Tuesday, 23 May, 2017 - 05:32

Nasya, Bayi Mungil yang Jadi “Penghuni” Lapas Palu

BUAH HATI - Melva bersama bayinya saat disambut rombongan anjangsana DP3A Sulteng di Aula Lapas Kelas II A Palu, Rabu, 19 April 2017. (Foto : Even/ Diskominfo)

Perlengkapan Bayi Dibantu Nenek dan Lapas

Palu, Metrosulawesi.com - Melva (30) warga binaan (warbin) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Palu terpaksa harus membesarkan bayi mungil yang baru dilahirkannya 10 hari lalu di Lapas Kelas II A Palu. Meski begitu, menurut pengakuan Melva, ia merasa bahagia karena saat persalinan diberi izin untuk melahirkan di salah satu Puskesmas di Kota Palu oleh pihak Lapas.

“Sebenarnya pihak Lapas juga memberikan pilihan kepada saya untuk merawat sendiri anak saya atau mempercayakan kepada orang tua. Tapi karena mengingat kesibukan orang tua kerja, saya lebih memilih membesarkan anak saya di Lapas,” kata Melva saat ditemui mengikuti kegiatan anjangsana Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulteng di Aula Lapas Kelas II A Palu, Rabu, 19 April 2017.

Melva mengaku, ia jadi bagian penghuni Lapas akibat terjerat kasus penyalahgunaan narkoba bersama suaminya yang diamankan personil kepolisian di Kabupaten Luwuk. Berdasarkan putusan pengadilan, Melva divonis dengan hukuman penjara selama 4 tahun.

Melva mengungkapkan, sebelum akhirnya jadi penghuni Lapas Palu, ia sempat menjalani hukuman di Lapas Luwuk. Namun kemudian, ia bersama suaminya dipindahkan ke Lapas Palu sekitar lima bulan lalu.

“Saya sudah menjalani hukuman satu tahun. Jadi kalau ditambah pengurangan/remisi yang saya terima, sekitar dua tahun lebih lagi saya dengan bapak (suami) di Lapas Palu ini,” tuturnya.

Sejalan itu pula, bisa dipastikan, bayi mungil perempuan yang diberi nama Nasya itu harus turut pula jadi “penghuni” Lapas Palu. Untuk memenuhi perlengkapan bayinya, Melva mengatakan, orang tuanyalah yang membawa saat membesuknya. Namun demikian, menurut penuturan Melva, pihak Lapas Palu juga memberikan bantuan seperti bedak, sabun dan perlengkapan bayi lainnya.

“Kalau saya-kan tidak bisa keluar untuk beli popok, jadi harus dititip sama orang tua saat mereka membesuk,” tandas Melva.

Dengan keberadaan Melva bersama bayinya di tengah-tengah kunjungan DP3A Sulteng saat itu, langsung menjadi perhatian rombongan yang bertujuan memberikan bantuan kepada warbin perempuan dan anak di Lapas Kelas II A Palu dalam rangka memperingati Hari Kartini 2017.

Sementara itu Kepala Lapas Kelas II A Palu Ismono menyatakan, bayi Melva hanya diizinkan diasuh di Lapas maksimal dalam waktu dua tahun.

“Jadi kalau usia bayinya sudah lewat dari dua tahun harus diserahkan kepada keluarga,” ujar Kalapas Ismono.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.