Saturday, 25 November, 2017 - 11:40

Nursidah K Bantilan, Raih Doktor Usia 72 Tahun

FOTO BERSAMA - Dr Nursaidah K Bantilan (tujuh dari kanan) didampingi suami dan keluarga foto bersama jajaran tim penguji usai sidang terbuka promosi gelar gelar doktor program Pascasarjana Universitas Tadulako (Untad) di Lantai II Gedung Media Center Untad, Selasa, 31 Oktober 2017. (Foto : Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Angkat Penelitian NTP, Inginkan Kesejahteraan Petani Meningkat

Ungkapan usia tidak jadi penghalang berprestasi terbukti. Adalah Nursaidah K Bantilan yang meraih gelar doktor pada usia 72 tahun melalui sidang terbuka promosi gelar gelar doktor program Pascasarjana Universitas Tadulako (Untad) di Lantai II Gedung Media Center Untad, Selasa, 31 Oktober 2017.

Bagi warga Kabupaten Tolitoli, Dr Nursaidah yang lahir di Luwuk, 23 Agustus 1945 silam bukan sosok yang asing lagi. Apalagi dengan nama besar keluarga bantilan yang melekat dinamanya. Nursaidah sendiri saat ini tengah menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tolitoli.

Di program Pascasarjana Untad semasa kuliah, ia tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2013 dengan mengambil konsentrasi ilmu ekonomi pertanian. Dia menyandang gelar doktor setelah menyelesaikan studi dengan kurun waktu 4 tahun, 2 bulan, dan 27 hari. Masa studi demikian untuk sebuah gelar doktor bisa dikatakan tergolong cepat. Lebih menakjubkan lagi, gelar doktor itu didapatkan dengan indeks prestasi kumulatif 3,91 dan diganjar predikat sangat memuaskan.

Maka tak heran tim penguji yang diketuai Rektor Untad Prof Dr Ir Muhammad Basir SE MS menyampaikan apresiasi kepada Nursaidah. Terlebih gelar akademik prestesius itu diperoleh diusia senja. Karena pada umumnya bagi sebagian besar kalangan usia senja hanya dihabiskan bersama anak dan cucu.

“Alhamdulillah karena rahmat Allah saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik diusia lansia dewasa. Ini semua juga karena berkat dukungan suami, anak, cucu dan keluarga secara umum,” ujar Nursaidah saat ditemui usai mengikuti sidang promosi doktor.

Dengan mengangkat penelitian peningkatan nilai tukar petani (NTP) melalui intensifikasi tanaman padi sawah di Kabupaten Tolitoli, istri Dr Drs H Mohammad Ma’ruf Bantilan MM yang kini menjabat Rektor Universitas Madako itu mengingini kesehjahteraan petani di daerahnya bisa meningkat.

Melalui penilitian itu, fakta penting yang dia temukan bahwa petani yang menggunakan pupuk organik NTP-nya lebih besar dibanding yang menggunakan pupuk an-organik. Hal itu disimpulkan mengacu dari hasil produksi.

Olehnya mantan Kepala Dinas Perkebunan Sulteng periode 1993-2000 itu menyarankan petani kiranya dapat menerapkan intensifikasi pertanian padi dengan menggunakan pupuk organik guna meningkatkan hasil produksi.

“Pemerintah Kabupaten Tolitoli juga agar kiranya dapat mensosialiasikan dan memberikan penyuluhan tentang intensifikasi pertanian dengan menggunakan pupuk organik,” pintanya.

Di hadapan tim penguji yaitu Prof Muhammad Basir, Prof Dr Ir Fathurrahman MP, Prof Dr Ir Masyuri, Prof Dr Ir saiful Darman MP C.EIA, Prof Dr Ir Max Nur Alam MS, Dr Ir Handayani MS dan Dr Ir Ariduddin Lamusa MP, Nursaidah berharap hasil penelitiannya bisa membantu pemerintah setempat dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Sidang terbuka promosi gelar gelar doktor Nursaidah dihadiri keluarga besarnya, termasuk kolega dan kalangan birokrat. Gelar yang diperoleh dituturkannya dipersembahkan kepada almarhum kedua orang tua.

“Gelar ini saya persembahkan kepada almarhum ayahanda H Kashim dan almarhum ibunda Hj Siti Jamilah yang tidak dapat menyaksikan acara yang sangat terhormat ini. Kedua orang tua saya ini semasa hidupnya sangat visioner mengarahkan pendidikan,” ucap Nursaidah dengan menitikkan air mata.

Berbagai ucapan selamat langsung disampaikan para keluarga dan kolega diawali jajaran tim penguji. Ucapan selamat juga turut disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Provinsi Sulteng H Ridwa Mumu yang juga hadir menyaksikan sidang promosi doktor ini.

“Selamat kepada ibu Nursaidah K Bantilan, semangat beliau patut dicontoh oleh generasi yang masih muda seperti kita-kita ini,” ucap Ridwan.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.