Thursday, 16 August, 2018 - 20:10

Pelemahan Rupiah tak Pengaruhi Penjualan Emas

Perhiasan emas. (Foto: Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap naiknya dolar Amerika Serikat tidak mempengaruhi penjualan harga emas di Pasar Bambaru Palu. 

Toko Mega sebagai salah satu yang menjual emas di pasar Bambaru, Fredi mengatakan harga emas cenderung menurun jika dolar menguat. Hal ini disebabkan ramainya orang beralih ke bisnis dolar. Kurs dolar terhadap rupiah berada dilevel Rp. 14. 450 rupiah per satu dolar Amerika Serikat. Hal ini mempengaruhi harga emas dunia. Seharusnya penjualan emas naik, tetapi karena emas luar negeri turun rupiah menjadi merosot. Sehingga, tidak begitu berpengaruh terhadap penjualan.

“Namun, itu biasa tidak pasti. Sebab karena naik dan turunnya harga emas dipengaruhi banyak faktor. Hingga saat ini harga emas cenderung tidak turun. Harga emas dunia jelas berpengaruh, tetapi pengaruhnya tidak begitu signifikan. Karena emasnya turun, nilai rupiahnya anjlok. Tetapi memberikan pengaruh bagi kami seperti biasa saja,” katanya, Selasa (7/8). 

Menurutnya, masyarakat yang membeli maupun menjual perhiasan emas sama seperti hari biasanya. Emas 22 karat sekitar Rp525 ribu, sedangkan emas 23 karat sekitar Rp625 ribu pergramnya. Dengan naiknya Dolar (AS), imbasnya emas kadang naik kadang turun tidak menentu.  

“Selain karena mempengaruhi harga penjualan perhiasan dalam lemari. Emas yang kami jual buatan mesin.  Karena banyak orang yang tidak faham dengan hal itu, kebutuhan masyarakat kebanyakan mengganti model perhiasan saja kalau untuk menjual sangat jarang,” ujarnya.    

Rahim salah satu pedagang  emas kaki lima  di Pasar Bambaru Palu, mengungkapkan hal yang berbeda. Bahwa harga emas diperjual belikan sekarang sesuai ongkos kerja  dan pajak. Sehingga hal tersebut butuh perhatian pemerintah selaku pemegang kendali untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. 

“Sistem yang kita pakai itu dibuka atau emas kami olah kembali dilebur. Tergantung dari model yang mereka bawa. Seperti emas 23 karat dengan kadar 875, K23, A75 biasanya kebanyakan masih buatan mesin. Sedangkan 22 kadarnya 700, tapi kalau 750 kebanyakan emas putih,” ungkapnya.

Sementara retribusi setiap harinya yang dipungut dari pedagang emas kaki lima sekitar Rp. 2 ribu rupiah. Terkadang resiko dari berdagang emas sangat besar, emas yang mereka jual kemari itu barang curian. Maka dari itu pedagang emas kaki lima sudah berhati – hati dalam melakukan pembelian. 

“Dulu dibayar perbulan Rp20 ribu sama pengawas pasar sekarang sudah perhari. Resiko yang paling kami takutkan bila mana emas yang mereka bawa kemari curian. Kami pedagang emas kecil–kecilan dikira penadah barang seperti itu,” tuturnya. 

Lanjut dia, belum lama ini rekan yang satu profesi dengannya tertipu dengan emas curian yang dibawa oleh warga untuk dijual di tempat tersebut. Selain itu, biasa dari dinas terkait juga sering datang memeriksa timbangan emas milik para pedagang emas kaki lima.  

 

Editor: Pataruddin