Monday, 29 May, 2017 - 08:09

Nilai Tukar Petani Sulteng Turun Selama Januari

Palu, Metrosulawesi.com - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama Januari  2016 sebesar 99,09 persen. Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang atau jasa di wilayah pedesaan selama Januari 2016 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah merosot 0,73 persen jika dibandingkan dengan Desember 2015 yang berada di angka 99,82 persen.

“Hal ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,09 persen, berbanding terbalik dengan terjadinya peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,64 persen,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, Faizal Anwar, saat merilis pergerakan ekonomi Sulawesi Tengah, di Kantornya, Senin (1/2/2016).

Menurut Kepala BPS yang baru menjabat beberapa hari itu, penurunan indeks harga selama Januari disebabkan penurunan NTP subsektor hortikultura (3,00 persen), NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (1,62 persen) dan NTP subsektor peternakan (0,69 persen).

Berdasarkan data yang dirilis BPS, Meski mengalami penurunan NTP subsektor hortikultura masih merupakan NTP subsektor dengan NTP tertinggi dengan angka 107,93 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar  92,18 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) Sulteng di Januari 2016 sebesar 107,93 persen atau mengalami perubahan dibandingkan Desember 2015.

Untuk Indeks Harga yang Diterima Petani (It) selama Januari 2016 tercatat 119,76 atau menurun 0,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 119,87. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan It pada hortikultura sebesar 2,11 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,92 persen, dan peternakan sebesar 0,20 persen.

Sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) selama Januari 2016 mengalami peningkatan sebesar 0,64 persen dibandingkan bulan lalu, yaitu dari 120,09 pada Desember 2015 menjadi 120,86 pada Januari 2016. Adapun Subsektor yang mengalami peningkatan Ib meliputi tanaman pangan sebesar 0,74 persen, hortikultura sebesar 0,91 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,71 persen, dan peternakan sebesar 0,49 persen.

Sementara Ib yang mengalami penurunan angka indeks adalah subsektor perikanan sebesar 0,39 persen.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.