Sunday, 22 July, 2018 - 03:08

Oknum Dokter Dituntut 1 Tahun Penjara

Palu, Metrosulawesi.com - Oknum dokter Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu, Heryani Parewasi dituntut dengan pidana penjara selama 1 tahun. Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Negeri Palu, Senin, 14 Mei 2018.

Jaksa Penuntut Umun (JPU), Tigor Alfred dalam tuntutannya mengatakan, terdakwa Heryani Parewasi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP Jo Pasal 361 KUHP yang mengakibatkan pasien Nur Indah Restuwati meninggal dunia. Sehingga, terdakwa Heryani Parewasi dituntut dengan pidana penjara selama 1 tahun.

Bahwasanya, pada Agustus 2017, korban Nur Indah Restuwati masuk rumah sakit dalam keadaan hamil dengan tujuan melakukan pemeriksaan kandungan.

Setelah itu dilakukanlah perawatan inap di rumah sakit. Pada saat itu suami korban Muhammad Ebtawan menggunakan haknya memilih dr Jemy, sp.OG akan menangani istrinya untuk melahirkan. Namun, dr Armin menyampaikan tidak bisa karena tidak memiliki surat pengantar dari dr Jemy dan nanti akan menangani adalah dokter ahli yang bertugas saat itu yakni dr Heryani Parewasi.

Sejak pasien Nur Indah Restuwati masuk di RSU Anutapura dalam kondisi keluar darah bercampur ketuban sampai dilakukan operasi sesar. Terdakwa tidak pernah melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien sebelum dilakukan operasi.

Tindakan terdakwa sebagai dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) sebelum melakukan operasi sesar telah meminta suami korban Muhammad Ebtawan untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Kemudian digabungkan dengan tindakan kontap (ikat kandungan) dengan tulisan tangan dalam satu lembar surat pernyataan.

Padahal, tindakan sesar dan ikat kandungan masing-masing merupakan tindakan medis beresiko tinggi yang memerlukan persetujuan tersendiri. Terdakwa sebagai dokter spesialis kandungan yang sekaligus DPJP bersama tim dokter lainya melakukan operasi sesar dan ikat kandungan.

Selanjutnya, terdakwa juga melakukan tindakan medis lainya berupa kuret terhadap plasenta yang melekat pada dinding dekat bagian bawah rahim. Akan tetapi tindakan tersebut tidak disampaikan kepada keluarga pasien atas tindakan kuratase itu menyebabkan pendarahan aktif. Akibat pendarahan tersebut menyebabkan pasien Nur Indah Restuwati meninggal dunia.

Usai mendengar tuntutan JPU, Majelis Hakim Ketua, Aisa H Mahmud yang didampingi dua Hakim anggota memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan nota pembelaan (pledoi) dan akan dibacakan pekan depan. 


Editor: Syamsu Rizal