Thursday, 27 July, 2017 - 06:39

Natal dan Tahun Baru, Kebutuhan Uang Kartal di Sulteng Diproyeksi Rp1,1 Triliun

Masril. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Perbankan di Sulawesi Tengah rata-rata memproyeksikan kebutuhan uang kartal masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru sebesar Rp 1,1 triliun. Proyeksi tersebut turun dibandingkan tahun 2015 lalu yang sebesar Rp 1,8 triliun.

Untuk memenuhi kebutuhan uang kartal masyarakat di Sulawesi Tengah, Bank Indonesia (BI) menyiapkan lebih dari angka proyeksi perbankan tersebut demi mengantisipasi permintaan uang kartal menjelang Natal dan Tahun Baru.

“Yang jelas kita menyiapkan lebih dari proyeksi tersebut, dan kita pastikan kebutuan uang kartal masyarakat aman selama Natal sampai Tahun Baru,” ungkap Kepala Tim Sistem Pembayaran Uang Rupiah dan Layanan Administrasi BI Perwakilan Sulawesi Tengah Masril, saat ditemui awal pekan ini.

Antisipasi permintaan uang kartal tersebut sudah dilakukan sejak akhir November lalu. Sesuai dengan proyeksi rata-rata perbankan yang sebesar Rp 1,1 triliun, hingga saat ini BI sudah menyalurkan sebesar 34 persen untuk kebutuhan uang kartal masyarakat.

“Jadi realisasinya sudah 34 persen sejak November. Proyeksi mereka (perbankan) memang turun dari tahun sebelumnya,” katanya.

Proyeksi perbankan terkait kebutuhan uang kartal masyarkat di akhir tahun menurutnya sudah lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sangat tinggi namun realisasinya sangat rendah. Contohnya pada 2015 diproyeksikan sebesar Rp 1,8 triliun namun hanya terealisasi hanya sebesar 51 persen saja.

Dia menyebutkan, kebutuhan uang kartal masyarakat di Sulawesi Tengah dari tahun ke tahun semakin menurun, termasuk menjelang Natal dan Tahun Baru. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh mulai banyaknya masyarkat yang menggunakan sistem transaksi non tunai.

“Permintaan kebutuhan uang kartal memang terjadi penurunan, karena masyarakat kita juga sudah mulai mengenal sistem pembayaran non tunai,” sebutnya.

Bahkan uang keluar saat ini pertumbuhannya tercatat melambat, sementara uang masuk di BI lebih cepat.

“Secara nasional grafik pertumbuhan pembayaran dengan sistem non tunai grafiknya juga terus naik. Ini artinya masyarakat mulai banyak menggunakan non tunai,” kata dia.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.