Sunday, 22 October, 2017 - 12:32

Nilam Sari: Novati Mengandung Banyak Makna Pembelajaran

Nilam Sari Lawira saat menyaksikan ritual adat Novati di Dusun Lekatu, Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi Selasa, 5 September 2017. (Foto : M Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Dibawah terik matahari menyengat, suasana Dusun Lekatu, Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi meriah dengan suara gimba yang berasal dari tiga rumah di wilayah itu. Pada hari itu, Selasa, 5 September 2017, sebanyak 10 orang warga Lekatu akan menjalani ritual adat Nokeso (Novati).

Seperti layaknya pesta adat lainnya, Novati menjadi daya tarik masyarakat, tak terkecuali istri Anggota DPR RI, Ahmad H. Ali, Hj. Nilam Sari Lawira, M.Si. Menurutnya, keragaman kultur adat istiadat perlu dijaga kelestariannya.

“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Dusun Lekatu yang bisa menjaga kekayaan budayanya. Kedatangan saya karena ingin sekali mengetahui seperti apa ritual Novati dilaksanakan. Ternyata ritual adat ini mengandung banyak makna pembelajaran,” kata Nilam saat ditemui metrosulawesi.

Nilam pun berharap Dusun Lekatu terus menjaga keragaman budayanya.

“Budaya adalah perekat masyarakat. Itu yang saya lihat hari ini di Dusun Lekatu. Insyaallah keragaman budaya ini dapat terus terjaga,” jelasnya.

Novati sendiri secara umum memiliki makna pesta adat yang dilakukan sebagai ungkapan syukur kepada sang Khalik agar kelak anak-anak mereka tumbuh menjadi cerdas, murah rejeki dan bahagia setelah berumah tanggah. Secara khusus, novati juga bermakna prosesi adat melepas masa anak-anak beranjak ke masa dewasa.

Pesta adat ini melibatkan 15 anak-anak laki-laki dan perempuan. Salah seorang tokoh masyarakat Dusun Lekatu, Yulius Linggu (37 tahun) kepada media ini menuturkan novati  adalah warisan budaya suku Kaili sub etnis Daa yang dijalankan secara turun temurun. Tradisi tersebut, lanjut Yulius,masih terpelihara dan hampir setiap tahun dilaksanakan.

’’Yah hampir tiap tahun dilaksanakan tradisi ini. Tahun ini agak banyak dan lebih 10 orang yang ikut. Usianya bervariasi mulai 7 hingga 17 tahun,’’ sebutnya.

Yulius menjelaskan, adat novati memang prosesi adat yang wajib dilalui oleh setiap anak etnis Kaili Daa’. Meski pelaksanaannya memang menyesuaikan kemampuan ekonomi dari kedua orang tua anak tersebut.

Bagaimana halnya jika ada yang melanggar atau mengabaikan adat tersebut. Yulius menjawab ada sanksi yang akan dikenakan bagi pelanggar. Selain tidak akan diperkenankan menikah atau berumah tangga, maka anak tersebut juga akan dikucilkan dari lingkungannya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.