Friday, 24 November, 2017 - 17:27

Pemda Sulteng Didorong Ubah Pola Belanja

Kepala BI Sulteng, Miyono. (Foto : Dok Metrosulawesi)

Penyaluran di Awal Tahun Lebih Multiplier Effect

Palu, Metrosulawesi.com - Dalam menyalurkan belanja daerah Pemerintah Sulawesi Tengah terbilang lambat, rata-rata penyaluran belanja daerah dilakukan pada akhir tahun. Untuk lebih mendinamisasi perekonomian daerah, pola belanja Pemda tersebut perlu diubah.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah baru saja merilis Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Sulawesi Tengah, Rabu 9 Maret 2017. Pada kajian ekonomi tersebut, realisasi belanja APBD Provinsi Sulawesi Tengah hingga akhir triwulan IV 2016 mencapai Rp 3,18 triliun atau 94,76 persen dari yang dianggarkan sebesar Rp 3,35 triliun.

“Realisasi belanja APBD tersebut mengalami sedikit peningkatan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 94,26 persen,” ungkap Kepala BI Sulteng Miyono.

BI Sulteng mendorong agar pemerintah setempat tidak lagi menunggu akhir tahun untuk melakukan belanja daerah. Selain itu, belanja daerah juga perlu lebih merata.

“Dari aspek keuangan daerah, peran APBD (Provinsi, Kabupaten dan Kota) dan APBN dalam mendinamisasi perekonomian Sulteng perlu lebih merata, serta ditingkatkan penyalurannya di awal tahun anggaran,” ujar Miyono.

Penyaluran anggaran belanja yang lebih merata dan lebih awal menurutnya dapat memberi dampak multiplier effect yang besar bagi perekonomian Sulteng.

Sementara itu, realisasi belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten dan Kota diperkirakan mencapai 80,94 persen.

“Sedangkan realisasi belanja APBN yang dialokasikan di Sulteng mencapai Rp 6,04 triliun atau 84,84 persen dari yang dianggarkan sebesar Rp 7,12 triliun,” jelasnya.

Penyaluran belanja daerah yang rata-rata dilakukan di akhir tahun ini juga berpengaruh pada perkembangan uang masuk dan keluar. Perkembangan aliran uang masuk (inflow) ke Bank Indonesia Sulawesi Tengah sendiri pada triwulan laporan mengalami penurunan, sementara aliran uang keluar (outflow) mengalami peningkatan.

Nominal inflow pada triwulan laporan mencapai Rp 310,047 miliar atau mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya Rp 955,47 miliar. Sedangkan nominal aliran outflow mengalami peningkatan dari Rp 984 milliar pada triwulan III 2016 menjadi Rp 1,76 trilliun pada triwulan laporan.

“Tingginya nominal outflow aliran uang kartal tersebut didorong oleh realisasi APBD Provinsi Sulawesi Tengah yang penyalurannya meningkat menjelang akhir tahun,” katanya.

Selain itu, meningkatkanya aliran outflow disebabkan juga karena tingginya pengeluaran masyarakat terkait dengan perayaan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017.


Editor : Syamsu Rizal

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.