Saturday, 26 May, 2018 - 00:59

Pencurian Besi Tower, Sebagian Palu Terancam Padam

Konferensi Pers di kantor AP2B Minahasa, Rabu, 7 Maret 2018. (Foto: M Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Pencurian besi tower di wilayah Sidera, Kabupaten Sigi meresahkan PLN Area Palu. Sebanyak 11 tower yang besinya dicuri oleh orang tak dikenal.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada Polres Sigi sebanyak empat kali. Terbaru, kejadian pencurian besi tower ini dilakukan dua hari lalu. Ini sangat mengkhawatirkan, karena jalur tower yang dicuri mengangkut daya listrik dari PLTA Sulewana Poso,” kata Asisten Manager Operasi 2 Sulteng, AP2B Minahasa, Mudjoko di Palu, Rabu, 7 Maret 2018.

Kata dia, meskipun jalur tersebut tanggungjawab AP2B Minahasa, namun akan merugikan kelistrikan di wilayah PLN Area Palu.

“Yang paling parah kejadian pencurian dua hari lalu,dimana dalam satu tower, sebanyak 65 batang besinya di curi. Kurang  lebih seperempat besi hilang dari satu tower tersebut,” ungkapnya.

“Pencurian besi ini dimulai dari tower 4 sampai tower 11. Kurang lebih 200 batang besi tower yang telah dicuri. Namun ditambah dua tower dua hari lalu, berarti sebanyak 11 tower yang besinya dicuri. Jika seperempat besi dalam satu tower sudah hilang, maka konstruksi tower tersebut pasti akan lemah, tidak kuat. Jadi tower itu sangat mungkin tumbang kalau ada angin kencang maupun gempa,” katanya.

Mudjoko mengatakan kejadian pencurian besi tower ini di mulai dari September 2017.

“Mulai September, Oktober dua kali pencurian tower, dan Desember,” katanya.

Mudjoko mengungkapkan hingga saat ini kasus ini masih dalam penyidikan pihak Polres Sigi.

“Tower ini dibangun pada 2013. Tim pengawas ada, yaitu mandor line, yang melakukan pengecekan tower,” katanya.

Mudjoko mengimbau kepada warga yang berada di wilayah tower PLN berdiri untuk membantu pihaknya mengawasi keberadaan tower tersebut.

“Jadi 11 tower ini sudah beroperasi. Kejadian ini akan sangat berdampak pada sistem operasional kelistrikan di Kota Palu,” katanya.

“Jalur ini adalah jalur pengambilan daya dari PLTA Sulewana untuk menyuplai listrik di Kota Palu. Jadi jika terjadi gangguan, mislanya dengan robohnya tower ini, dampaknya sebagian Kota Palu akan padam, Tawaeli dan Kabupaten Parigi kemungkinan besar padam total,” katanya.

Mudjoko menjelaskan jika tower tersebut roboh, maka akan memakan waktu 10 hari untuk perbaikannya.

“Sekali lagi, jika tower ini roboh, maka sebagian Kota Palu, Tawaeli dan Kabupaten Parigi sudah pasti akan padam total,” ungkapnya.

Mudjoko mengungkapkan untuk perbaikan satu tower memakan biaya kurang lebih Rp1 miliar.

“Kalau terjadi pemadaman di Kota Palu, maka kami tidak bisa menyuplai daya sekitar 24 MW. Jadi dalam sehari kerugian PLN kurang lebih Rp800 juta,” jelasnya.

Namun, kata Mudjoko, yang sangat terkena dampaknya adalah masyarakat.

“Ini pasti. Karena jika satu tower roboh, misalnya tower 4, pasti akan berpengaruh pada tower 3 dan tower 5. Apalagi jika tower 3 tersebut juga ikut bengkok, maka perbaikannya akan memakan waktu lama,” jelasnya.

“Sekali lagi kami mengimbau kepada masyarakat, khususnya masyarakat sekitar tower, untuk membantu pengawasan. Karena kejadian ini akan sangat merugikan masyarakat. Namun jika besi-besi tower ini dijual ke penadah, pasti langsung bisa dikenali, karena ada kode pada besi tower itu,” katanya.