Thursday, 16 August, 2018 - 18:52

Pasien Keluhkan Pelayanan RSU Anutapura

RSU Anutapura Palu, Sulawesi Tengah. (Foto : panoramio.com)

Palu, Metrosulawesi.com – Pasien keluhkan pelayanan Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu. Pasalnya, pasien yang dalam kondisi sekarat tidak segera mendapat pelayanan dari petugas.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang keluarga pasien, Erniyanti kepada Merosulawesi, Minggu (2/8).

Erniyanti mengatakan, pasien atas nama Niti yang dirawat di ruangan Kenari lantai II RSU Anutapura Palu mendapat pelayanan mengecewakan dari perawat yang bertugas pada hari Minggu, (2/8).

Ia menuturkan, sekitar pukul 12.30 wita (kemarin-red), perawat yang piket pada hari itu dipanggil oleh keluarga pasien, karena pasien mengeluh kesakitan akibat aliran infus tidak berjalan. Namun, perawat tersebut tidak segera menangani pasien, yang dalam kondisi sekarat. Perawat itu justru mengomel saat menghampiri pasien, karena penyakit yang diderita pasien ini memang berbau tidak sedap.

Erniyanti menegaskan, meskipun kondisinya parah, seharusnya seorang perawat tidak semestinya bertindak demikian, karena hanya membuat mental pasien dan pihak keluarga semakin lemah.

Ketika infus habis, perawat ini juga tidak segera menggantinya dan justru berkata "Jangan tarik-tarik infus agar tidak segera habis," kata Erniyanti menirukan ucapan perawat tersebut.

Erniyanti mengakui bahwa, pihaknya hanya menggunakan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), tetapi dia berharap janganlah perlakukan seperti itu, karena ini menyangkut nyawa manusia.

"Kami memang menggunakan Jamkesmas, tapi bukan berarti kami diperlakukan seperti ini," ujarnya.

Sebagai warga negara, dia merasa memiliki hak untuk mendapat pelayanan yang sama. Olehnya, dia minta para perawat yang tidak memberikan pelayanan yang sama terhadap pasien, atau perawat yang lamban dalam pelayanan harus ditindak tegas, atau bahkan dipecat agar tidak merugikan pasien.

"Sakit adalah soal nyawa, sekali-kali menyepelekan penyakit berarti bermain-main dengan nyawa pasien," ketus Erniyanti.


Editor : Joko Santoso