Saturday, 16 December, 2017 - 03:31

Penanda Kota Tua Donggala Mulai Rusak

Rumah panggung peninggalan abad 19 di Kabupaten Donggala yang mulai rusak dan tidak terawat, Jumat (20/11/2015). (Foto : Metrosulawesi/Jose Rizal)

Pemkab Diminta Selamatkan Bangunan Tua

Donggala, Metrosulawesi.com - Rumah panggung peninggalan abad 19 di Kabupaten Donggala itu tampak mulai rusak tidak terawat, Jumat (20/11/2015). Pemerintah diminta segera mengambil alih pengelolaannya guna mendukung pencanangan Donggala sebagai Kota Wisata.

Sebagai penanda kota tua, situs-situs yang memiliki nilai sejarah adalah haritage (warisan) budaya yang harus tetap dijaga karena berfungsi penting dalam membangun peradaban modren. Bila haritage itu tidak segera diselamatkan, jejak sejarah Donggala akan samar dan akhirnya hilang tergusur.

Zulkifly Paggesa, praktisi seni dan arsitektur Donggala kepada Metrosulawesi mengatakan, situs-situs bersejarah yang bertebaran di kota Donggala saat ini harus segera diselamatkan. Dia mendesak pemerintah daerah Donggala untuk mengambil langkah kongkret guna menyelamatan situs-situs bersejarah di kota tua itu.

“Dalam beberapa tahun ke depan, kota Donggala akan kehilangan identitas bila pemerintah daerah membiarkan situs-situs budaya bernilai sejarah itu terutama peninggalan kolonial,” katanya belum lama ini.

Senada dengan Zulkifly, seorang seniman kota Donggala, Johar Azahar Malik juga menyatakan keprihatinan terhadap terlantarnya situs-situs sejarah itu. Menurutnya, kalau pemerintah daerah tidak secepatnya melakukan penyelamatan situs-situs budaya, lambat laun akan punah.

“Selama ini masih sebatas identifikasi dan pendataan, tapi belum dalam bentuk pengelolaan sebagai destinasi budaya. Padahal situs-situs itu bisa menjadi bagian dalam agenda kunjungan wisata,” kata Johar.

Dia menuturkan, Donggala sebagai kota tua mememiliki keistimewaan dibanding kota-kota lainnya di Sulawesi Tengah, sehingga sangat disayangkan bila tidak secepatnya dilakukan penyelamatan yang diikat dengan regulasi.

Sementara, Ketua Dewan Kesenian Donggala (DKD) Tanwir Pettalolo mempertanyakan komitmen pemerintah daerah Kabupaten Donggala terkait penyelematan situs-situs sejarah dan budaya di kota Donggala.

Sebab menurutnya, sampai saat ini belum ada satu pun situs sejarah dan budaya yang betul-betul terkelola dengan baik yang  dibarengi dengan regulasi yang mengatur untuk perlindungan untuk dikelola sebagai destinasi wisata budaya.

Pelukis lulusan IKJ itu mengatakan, ketika pemerintah daerah sudah mencanangkan program Donggala sebagai kota wisata dan budaya, maka harus dibarengi dengan tindakan realitas dalam bentuk pengelolaan situs-situs benda cagar budaya. Di antaranya berupa revitalisasi bangunan-bangunan tua yang bernilai sejarah yang menjadi saksi bisu akan perkembangan Donggala dari zaman kolonial hingga kemerdekaan hingga masa kini.

“Kenyataannya hingga saat ini, situs-situs sejarah yang ada di kota Donggala mulai hancur tak terpeliharan. Salah satunya bekas gudang kopra (PKKD) yang kini dalam penguasaan orang perorang. Kini sudah saatnya ada kejelasan dan keseriusan pemerintah untuk mengambil alih situs itu sebagai cagar budaya seiring akan dicanangkanya Donggala sebagai kota wisata,” ujarnya.


Editor : Syamsu Rizal

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.