Friday, 20 April, 2018 - 14:36

Meyke Widyaningrum Wakili Sulteng ke LASENAS

FOTO BERSAMA - Kepala SMAN 1 Palu Zulfikar Is Paudi bersama Meyke Widyaningrum dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan Budiono saat foto bersama di sekolahnya, Senin, 19 Maret 2018. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Meyke Widyaningrum, siswa SMA Negeri 1 Palu pada 27 Maret 2018 akan mewakili Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti Lomba Lawatan Sejarah Nasional (LASENAS) di Provinsi Aceh. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari lomba LASENAS tingkat daerah yang digelar oleh Direktorat Sejarah Kemendikbud RI beberapa waktu lalu di Manado.

Meyke mengungkapkan, pada LASENAS tingkat daerah, para peserta lomba jalan-jalan ke tempat bersejarah di Manado, seperti Tugu Walanda Maramis, Monumen Wolter Monginsidi, Museum Sulawesi Utara, serta ke Makam Imam Bonjol dan Makam Kyai Mojo. Setelah itu, hasil jalan-jalan di dipresentasikan di depan dewan juri.

“Dalam seleksi lomba LASENAS di tingkat daerah, kami diseleksi keaktifannya, seperti aktif bertanya, menjawab. Dan yang dipresentasikan itu harus baik, serta pertanyaan yang kita ajukan harus berbobot,” jelas Meyke kepada Metrosulawesi di sekolahnya, Senin, 19 Maret 2018.

Sementara, kata Meyke, untuk LASENAS di Aceh, peserta harus memenuhi syarat penilaian, yaitu  membuat karya tulis.

“Maka nantinya di tingkat nasional, akan dipilih 10 karya tulis terbaik. Dari 10 karya tulis itulah akan di paparkan atau dipresentasikan di depan dewan juri,” ungkapnya.

Meyke mengungkapkan saat ini, karya tulis yang akan dibuatnya masih dalam proses, dengan mengangkat judul Bingkai Sejarah Indonesia di Kota Serambi Mekah.

“Karya tulis ini berbicara tentang Aceh, karena sub tema yang saya ambil Arti Aceh di Bingkai Sejarah Indonesia, dimana Aceh itu berperan dalam proses integrasi Indonesia,” jelasnya.

“Dalam membuat karya tulis tersebut, banyak guru-guru yang membimbing saya. Kami juga akan didampingi dua orang guru pembimbing, satu orang dari Gorontalo dan dari satu orang dari Sulteng,” ungkapnya.

“Perasaan saya ketika diumumkan lolos ke nasional sangat senang dan kaget. Karena waktu pembukaan disampaikan, yang mewakili setiap Provinsi hanya satu orang saja. Setelah itu, ketika diumumkan, bahwa saya meraih peserta terbaik kedua, saya biasa saja, tetapi ternyata peserta terbaik kedua itulah yang ke tingkat nasional, karena itu saya kaget,” tuturnya.

Meyke, yang juga hobi membaca buku ini berharap karya tulisnya masuk dalam 10 besar saat LASENAS di Aceh.

“Karena perwakilan setiap provinsi tiga orang. Jika dihitung, perwakilan dari 34 provinsi se-Indonesia yang mengikuti Lawatan Sejarah Nasional sekitar 102 orang,” katanya.
 
Meyke siswa kelas XI IPA 2 menjelaskan karya tulis yang dibawakannya adalah pilihannya sendiri, karena peserta dianjurkan memilih sub tema yang telah ditentukan oleh pusat, sebanyak empat sub tema. Batas waktu pengiriman karya tulis 1 April 2018.

“Banyak hal atau kesan yang saya dapat dari lomba tersebut, yang paling berkesan ketika saya jalan-jalan ke tempat bersejarah. Saya bisa mengetahui nilai-nilai kepahlawanan,” kemudian ketika mengikuti proses lomba itu kami belajar tentang pahlawan,” ujarnya.

Saat jalan-jalan sejarah di Manado, dirinya baru mengetahui ternyata pada 14 Februari di Manado terjadi peristiwa merah putih.

“Karena selama ini yang saya ketahui, 14 Februari adalah Hari Valentine.  Akhirnya saya dapat mengetahui bahwa 14 Februari di Manaodo ada peristiwa perjuangan dimana tiga pemuda di Manado merobek bendera Belanda  yang kala itu menjajah di Manado,” ujar Meyke.

 
Editor: M Yusuf Bj