Thursday, 23 November, 2017 - 06:24

Pengangguran di Sulteng Berkurang

ILUSTRASI - Pengangguran. (Grafis : liputan6.com)

Pekerja Sulteng Kebanyakan Berpendidikan SD

Palu, Metrosulawesi.com - Keadaan ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah pada setahun terakhir menunjukkan adanya perkembangan ke arah positif yang digambarkan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja maupun jumlah penduduk bekerja dan penurunan tingkat pengangguran.

“Hal ini menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan yang ada telah menyerap banyak penduduk usia kerja masuk dalam bekerja, yang ditunjukkan dengan menurunnya angka penganguran,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Sarmiati, Jumat 5 Mei 2017.

Jumlah angkatan kerja pada Februari 2017 bertambah sebanyak 47.594 orang dibanding keadaan Agustus 2016 dan bertambah sebanyak 62.342 orang jika dibandingkan keadaan Februari 2016.

Penduduk yang bekerja pada Februari 2017 bertambah sebanyak 50.979 orang dibanding keadaan Agustus 2016, dan bertambah sebanyak 67.722 orang jika dibanding keadaan setahun yang lalu (Februari 2016).

Sementara jumlah penganggur pada Februari 2017 mengalami penurunan yaitu sebanyak 3.385 orang jika dibanding keadaan Agustus 2016, dan berkurang sebanyak 5.380 orang jika dibanding keadaan Februari 2016. Dalam setahun terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami kenaikan sebesar 1,67 persen.

“Struktur lapangan pekerjaan pada Februari 2017 tidak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan Februari 2016. Pada Februari 2016, tiga besar penyumbang penyerapan tenaga kerja secara berurutan didominasi oleh sektor Pertanian, Perdagangan, Rumah makan dan Jasa Akomodasi dan Jasa kemasyarakatan, pada Februari 2017, hanya bertukar tempat antara penyumbang tenaga kerja ke dua dan ke tiga, sehingga menjadi Pertanian, Jasa Kemasyarakatan, dan Perdagangan, Rumah makan dan Jasa akomodasi,” katanya yang mendampingi Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar saat merilis data statistik di kantornya.

Jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2016, jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan pada 4 (empat) sektor yakni Sektor Pertanian sebanyak 79.364 orang (12,59 persen), sektor Pertambangan dan Penggalian sebanyak 5.536 orang (19,31 persen), sektor Industri sebesar 16.476 orang (21,47 persen), dan sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan perorangan sebanyak 17.882 orang (6,63 persen).

Sedangkan yang mengalami penurunan adalah Sektor listrik, Gas dan Air Minum sebanyak 1.160 orang (23,72 persen), Kostruksi sebanyak 550 orang (0,77 persen), Perdagangan, rumah makan dan Jasa Akomodasi sebanyak 28.727orang (10,26 persen), sektor Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi sebanyak 4.688 orang (9,24 persen), dan sektor Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan sebanyak 16.411 orang (53,04 persen).

Pada Februari 2017 sebanyak 477.124 orang (31,58 persen) bekerja pada kegiatan formal dan 1.033.658 orang (68,42 persen) bekerja pada kegiatan informal. Dalam setahun terakhir (Februari 2016-Februari 2017), penduduk bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap bertambah 21.065 orang dan penduduk bekerja berstatus buruh/karyawan bertambah sebanyak 19.924 orang. Keadaan ini menyebabkan jumlah pekerja formal bertambah sekitar 40.989 orang dan secara persentase pekerja formal naik dari 30,22 persen pada Februari 2016 menjadi 31,58 persen pada Februari 2017.

Komponen pekerja informal terdiri dari penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di non pertanian dan pekerja keluarga/tak dibayar. Dalam setahun terakhir (Februari 2016-Februari 2017), pekerja informal secara absolut bertambah sebanyak 49.318 orang, dan secara persentase berkurang dari 69,78 persen pada Februari 2016 menjadi 68,42 persen pada Februari 2017.

Penurunan ini berasal dari penduduk yang bekerja dengan status pekerja berusaha sendiri yang berkurang sebanyak 53.679 orang dan yang berstatus pekerja bebas di non pertanian yang berkurang sebanyak 174 orang atau secara persentase turun sebanyak 1,36 persen point. Hal ini dikarenakan pada bulan Februari –Maret 2017 adanya musim panen dan musim tanam, sehingga pekerja dengan status berusaha sendiri dan pekerja bebas di non pertanian, beralih status pekerjaan menjadi berusaha dibantu buruh tidak tetap/ tidak dibayar di sektor pertanian, maupun menjadi pekerja bebas di pertanian.

Secara umum, komposisi jumlah penduduk yang bekerja menurut jam kerja seluruhnya selama seminggu yang lalu tidak mengalami perubahan berarti dari waktu ke waktu. Penduduk yang dianggap sebagai pekerja penuh waktu (full time worker), yaitu penduduk yang bekerja pada kelompok 35 jam ke atas perminggu.

Pada Februari 2017 jumlahnya mencapai 915.330 orang (60,59 persen). Sementara itu, dalam setahun terakhir pekerja tidak penuh (jumlah jam kerja kurang dari 35 jam per minggu) bertambah sebanyak 61.915 orang dibandingkan Februari 2016 menjadi 595.452 (39,41 persen) atau mengalami penambahan 11,60 persen. Di samping itu, penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam perminggu pada Februari 2017 mencapai 176.165 orang (11,66 persen).

SMA Paling Banyak Menganggur

Penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2017 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah yaitu SD ke bawah sebanyak 691.307 orang (45,76 persen) dan Sekolah Menengah Pertama di peringkat ke dua sebanyak 275.357 (18,23 persen) , Sekolah Menengah Atas diurutan ke tiga, sebanyak 271.030 orang (17,94 persen), dan Sekolan Menengah Kejuruan sebanyak 112.424 (7,44 persen) Penduduk bekerja berpendidikan tinggi sebanyak 160.644 orang mencakup 35.089 orang (2,32 persen) berpendidikan Diploma dan sebanyak 125.575 orang (8,31 persen) berpendidikan Universitas.

Perbaikan kualitas penduduk yang bekerja ditunjukkan oleh kecenderungan menurunnya penduduk bekerja berpendidikan rendah (SMP ke bawah) dan diiringi meningkatnya penduduk bekerja berpendidikan tinggi (Diploma dan Universitas). Dalam setahun terakhir, penduduk bekerja berpendidikan rendah naik secara jumlah, namun menurun secara persentase yaitu dari 932.673 orang (64,63 persen) pada Februari 2016 menjadi 966.664 orang (63,98 persen) pada Februari 2017.

“Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan bahwa pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi mulai mendapatkan lapangan pekerjaan. Penduduk bekerja berpendidikan tinggi di Sulawesi Tengah, naik dari 152.347 orang atau 10,56 persen pada Februari 2016 menjadi 160.664 orang atau 10,63 persen pada Februari 2017,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah Sarmiati.

Jumlah pengangguran pada Februari 2017 mencapai 46.317 orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 2,97 persen, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan TPT Februari 2016 ( 3,46 persen) , dan turun jika dibandingkan TPT Agustus 2016 ( 3,29 persen).

Pada Februari 2017, TPT untuk pendidikan SMA Umum menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 5,33 persen, disusul oleh TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 5,12 persen, sedangkan TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan Universitas yaitu sebesar 1,04 persen. Jika dibandingkan keadaan Februari 2016, TPT pada tingkat pendidikan tertentu mengalami fluktuasi.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.