Wednesday, 20 June, 2018 - 17:21

Merasa Anaknya Dibuli Guru, Wali Murid SD Imanuel Geram

MEDIASI - Orang tua siswa bersama Nenek dari anak yang dibuli, dan Kepsek serta guru yang membuli anaknya saat melakukan mediasi, di ruangan kelas III, Rabu, 6 Juni 2018. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Merasa anaknya dibuli oleh salah satu Guru SD Imanuel Palu, orang tua siswa yang enggan menyembutkan namanya, berinisial VZ dan nenek (oma dari anak yang dibuli) mendatangi SD tersebut. Kedatangan orang tua murid ini diterima oleh Kepala SD Imanuel Palu Nilam Laema S Pd, Rabu, 6 Juni 2018.

Tujuan dari kedatangan VZ bersama Nenek dan Anaknya itu untuk menyelesaikan persoalan dengan Wali Kelas III (guru) yang diduga membuli anaknya selama duduk di bangku kelas III. VZ meminta agar guru tersebut minta maaf kepada anak dan orang tuanya.

Pertemuan antara Kepala Sekolah dan orang tua siswa  tersebut berlangsung cukup tegang, pasalnya orang tua siswa berinisial FR tidak terima anaknya dibuli oleh salah seorang guru di depan teman-temanya atau dihadapan orang banyak.

Kata VZ, orang tua FR, awalnya Wali Kelas III tampak terlihat baik-baik saja, namun setelah beberapa bulan berjalan, mulailah pembulian dan diskriminasi dilakukan Wali Kelas tersebut terhadap FR.

“Pembulian anak saya mungkin karena tugas, dan tidak masuk sekolah serta lambat membayar SPP yang menunggak dua bulan. Saat itu anak saya dibuli di depan teman-teman sekolahnya. Bahkan gurunya menyebutkan kata-kata yang tidak beretika yakni “Omamu itu Biongo” kata ini seharusnya tidak wajar dikatakan oleh seorang guru atau pihak pendidik ke murid-murid,” ujarnya.

Bahkan, kata VZ, tiap hari anaknya juga di marah atau ditekan oleh gurunya, sehingga mental anaknya terganggu dan tidak berani (takut) lagi pergi ke sekolah.

“Maka ini sebagai pelajaran bagi tiap guru, agar lebih memilih kata-kata yang baik untuk disebutkan kehadapan muridnya, karena kata-kata guru dapat mempengaruhi mental. Karena buktinya anak saya tidak mau lagi datang ke sekolah karena takut di marah oleh Wali Kelasnya (gurunya),” katanya.

VZ mengungkapkan sebenarnya dirinya ingin melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib, namun pihaknya merasa kasihan kepada guru tersebut, karena sudah mau pensiun dan pihaknya tidak mau ribut.

“Saya hanya mau meminta guru yang membuli anak saya mengaku dan meminta maaf agar tidak ada kejadian seperti ini kedepanya. Itulah yang biasanya memberikan mental anak terpuruk, bisa anak didik  melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri, karena takut untuk ke sekolah. Saya sangat bersyukur, hal itu tidak terjadi kepada anak saya,” jelasnya.

Olehnya kata dia, sebelum kejadian ini lebih parah lagi, pihaknya meminta klarifikasi pada pihak sekolah.
 
“Kepsek  harus lebih perhatian kepada gurunya, gurunya lebih perhatian kepada anaknya, orang tua juga lebih dekat dengan gurunya,” jelasnya.

Sementara ditempat yang sama, Kepala SD Imanuel Palu, Nilam Laema S Pd mengungkapkan, persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. Kata dia, kedua belah pihak telah bertemu.

“Guru tersebut juga telah mengakui tentang tutur kata yang disampaikannya. Tetapi namanya menghadapi anak-anak yang banyak, kadang-kadang kata-kata guru keluar secara spontan, namanya khilaf, sehingga kita perlu saling memaafkan,” katanya.

Nilam mengaku tidak mengetahui kejadian itu secara persis, namun saat ini keduanya telah berdamai. Artinya guru tersebut telah meminta maaf kepada oma (nenek) anak tersebut.

“Saya berharap jika ada terjadi masalah atau hal-hal yang kurang baik terhadap siswa, orang tua siswa tersebut jangan memendamnya. Kita inikan mitra dengan orang tua. Sekolah dan orang tua itu perlu kerjasama dan mempunyai hubungan yang baik. Maka, jika terjadi hal yang kurang baik, agar sampaikan langsung ke saya, sehingga masalahnya tidak menumpuk dan cepat selesai,” jelasnya. 


Editor: M Yusuf Bj