Sunday, 25 June, 2017 - 20:28

Penderita ISPA di Tawaeli Meningkat

ILUSTRASI - ISPA. (Grafis : Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Rekapitulasi data Dinas Kesehatan Kota Palu, warga penderita ISPA yang berobat ke Puskesmas Tawaeli tiap tahunnya mengalami peningkatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Royke Abraham, Kamis, 9 Maret mengatakan, kurun beberapa tahun terakhir, trend penderita ISPA di Puskesmas Tawaeli mengalami peningkatan. Kondisi ini disebabkan kondisi udara yang dihirup warga tidak sehat.

Royke enggan memastikan korelasi langsung fly ash PLTU Mpanau penyumbang terbesar penderita ISPA. Dirinya hanya menegaskan kondisi udara tercemar selalu menjadi sumber utama penyebab penyakit pernapasan tersebut.

“Apakah PLTU Mpanau mempunyai andil dalam peningkatan penderita ISPA saya rasa perlu dilakukan penelitian oleh instansi berwenang,” kata Royke di ruang kerjanya belum lama ini.

Menurutnya, Dinas Kesehatan Kota Palu tidak memiliki otoritas melaksanakan penelitian kualitas udara di areal PLTU Mpanau, karena itu menjadi kewenangan Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Kota Palu.

Kata dia, Dinas Kesehatan hanya bertugas mencegah meluasnya segala jenis penyakit di tengah masyarakat. Untuk ISPA di Tawaeli, tim kesehatan selalu rutin melakukan sosialisasi cara pencegahannya, salah satunya dengan menggunakan masker.

“Kami sudah pernah membagikan masker secara gratis di seputaran areal PLTU Mpanau guna mencegah gangguan pernapasan, harapannya setelah itu masyarakat dapat melanjutkannya sendiri. Sebab Dinas Kesehatan juga memiliki keterbatasan kalau terus membagikan masker secara gratis,” kata pria berkacamata ini.

Selain penyakit ISPA, penyakit alergi kulit juga mengalami peningkatan di Puskesmas Tawaeli. Pola hidup ditambah kondisi lingkungan kurang sehat menjadi penyebab penyakit ini. Dirinya berharap masyarakat lebih memperhatikan pola hidup dan menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat.

Royke juga tidak mau menyimpulkan penyebab alergi kulit akibat limbah PLTU Mpanau yang dibuang langsung ke media lingkungan. Untus memastikan itu perlu dilakukan penelitian mendalam.

“Soal tercemarnya air laut dan sungai penyebab alergi kulit kami tidak bisa memastikan, perlu penelitian khusus mengenai hal itu,” kata Royke.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) membeberkan sejumlah pelanggaran yang dilakukan PT Pusaka Jaya Palu Power (PJPP) selaku pengelola PLTU Mpanau.   

KLH merilis jika PLTU Mpanau tidak memiliki Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Air limbah yang berasal dari oily water, blow down cooling tower, air bahang, water treatment plant dibuang langsung ke laut, sedangkan air limbah yang berasal dari blow down boiler dan stockpile batubara dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan terbih dahulu.


Editor : M Yusuf BJ

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.