Sunday, 25 June, 2017 - 20:13

Penghasilan Rp200 Ribu, Kuliahkan Anak hingga Sarjana

KARTINI SULTENG - Sitiarah dan Hamda (kerudung kuning) diapit dua wanita penerima penghargaan lainnya yang diserahkan langsung Gubernur Sulteng H Longki Djanggola pada Peringatan Hari Kartini ke-138 di Hotel Mercure, Jumat, 21 April 2017. (Foto : Humas Pemprov)

Sitiarah-Hamda, Dua Sosok Kartini Masa Kini

Melihat anak berhasil dimasa muda tentu menjadi impian semua orang tua. Keberhasilan bisa diraih dengan berbagai upaya, salah satunya lewat dunia pendidikan. Hal inilah yang tengah dirasakan Hamada dan Sitiarah dua sosok ibu yang bisa disebut Kartini masa kini berjuang meyekolahkan anaknya meski berpenghasilan pas-pasan.

HAMADA dan Sitiarah dua dari empat sosok ibu yang diberi penghargaan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dalam memperingati Hari Kartini ke-138 Tingkat Sulteng atas keberhasilan meyekolahkan anak dalam keadaan keterbatasan materi.

Ditemui usai menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sulteng H Longki Djanggola di Hotel Mercure, Jumat, 21 April 2017, Sitiarah bercerita lima orang anaknya yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan saat ini telah memiliki penghasilan dengan pekerjaan masing-masing.

Dua anak laki-lakinya kini mengabdi di korps kepolisian bertugas di Polres Poso. Satu anak laki-lakinya lagi memilih berdinas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng. Sementara dua anak perempuannya bekerja sebagai guru dan pegawai di Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu.

“Yang Polisi itu sarjana lulusan dari perguruan tinggi Manado. Sekarang mereka berdua tugas di Poso,” kata Sitiarah.
Dengan pekerjaaan yang dimiliki anak-anaknya, ibu renta yang telah berusia 64 tahun itu berjuang seorang diri sejak 10 tahun terakhir setelah kepergian suami tercintanya menghadap sang ilahi.

Penghasilan yang dimilikinya hanya berkisar Rp200 ribu perhari dengan berjualan nasi kuning dan jajanan kue di SDN Perumnas Palu kompleks dimana dia membesarkan anak-anaknya. Dalam keterbatasan itu, dengan mantab Sitiarah mengatakan komitmen utamanya hanya satu agar anak-anaknya bisa hidup lebih layak tidak seperti yang dirasakannya.

“Tidak ada harta saya, tapi karena ada kemauan besar Allah menunjukkan jalan. Jangan mereka seperti saya lagi. Alhamdulillah sekarang anak-anak sudah menikah semua dan memiliki pekerjaan,” tuturnya.

Meski anak-anaknya sudah memiliki penghasilan, Sitiarah mengaku hingga kini masih tetap berjualan nasi kuning dan jajanan kue untuk memenuhi kebutuhan cucunya yang sedang kuliah disalah satu perguruan tinggi di Palu.

“Sekarang saya hanya berdua sama cucu. Dia saya kasih kuliah juga sudah semester enam sekarang,” tandas Sitiarah yang kini tinggal di Perumahan Albano, Desa Tinggede, Kabupaten Sigi.

Cerita serupa juga disampaikan Hamda kepada Metrosulawesi sesaat ketika ia hendak meninggalkan Hotel Mercure setelah usai mengkuti proses penyerahan penghargaan. Memiliki delapan orang anak, Hamda mengungkapkan hanya satu anaknya yang tidak mengecam dunia pendidikan. Enam anaknya berhasil ia perjuangkan hingga jenjang SMA dan satu jenjang sarjana. Adapun biaya sekolah anaknya ia peroleh dari hasil berjualan kelapa dan ikan segar di Pasar Inpres Palu dengan tidak menetap tergantung keramaian pengunjung pasar.

Selain itu, Hamada dibantu anak keduanya yang bergabung di kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan anak ketiganya yang bekerja di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palu.

“Ada juga anak saya sebagai Satpol PP. Kalau yang sarjana sementara menunggu panggilan karena sudah  memasukkan lamaran ke PLTU Mpanau,” tuturnya.

Dengan usia yang telah menginjak 57 tahun saat ini, Hamda mengaku tidak intens berjualan lagi karena fokus menjaga beberapa cucu yang tinggal bersamanya. Sedangkan suaminya, almarhum Hamri telah berpulang sejak tahun 1999 dengan pekerjaan karyawan meubel semasa hidup.

Hamda menambahkan, perjuangan terberat yang ia rasakan ketika anaknya ingin mengikuti prosesi wisuda dengan beban biaya yang harus dibayar mencapai Rp7 juta rupiah. Tapi berkat bantuan dari anak-anaknya yang telah terlebih dahulu memiliki pekerjaan, biaya wisuda tersebut dapat terpenuhi.

“Sebenarnya saya tidak mau menerima penghargaan ini, jangan nanti dibilang cari nama karena bisa menyekolahkan anak,” kata Hamda mengakhiri perbincangan. (*)


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.