Monday, 1 May, 2017 - 05:00

Error message

  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).
  • Warning: Invalid argument supplied for foreach() in views_join->build_join() (line 1548 of /home/metrosulteng/public_html/profiles/openpublish/modules/contrib/views/includes/handlers.inc).

NTP Sulteng Turun, Tanaman Perkebunan Paling Tergerus

Faisal Anwar. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tengah selama Februari 2017 sebesar 96,28 persen, turun 0,77 persen dibandingkan NTP bulan lalu. Hal ini disebabkan penurunan NTP pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,57 persen, dan subsektor peternakan 0,61 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Faisal Anwar dalam rilisnya mengemukakan dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang dan jasa di wilayah pedesaan selama Februari 2017 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah turun sebesar 0,77 persen, yakni dari 97,03 pada Januari 2017 menjadi 96,28 pada Februari 2017.

Hal ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,26 persen sebaliknya indeks harga yang dibayarkan petani mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen.

Selama Februari 2017, indeks harga yang diterima petani tercatat 121,39 atau turun 0,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 121,70. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan nilai yang diterima petani pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,99 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,26 persen.

Sementara Indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh komponen pengeluaran baik untuk konsumsi rumahtangga maupun fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Indeks harga yang dibayar petani selama Februari 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen dibandingkan bulan lalu, yaitu dari 125,42 pada Januari 2017 menjadi 126,08 pada Februari 2017.

Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan nilai yang harus dibayar petani di seluruh subsektor yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,58 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,43 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,60 persen, subsektor peternakan sebesar 0,34 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,58 persen.

“NTP kita masih di bawah seratus, itu membandingkan antara perubahan harga yang diterima petani dengan harga yang dikeluarkan petani. Dan ternyata masih lebih tinggi yang dikeluarkan petani,” ungkap Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar, Rabu 1 Maret 2017.

“Sektor perkebunan yang banyak mempengaruhi NTP berada di bawah angka 100 dan menurun dibandingkan budan sebelumnya,” tandasnya.

NTP subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,74 persen yakni dari 92,64 pada Januari 2017 menjadi 93,32 pada Februari 2017. Kenaikan NTPP disebabkan oleh kenaikan nialai yang diterima petani tanaman pangan sebesar 1,32 persen lebih tinggi dari kenaikan harga yang harus dibayar petani sebesar 0,58 persen. Kenaikan nilai yang diterima dipengaruhi oleh naiknya indeks harga subkelompok padi-padian sebesar 1,29 persen dan subkelompok palawija sebesar 1,41 persen.

Kenaikan nilai yang dibayar sebesar 0,58 persen yakni dari 128,76 pada Januari 2017 menjadi 129,51 pada Februari 2017, disebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani untuk konsumsi rumahtangga dan biaya produksi masing – masing sebesar 0,53 persen dan 0,79 persen.

Sementara subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP dari 113,79 pada Januari 2017 menjadi 113,93 pada Februari 2017 atau naik sebesar 0,12 persen. Hal ini disebabkan oleh peningkatan nilai yang diterima sebesar 0,55 persen lebih tinggi dari peningkatan nilai yang dibayar sebesar 0,43 persen. Kenaikan nilai yang diterima terjadi pada subkelompok sayur-sayuran sebesar 1,92 persen, sementara subkelompok buah-buahan dan subkelompok tanaman obat mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,53 persen dan 1,61 persen.

Kenaikan nilai yang dibayar sebesar 0,43 persen disebabkan oleh kenaikan indeks harga konsumsi rumahtangga dan biaya produksi masing-masing sebesar 0,50 persen dan 0,17 persen.

“Pada bulan Februari 2017 NTP kita turun, subsektor tanaman pangan meskipun secara umum ada penurunanan namun ternyata naik. Holtikultura juga demikian. Tanaman perkebunan rakyat yang mengalami penurunan yang cukup tinggi,” jelas Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS Sulteng Moh Wahyu Yulianto.

Nilai Tukar Petani sendiri merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan, yang menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.


Editor : Syamsu Rizal

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.