Sunday, 23 July, 2017 - 07:12

NTP Tertinggi Sulteng Pada Subsektor Hortikultura

Palu, Metrosulawesi.com- Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama Oktober   2015 sebesar 98,66 persen, naik 0,16 persen dibandingkan NTP bulan lalu. Hal ini disebabkan Peningkatan NTP subsektor tanaman  pangan (0,13 persen), NTP subsektor hortikultura (0,64 persen), NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,81 persen) dan NTP subsektor perikanan  (0,48 persen).

Indeks harga yang diterima  petani (It) dan indeks harga yang dibayar  petani (Ib) masing-masing naik  0,63 persen dan 0,46 persen.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 109,59 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman pangan  sebesar  92,05 persen. Nilai Tukar Usaha Rumah tangga Pertanian (NTUP) sebesar 105,89 persen, naik 0,97 persen dibandingkan September 2015 yang sebesar 105,29 persen.

 “Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya  produksi,  dan  konsumsi  rumahtangga  terhadap  barang/jasa  di  wilayah  perdesaan selama Oktober 2015 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah meningkat sebesar 0,16 persen, yakni dari 98,50 pada September 2015 menjadi 98,66 pada Oktober 2015,” ungkap Kepala BPS Sulawesi Tengah, Yohanes D Priyono, Senin (2/11/2015).

Hal ini disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,63 persen, lebih tinggi dibandingkan peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,46 persen.

Selama Oktober 2015, indeks harga yang diterima petani tercatat 117,45 atau meningkat 0,63   persen   dibandingkan   bulan   sebelumnya   yang   sebesar   116,72.   Peningkatan   ini disebabkan oleh kenaikan It pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,56 persen, hortikultura sebesar 1,15 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,28 persen, dan perikanan sebesar 0,99 persen.

Indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh komponen pengeluaran baik untuk konsumsi rumahtangga maupun fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian, Indeks harga yang dibayar petani selama Oktober 2015 mengalami peningkatan sebesar 0,46 persen dibandingkan bulan lalu, yaitu dari 118,50 pada September 2015 menjadi 119,04 pada Oktober 2015.

Seluruh subsektor mengalami peningkatan  Ib  meliputi  tanaman  pangan  sebesar  0,43  persen,  hortikultura  sebesar  0,51 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,46 persen, peternakan sebesar 0,42 persen, dan perikanan 0,52 persen.

Di  tingkat  nasional,  NTP  dan  NTUP  masing-masing  sebesar  102,46  persen  dan 108,69 persen. 

NTP  merupakan  persentase  yang  diperoleh  dari  perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan,  yang  menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk  pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani  terhadap indeks harga yang dibayar petani, tanpa memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga. Dengan demikian, NTUP diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi rumahtangga petani terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi. 

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.