Monday, 21 August, 2017 - 01:27

Palu Mural Komunitas dan Aktivitasnya Memperindah Kota

JADI INDAH - Anggota Palu Mural Komunintas berfoto dengan latar belakang salah satu hasil karya mereka. (Foto : Surahmanto S/ Metrosulawesi)

Mengubah Kesan Jorok Jadi Indah dengan Kocek Pribadi

Di beberapa lorong di kota Palu kini sudah tidak terlihat menyeramkan. Di lorong Bakso di Kelurahan Besusu misalnya, gambar-gambar berisi pesan moral itu menghiasi tembok di lorong itu. Berikut laporannya.

PALU Mural Komunitas atau yang biasa disebut tembokers membuat mural di Kota Palu. Mural dibuat merupakan bagian edukasi yang diberikan kepada masyarakat sebagai pesan moral dan menciptakan keindahan Palu.

Saat ditemui Metrosulawesi beberapa hari lalu, Presiden Palu Mural Komunitas, Endeng Mursalin, menyebutkan bahwa mural yang dibuat sebagai bentuk mengubah kesan terhadap Palu yang memiliki lingkungan kotor, agar bisa menjadikan kesan Palu sebagai kota seni.

“Kita membuat tembok-tembok yang penuh dengan coretan-coretan, kita ubah menjadi bergambar dan bercerita, kita membuat pesan untuk masyarakat untuk kita tunjukkan agar masyarakat bisa sadar menjaga lingkungan, pesan untuk pengendara dan pesan moral lainnya,” katanya.

“Berangkat dari niat, kami mencoba membuat gambar agar tembok yang ada di Palu menjadi lebih indah, asri dan memiliki fungsi yang lebih, daripada hanya coretan-coretan yang tidak bermanfaat di tembok. Sehingga kami buatkan gambar dengan seni yang memiliki manfaat,” sambungnya.

Tembokers terdiri dari anggota-anggota yang memiliki keahlian menggambar, dengan terinspirasi komunitas yang berada di pulau Jawa menggambar melalui tembok dan jembatan layang, sehingga tembokers berinisiatif untuk memanfaatkan keahliannya di Palu.

Tembokers sudah membuat beberapa gambar yang tersebar di Palu, di antaranya lorong bakso, bagian jembatan IV dan jalan Gunung Sidole.

Endeng mengungkapkan bahwa mural sangat bermanfaat untuk lingkungsn kota, karena mural juga bisa dimanfaatkan sebagai latar foto bagi masyarakat.

“Kami membuat gambar di lorong bakso, dulu tempat itu sangat jorok dan kotor, tetapi setelah mural selesai kami buat, ternyata sekarang lorong bakso mejadi tempat untuk masyarakat mengambil gambar, foto bersama keluarga sehingga memberikan kesan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.

Endeng juga menjelaskan bahwa mural yang dibuat tanpa bantuan anggaran dari pemkot.

“Anggaran mural berasal dari pribadi, teman-teman yang memiliki sisa cat di rumah kami kumpulkan, ada juga yang simpatik kepada kami. Jadi kami mendapatkan sumbangan dari beberapa orang yang mendukung kegiatan kami,” jelasnya.

“Cat yang kita gunakan merupakan cat berkualitas terbaik, karena mural yang kita buat adalah out door, sehingga membutuhkan biaya yang tinggi, untuk satu warna cat mencapai harga Rp200.000 hingga Rp300.000,” sambungnya.

Tembokers juga menerima pesanan pembuatan gambar kepada masyarakat, sehingga hasil dari mengecat digunakan untuk membuat gambar mural di tembok-tombok pinggir jalan.

Endeng menjalaskan bahwa membuat mural dengan ikhlas, karena keinginannya untuk membuat Palu menjadi sejajar dengan kota-kota besar yang memiliki seni yang tergambarkan dengan lingkungan kota penuh dengan mural seperti Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Endeng juga mengungkapkan bahwa mural bisa digunakan di gedung parlemen ”Bagus untuk gedung parlemen agar memberikan semangat dan inspirasi dalam bekerja,” ungkapnya.

Temboker berharap agar pemerintah bisa bersinergi untuk menjaga lingkungan kota, agar Palu lebih berwarna dengan pesan  moral, sekaligus bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kota.(*)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.