Tuesday, 21 August, 2018 - 06:31

Parit Bukan Tempat Sampah

Kondisi parit pembuangan di ujung Jl. Danau Talaga dekat perempatan Jl. Sis Aljufri - Jl. Kenduri. (Foto: Adhi Abdhian/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Kondisi parit pembuangan di ujung Jl. Danau Talaga dekat perempatan Jl. Sis Aljufri - Jl. Kenduri terlihat memprihatinkan. Tak terlihat air kotoran hampir bermeter-meter panjangnya. Yang terlihat, sampah yang didominasi plastik. Bau tak enak sangat menyengat. Apalagi warga sekitar juga memplot area samping parit itu sebagai tempat pembuangan sampah.

Aliran pembuangan parit yang berada di sisi kanan jalan itu mengalir menyeberang ke sisi kiri, terus menuju Jl. Sungai Sausu, kemudian terbelah menjadi dua arah. Satu menuju Jl. Sungai Malei – Jl. Sungai Wuno kearah Ujuna hingga menembus sungai Palu, jalur satunya, melewati Jl. Sungai Lariang – Jl. Sungai Sadan hingga akhirnya menuju sungai Palu.

Sayangnya prosesnya tak segampang itu. Buangan sampah termasuk sampah plastik yang menyertai air pembuangan yang konon berasal dari Pasar Inpres Manonda itu suka mampir di beberapa bagian parit. Menumpuk, dan jadi penyebab meluapnya air tanpa harus menunggu turun hujan. Ditambah tingkat sedimentasi yang juga meningkat, tak heran di saat hujan, hampir semua area yang dilewati jalur parit ini, ‘mendadak banjir’.

“Persoalan banjir terutama di musim hujan sudah menjadi perhatian regular kami. Warga Nunu dan sebagai Ujuna, selalu terdampak akibatnya,” ungkap Lurah Nunu, Mohammad Yusuf. 

Warga Nunu tergolong aktif membersihkan sampah di jalur pembuangan Jl. Danau Talaga. Bahkan belum lama ini, atas inisiatif Yusuf, jalur pembuangan itu dikeruk dengan alat berat. 

“Alur pembuangan itu melewati banyak rumah warga. Kalau ada yang tersumbat saat hujan deras, bisa dipastikan yang berada di area rendah seperti Jl. Sungai Sausu, Jl. Sungai Sadan dan sekitarnya, mengalami banjir,” katanya.

Salah satu jenis sampah yang banyak menumpuk di parit itu adalah sampah plastik. Tak mudah hancur, bahkan kerap jadi ‘penampungan’ jenis sampah lain, sampah plastik memang butuh penanganan khusus.

Kasus sampah Jl. Danau Talaga hanyalah satu contoh kecil dari banyak pekerjaan rumah besar Pemkot Palu dalam penanganan sampah. Belum efektifnya Satgas K5 bergerak, minimnya sosialisasi akan penanganan sampah ditambah minimnya kesadaran warga dalam pengelolaan sampah, menjadikan sampah muncul sebagai salah satu persoalan utama kota. 

Lihat saja bagaimana Teluk Palu yang katanya Indah itu, setiap hari harus pasrah dapat setoran entah berapa ton semua jenis  sampah setiap hari. 

Sosialisasi yang minim dan rendahnya kesadaran warga sebenarnya menjadi titik terang, dasar penanganan sampah. Butuh waktu dan disiplin yang tinggi. Bukan perkara mudah, tetapi harus dilaksanakan. 

“Batasan kesadaran warga memang masih minim. Kami bahkan sampai menyiapkan petugas untuk berjaga-jaga untuk menegur dan memberi sangsi bagi warga yang membuang sampah tidak pada waktu dan tempatnya,” ungkap Lurah Ujuna Rusdin, S.Sos.  

Rusdin juga sadar masih banyak warga yang belum bisa dan terbiasa mengolah sampahnya. Padahal, dari situ, tak hanya bisa mendaur ulang. Sampah juga bisa mendatangkan profit.

“Kebanyakan hanya sebatas langsung membuang ke lokasi pembuangan sampah. Nah, dilokasi itulah justru pemulung yang memilahnya,” tambahnya. 

Hingga kini baik kelurahan Nunu dan Ujuna, aktif menyosialisasikan bagaimana mengelola sampah yang baik di semua celah kesempatan. Baik acara formal, acara kelurahan, arahan di puskesmas hingga turun langsung ke rumah warga.

“Permasalahannya, meski sudah kita arahkan, masih ada saja warga yang tetap membuang sampah tidak pada tempatnya akibat faktor kebiasaan. Misalnya membuang langsung ke sungai Palu.” bebernya. 

Terkait ‘impor’ sampah dari Pasar Inpres Manonda, juga diakui oleh Hisyam Baba, S.Sos, M.Si, Kepala Seksi Pengawasan dan Keamanan Pasar Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Palu. 

“Memang meski tak banyak, masih ada pedagang yang belum disiplin dalam membuang sampah. Disitulah tugas kami setiap hari harus mengawasi dan memberi penjelasan pada mereka,” katanya. 

Ditambahkan Hisyam, sudah jelas parit bukanlah tempat sampah. Ia sangat menyayangkan jika ada oknum yang menganggap sebaliknya.

Menurutnya dibanding tahun lalu, tingkat kepedulian pedagang akan penanganan sampah cukup meningkat. Hanya saja, volume sampah dan volume pedagang juga ikut meningkat. 

“Persoalan sampah adalah sebagian dari banyak persoalan yang harus kami tangani di pasar. Semaksimal mungkin jajaran kami berupaya agar sampah pasar tak harus mengalir ke jalur pembuangan warga,” harapnya.   

 

Editor: M Yusuf Bj