Saturday, 22 July, 2017 - 18:38

Metode Full Day School Harus Jelas

Akademisi Universitas Tadulako, Dr Ir Muh Nur Sangadji, DEA (Foto : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Akademisi Universitas Tadulako Dr.Ir.Muh. Nur Sangadji. DEA mengungkapkan metode kebijakan sekolah lima hari harus jelas.

“Karena itu ide Menteri, maka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi harus menjelaskan kepada publik dan meyakinkan publik bahwa apa yang beliau lakukan itu benar, sehingga inovasi yang dilakukan oleh menteri itu jelas. Oleh karena itu, Menteri harus menjawab keraguan masyarakat” katanya di Palu, Kamis, 15 Juni 2017.

“Metode pembelajaran selama delapan jam itu harus jelas, agar keraguan publik terjawab. Kekhawatiran beberapa orang misalnya bagi yang muslim terkurangi waktu untuk mengaji. Jika itu yang dihawatirkan, nanti di dalam full day school harus diisi di waktu jam terentu, jadi tidak ada yang keliru,” sambungnya.

Nur Sangaji mengatakan adalah hal yang wajar, jika pada awalnya, suatu inovasi mendapat penolakan dimana-dimana.

“Saya mengambil contoh Menara Eiffel di Francis. Kalau Gustave Eiffel tidak kuat motivasinya untuk membangun Menara Eiffel, maka kita tidak akan melihat Menara Eiffel. Karena saat dibangun, banyak penentangan oleh arsitek di Eropa,” katanya.

“Tapi karena keyakinanya yang kuat, akhirnya Gustave Eiffel bisa membuktikan, dan kita bisa melihat Menara Eiffel hingga sekarang. Itu adalah salah satu contoh,” sambungnya.

Kata dia, libur pada Sabtu dan Minggu pada program Full Day School akan menciptakan waktu orang tua dan siswa semakin berharga.

“Mudah-mudahan para orang tua merasa di waktu Sabtu dan Minggu lebih berharga diluangkan bagi mereka dan anak-anak. Karena selama Senin hingga Jumat, adalah masa dimana anak-anak mengambil waktu belajar yang lama,” katanya.

“Sesuatu dianggap penting, jika kita menganggap sesuatu itu langkah atau jarang terjadi,” sambungnya.

Selain itu, Nur Sangadji meminta agar budaya saling mendengar diciptakan untuk membangun bangsa ini.

“Karena kita sedang menuju sebagai bangsa yang hebat. Bangsa yang hebat merupakan bangsa yang damai,” katanya.

“Sementara kedamaian itu muncul karena warga saling mengerti. Namun dasar saling mengerti adalah kemauan kita untuk saling mendengar,” sambungnya.


Editor : M Yusuf BJ

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.