Friday, 17 August, 2018 - 17:10

Pariwisata Palu Berpotensi Jadi Destinasi Dunia

Sutrisno, PhD. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Potensi parwisata di Kota Palu dinilai memiliki potensi luar biasa besar untuk dikembangkan, karena memiliki kekayaan yang besar pada segi keindahan alam dan tradisi budayanya.

Demikian dikatakan Budayawan dan Profesor Musik dari Simon Fraser University, Vancouver, Kanada, Sutrisno, Ph.D belum lama ini.

Menurutnya, jika dikelola dengan sistem yang baik, maka Kota Palu dapat menyejajarkan diri dengan beberapa destinasi lainnya di dunia.

“Potensi yang ada di Palu menurut saya luar biasa, tinggal memoles sedikit, baik dari sisi artistik, edukasi dan pariwisata. Kalau sistemnya sudah jadi, saya yakin tidak kalah dengan Hawaii, Shanghai, bahkan Vancouver yang menjadi ikon di Amerika Utara dan pilihan UNESCO sebagai The Best City to Live selama lebih dari dua dekade. Apalagi kekuatan adat yang ada di Palu tidak dimiliki oleh beberapa negara lain, bagi saya itu kekayaan luar biasa yang harus dijaga,” kata Sutrisno saat ditemui usai menghadiri salah satu kegiatan Dinas Pendidikan Kota Palu belum lama ini.

Menurut pria asal Yogyakarta ini, salah satu hal yang menarik untuk dikembangkan di Kota Palu, adalah seni musik tradisionalnya.

Dia mengaku, alat musik khas Kaili yakni lalove dan gimba, memiliki ciri khas dan unsur eksotisme tersendiri, yang disebutnya sebagai mutiara terpendam.

“Dalam hal ini, musik daerah khususnya di Palu belum banyak dikenal di luar, semacam ada unsur eksotisme tersendiri, yang dianggap sebagai mutiara terpendam. Kalau diekspos secara benar dan baik, akan bisa mendatangkan rangsangan yang lebih mengglobal,” jelasnya.

Olehnya, kata Sutrisno, sangat penting langkah yang diambil oleh Pemerintah Kota Palu untuk mengenalkan seni musik tradisi Kaili ke luar negeri. Beberapa waktu lalu, Pemkot mengutus salah seorang seniman asal Kota Palu ke Kanada untuk berkolaborasi bersama para mahasiswa seni musik serta komunitas setempat, untuk mengenalkan alat seni musik tradisional Kaili, khususnya lalove dan gimba.

Hal ini kata Sutrisno, merupakan bagian dari pengembangan interdisciplinary study dan proses kolaborasi antara unsur lokal dan global, yang diharapkan dapat menguntungkan dan diterima oleh semua pihak, baik dari sisi musisi, musikal, sosial, serta edukasional.

Sutrisno yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta juga bercerita, Ia pernah mementaskan lalove di kelas yang diajarnya di Simon Fraser University.

Ternyata, dari pementasannya tersebut, para mahasiswa setempat lalu menganalisa bahwa kekuatan bambu dengan nadanya yang keluar dari lalove tersebut merupakan unsur kekuatan yang luar biasa.

“Begitu juga dengan penggunaan drum, yang jika diistilahkan di Jawa ada gamelan, di Palu ada gimba, di Afrika ada djembe dan lain-lain, itu tampuk kekuasaan musikal ada di situ. Yang lebih menarik, kalau drum digabung dengan lalove atau alat musik lain, menimbulkan semacam terapi atau digunakan untuk penyembuhan, itu luar biasa dari sisi keilmuan dan itu perlu diteliti,” ujarnya.

Hal inilah yang menurutnya, menjadikan Kota Palu layak disebut sebagai pusat laboratorium seni budaya dunia.
“Kenapa dibilang layak, karena banyak hal yang belum terungkap, dan memang banyak sekali yang bisa diungkap. Itu merupakan sumbangsih luar biasa untuk pendidikan dunia,” tegasnya.

Sutrisno yang juga sebagai Konsultan Indonesian Performing Arts and Culture hadir di Palu menghadiri undangan Walikota Palu sebagai bagian dari persiapan Festival Palu Perkusi yang akan diadakan pada Agustus 2018 mendatang.


Editor: M Yusuf Bj