 yang sebesar 0,387. Angka tersebut juga turun dibandingkan gini ratio September tahun sebelumnya yang 0,415.

Sedangkan gini ratio di daerah pedesaan pada September 2016 tercatat sebesar 0,308, lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,320 pada Maret. Namun angka tersebut justru naik jika sebesar 0,005 poin dibanding September 2015 lalu.

Sementara distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 19,24 persen.

“Artinya, pengeluaran penduduk masih berada berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data BPS  nilai gini ratio tertinggi tercatat di Provinsi Gorontalo yaitu sebesar 0,410. Sulawesi Tengah sendiri menjadi provinsi dengan gini ratio terendah. Dibanding dengan gini ratio nasional yang sebesar 0,394, terdapat dua provinsi di Pulau Sulawesi dengan angka Gini Ratio lebih tinggi, yaitu Gorontalo (0,410) dan Sulawesi Selatan (0,400).


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.