Tuesday, 21 February, 2017 - 15:41

Palu Perlu 2016, Album Pertama Anak Palu yang Go Internasional

Tim Produksi Palu Perlu 2016. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Producer album kompilasi Palu Perlu 2016 Fahmy Arsyad Said mengatakan syukur album pertama anak Palu yang digawangi diapresiasi oleh dunia internasional. Album kompilasi Palu Perlu 2016 berhasil tembus I-TUNES.

“Album kompilasi Palu Perlu 2016 sudah di I-TUNES dan Spotify. Ini album pertama anak Palu yang masuk di I-TUNES. Jadi ini album pertama anak Palu yang dijual secara internasional, semenjak keseniannya Palu berdiri sampai sekarang,” kata Fahmy di Palu beberapa waktu lalu.

Kata dia, quality control sebuah album musik untuk masuk ke I-TUNES terbilang tidak mudah.

“Untuk album musik masuk ke I-TUNES quality controlnya susah. Yang jelas quality musical dan audionya harus standar. Kemudian engagement artisnya itu harus jelas. Sedangkan engagement band yang kami tampilkan di album Palu Perlu 2016 itu kurang di media sosial,” ungkapnya.

“Untungnya engagemen Palu Rekam (komunitas yang menggawangi album Palu Perlu 2016) yang bagus di media. Kalau artis yang di album Palu Perlu 2016 dipilah satu per satu kemudian di masukkan ke I-TUNES, tidak akan masuk, karena dalam situs pencari kawan-kawan artis tersebut tidak masuk. Jadi kampanye Palu Perlu yang digawangi Palu Rekam itu yang menjadi sorotan I-TUNES, sehingga kami bisa masuk,” ungkapnya.

Fahmy mengungkapkan semua produksi rekaman album Palu Perlu 2016 dilaksanakan di Palu.

“Pengerjaan album Palu Perlu 2016 semua dilakukan oleh anak Palu. Audio Enggineer album ini Haris Ilham yang merupakan anak Palu saya kirim ke Yogyakarta untuk menyelesaikan album ini. Apapun hasil dan kualitasnya, yang kerja harus anak Palu,” katanya. 

Fahmy mengatakan pihaknya juga menyiapkan live recording band Palu Perlu 2016.

“Orang tidak tahu bahkan tidak menyangka live recording kami gelar di Taman Budaya Palu. Intinya, kami ingin melaksanakan seluruh produksi Palu Perlu 2016 di Palu. Kota lainnya masih jarang yang punya sistem live recording yang kami tampilkan di Taman Budaya Palu,” ungkapnya.

Sementara itu, Fahmy juga menyayangkan Pemkot Palu kurang mengapresiasi album Palu Perlu 2016.

“Berbagai cara kami coba untuk sekedar diskusi dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak pernah bisa. Saya juga pernah coba melalui Ketua Dewan Kesenian Palu (DKP), karena saya disitu di Komite Musik juga tidak bisa. Namun kami tetap berusaha agar album ini terbit dan laku di pasaran, terutama di Kota Palu. Alhamdulillah, dari 1.600 keping album yang kami buat, sekarang tinggal tersisa kurang lebih 500 keping album,” ungkapnya.

“Bahkan kami coba sampai ke anggota DPRD Palu, Neni Agan dan Mulyadi untuk menfasilitasi ketemu Wali Kota Palu atau Wakil Wali Kota Palu tetap tidak bisa,” kata Public Relation Palu Perlu 2016, M. Rifky Nugraha.

Fahmy mengungkapkan pihaknya juga pernah mencoba agar album Palu Perlu 2016 menjadi cinderamata di Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN).

“Bahkan saya tawarkan logo Palu Rekam di bungkus album Palu Perlu 2016 di ganti dengan logo Pemkot Palu. Kami tidak masalah logo diganti, yang panting karya anak-anak Palu dapat tersebar. Namun tetap tidak bisa, mungkin memang ditakdirkan produksi dan penjualan album ini harus mandiri,” kata Fahmy.

Fahmy mengatakan berbagai metode digunakan pihaknya untuk menjual album Palu Perlu 2016 ke masyarakat Palu.

“Kami ada kotak apresiasi. Bagi perusahaan yang ingin membeli album Palu Perlu 2016 sebanyak 100 keping, kami akan munculkan logo perusahaan tersebut di album Palu Perlu 2016, seperti yang dilakukan Citraland dan Honda. Dengan begitu, perusahaan tersebut dapat menampilkan album Palu Perlu 2016 ke masyarakat ,” katanya.

“Itu yang kami inginkan kepada Pemerintah Kota Palu. Mereka beli beberapa keping, kemudian mempresentasikannya atau menampilkan ke masyarakat. Minimal album ini terdistribusi ke masyarakat. Dan masyarakat bisa tahu bahwa ada album kompilasi musik yang terdiri dari band anak Palu yang semua pengerjaannya juga dilakukan anak Palu,” tambahnya.

Album Palu Perlu 2016 berisi beragam genre musik. Beberapa band menampilkan unsur etnik dan bahasa kaili dalam lagunya. Lirik lagu yang ditampilkan delapan band Palu di album ini, selain mengajak para pendengarnya untuk datang dan menikmati keindahan Palu juga mengandung kritik sosial yang membangun.

Delapan band anak Palu tampil dengan garapan yang apik dalam album ini yakni Salibow Ensamble dengan lagu Patampasu, Buka Pintu-Lampu Kota, Veki n’ Friends- Hey Palu, Jalanan Reggae-Palu Bukan Jakarta, The Box-Bersyukur, Culture Project-Kucinta Negeri Ini Walau Kadang Menjengkelkan, Maracana-Toleransi, dan Nara-Surga di Bumi. Satu bundle album Palu Perlu 2016 dibandrol dengan harga Rp190 ribu bonus topi dan kaos.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan