Sunday, 17 December, 2017 - 16:22

MI Nurul Ummah Desa Topogara: Belajar di Bekas Masjid, Bantuan Tak Kunjung Terealisasi

TUNAS BANGSA - Murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ummah di Desa Topogara Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali tampak bersemangat mengikuti pelajaran di tengah keterbatasan fasilitas. (Foto : Murad Mangge/ Metrosulawesi)

Bungku, Metrosulawesi.com - Sebanyak 40 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ummah di Desa Topogara Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali terpaksa menggunakan bekas bangunan masjid untuk mengikuti proses belajar. Saat ini, sekolah tersebut belum memiliki gedung.

Di tempat mereka belajar, para murid MI tersebut hanya menggunakan perlengkapan bangku, meja dan papan tulis seadanya yang ke semuanya itu juga diletakan di teras masjid untuk menerima mata pelajaran dari gurunya.

Kepala MI Nurul Ummah Suardi L mengatakan, masalah belum adanya gedung sekolah, pihak sekolah mencoba menjalankan proposal yang dimasukan ke beberapa pihak seperti pada Kantor Kementerian Agama Morowali dan ada ke salah satu anggota DPRD Morowali.

"Bahkan,sampai sekarang ini perihal permohonan bantuan yang diajukan melalui proposal satu persatu belum ada yang direalisasisakan. Bekas masjid mulai ditempati murid MI untuk belajar pada tahun 2015. Pengajar MI berjumlah 7 orang, satu guru PNS dan satu orang tenaga kontrak sisanya honorer," ujar Suardi L, Kamis 16 November 2017.

Tanah masjid sekarang ini sudah ikut menjadi hak milik sekolah yang dibayar ke pemiliknya menggunakan dana hasil swadaya masyarakat dan juga sudah dibangun pondasi gedung sekolah untuk empat ruangan.

"Prosesnya sama, biaya untuk pondasi gedung juga hasil swadaya dari masyarakat. MI ini adalah cabang dari MI Nurul Ummah Lambelu," jelasnya.

Menurut Suardi, sebelum pindah mempergunakan masjid di Desa Topogaro, murid MI awalnya bersekolah di Dusun Polili, di gedung milik pemerintah daerah. Lama kemudian gedungnya akan dijadikan sarana untuk Sekolah Dasar (SD) dan pihak MI memilih pindah.

"Kami juga menempuh usaha agar bisa dibantu dengan mengirimkan proposal sampai ke Arab Saudi. Di DPRD Morowali proposal kami berikan sama anggota dewan bapak Laane," ungkapnya.

Menurutnya pihak sekolah dan murid MI berkeinginan memiliki gedung sendiri  agar dapat menyelenggarakan proses pendidikan seperti halnya pada sekolah-sekolah yang sudah lengkap dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

"Kalau murid MI di sini terdiri dari kelas I sampai kelas VI. Kami sangat berharap sekali yakni bagaimana murid MI bisa menimba ilmu belajar menggunakan ruangan gedung sendiri," imbuh Suardi.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.