Sunday, 22 July, 2018 - 03:35

Nasi Goreng Membawa Petaka

KORBAN KERACUNAN - Dua siswa  SDIT Al Fahmi Palu yang mendapat perawatan di RS Budi Agung, setelah keracunan makanan, Senin 4 Desember 2017. Akibat musibah itu, ratusan anak terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami mual dan muntah-muntah. (Foto : Eddy/ Metrosulawesi)

PERAWATAN KORBAN
  • RS BK 55 anak
  • RS Undata 20 anak
  • RS Anutapura 25 anak
  • RS Budi Agung 30 anak
  • RS Bhayangkara 29 anak
  • RS Wirabuana 19 anak
  • RS Samaritan (belum ada data).

Ratusan Siswa SDIT Al Fahmi Keracunan

Palu, Metrosulawesi.com - Keracunan massal terjadi di SDIT Al Fahmi Palu, Senin 4 Desember 2017. Sekitar ratusan anak mengalami mual hingga muntah setelah menyantap nasi goreng dari sebuah catering yang dibagikan pihak sekolah. Mereka terpaksa dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Palu.

Wakil Kepala SDIT Al Fahmi, Wilda Tislam, mengatakan, sekitar pukul 10.30 Wita, setelah ujian pihak sekolah membagikan katering kepada sekitar 700 siswa.

“Belum ada data pasti berapa jumlah siswa yang mengalami keracunan. Karena tidak semua siswa yang menyantap nasi goreng mengalami keracunan,” kata Wilda.

Sesaat setelah menyantap makanan itu, siswa yang mengalami mual dan munta-munta langsung dilarikan ke sejumlah rumah sakit. Korban keracunan saat ini dirawat di RS Budi Agung, RS Undata, RS Samaritan, RS BK, RS Anatapura, RS Bhayangkara, dan RS Wirabuana.

Muhammad Iksan, salah satu siswa korban keracunan yang dirawat di RS Undata Palu, mengatakan, mengalami sakit perut dan muntah-muntah setelah makan nasi goreng ayam, semangka dan minum air putih.

“Perut saya sakit om, dan muntah-muntah setelah makan,” katanya kepada Metrosulawesi.

Salah seorang siswa juga membenarkan hal itu,

“Iya, memang kita dikasi makan. Tapi saya tadi tidak makan karena saya mau cepat-cepat main bola, makanya saya tidak keracunan,” ujar Moh Farras Kaharuddin. Siswa kelas 5 SD IT Al Fahmi itu mengunjungi adiknya yang juga jadi korban keracunan.

Mendengar siswa keracunan makanan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Royke Abraham langsung menurunkan tim investigasi Dinkes Palu ke lapangan. Tim Dinkes mengambil sample pemeriksaan, baik di kantin sekolah, maupun mengambil sampel muntah dari murid.

“Saat ini (kemarin) telah diperiksa di Balai POM, hasilnya itu biasanya satu minggu baru diketahui, sehingga kami belum bisa menebak (mengira-ngira) penyebabnya dari mana, karena harus dibuktikan dulu hasil sampel dari Balai POM,” katanya.

Royke mengatakan untuk korban meninggal tidak ada, namun empat siswa masuk ICCU di Rs Budi Agung. 

“Informasi yang diperoleh tim kami, penyebabnya setelah makan nasi goreng, sehingga hasil laporan dari tim, dicurigai nasi goreng itu mungkin sudah terkontaminasi mikroba. Karena semua siswa makan, sampai empat siswa kehabisan cairan sehingga masuk ICU,” ujarnya.

Royke berharap keempat siswa yang ada di dalam ICCU segera membaik.

“Barusan ada Informasi membaik karena sudah ada cairan yang masuk. Tetapi pihak Dinkes Palu tetap memantau terus keadaan para siswa tersebut,” ungkapnya.
 
“Yang jelas kami terus telusuri dimana letak terjadinya kontaminasi ini, kesalahannya dimana. Karena selalu kami sampaikan, kantin sehat itu harus bersih, tidak ada lalat, drainasenya bersih, dan lainnya. Sudah disuruh, namun masih ada yang melanggar, maka kami coba turun lagi untuk mencari data yang lebih lengkap,” katanya.

Kata dia, konsep kantin sehat ini harus betul-betul dilaksanakan oleh pihak sekolah.

”Kami hanya mengimbau, menyarankan, menyuruh, membuat dan merehab kantin. Pada kantin sehat, aliran airnya tidak boleh ada berbau, saluran air tidak boleh ada yang tersumbat, sinar matahari cukup masuk, serta lainya perlu diperhatikan,” jelasnya.

“Jangan kantin sehat sekadar menerima makan dari luar, misalnya dibuat oleh orang lain nasi goreng, kemudian langsung dimasukkan ke kantin itu, tanpa dicek dulu. Ini tidak boleh. Harus diteliti, bagaimana rumah tempat nasi goreng tersebut dibuat, dapurnya seperti apa, ini harus diteliti dengan baik, jangan sampai ada lagi yang terjadi keracunan seperti ini,” tegas Royke.

Selain Dinkes Kota Palu, tim dari BPOM juga mendatangi SDIT Al Fahmi untuk mengambil sampel berupa nasi goreng yang disediakan pihak sekolah untuk diteliti penyebab keracunan.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sulteng, Sofyan Lembah mengatakan, pihaknya juga sudah menurunkan tim untuk menyelidiki kasus keracunan itu.

“Pukul 12.30 Wita, tim Ombushman mendatangi rumah sakit-rumah sakit dimana para korban dirawat,” katanya kepada Metrosulawesi.

Berdasarkan hasil monitoring Ombudsman, di RS Budi Agung terdapat 53 siswa dan tiga lainnya mendapat perawatan khusus  di ruang ICU.  Sementara di Rumah Sakit BK berjumlah sekitar 55 orang, di RS Undata sekitar 20 orang, RS Anutapura 25 siswa, RS Budi Agung 30 siswa, RS Bhayangkara berjumlah 29 dan RS Wirabuana 19 orang.  Kecuali di RS Samaritan hingga berita ini naik cetak belum diketahui jumlahnya.

“Kami belum bisa mengeluarkan berapa jumlah pasien keracunan yang dirawat di sini, karena saat ini kami fokus pada penanganan korban,” kata Humas RS Samaritan, Grace.

Hingga pukul 17.30 kemarin, sejumlah siswa masih berdatangan ke rumah sakit. Namun ada pula yang langsung diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatannya memungkinkan. Hingga berita diturunkan tidak diketahui pasti seberapa banyak jumlah siswa yang mengalami keracunan.

“Jumlah datanya secara pasti belum ada, karena ada yang makan nasi goreng, tetapi kondisinya tidak apa-apa,” kata Wakasek, Wilda Tislam.

Menurut Ketua Komite SD IT Al Fahmi Mohammad Rizal, ada sekitar hampir 200-an siswa yang jadi korban keracunan, sebagian besarnya adalah siswa SD. Yayasan Alfahmi sendiri memiliki jumlah murid yang cukup banyak, yakni 730 siswa SD, dan sekitar 200 siswa SMP.

“Yang masuk rumah sakit itu ada 100 lebih tapi tidak sampai dua ratus siswa, itu dari data yang kami dapatkan,” ungkap Mohammad Rizal, Senin 4 Desember 2017.

Terkait kejadian ini, pihak sekolah rencananya akan meliburkan aktifitas sekolah untuk disterilkan usai kejadian tersebut. Dalam komunikasi dengan pihak sekolah, Mohammad Rizal juga mengaku sudah meminta kepada semua guru untuk mendampingi siswa yang masuk rumah sakit. 

Selain itu, ia berharap agar pihak sekolah bertanggung jawab penuh atas kejadian ini, termasuk semua biaya rumah sakit.

“Jadi begini, kita upayakan, barangkali ada orangtua yang pakai uang pribadi, pihak sekolah menyatakan kesanggupan untuk membiayai, tapi kalau ada asuransi dan bisa diklaim, artinya jangan sampai keluarkan uang pribadi. Saya berharap pihak sekolah ambil alih ini,” ujar dia. (mil/del)


Editor : Udin Salim