Friday, 31 March, 2017 - 00:54

Pentingnya Menggunakan Uang Rupiah dalam Setiap Transaksi

FOTO BERSAMA - Wartawan dari berbagai daerah foto bersama di sela-sela kegiatan Temu Wartawan Daerah Bank Indonesia 2016 di Gedung Bank Indonesia, Selasa 4 Oktober 2016, di Jakarta. (Foto : Ist)

Menolak Uang Logam yang Berlaku Bisa Dipidana

UNTUK menstabilkan nilai mata uang rupiah, Bank Indonesia (BI) melakukan berbagai cara, di antaranya dengan upaya sosialisasi agar setiap transaksi di Indonesia selalu menggunakan mata uang rupiah agar nilainya tetap stabil.

Deputi Direktur Kepala Distribusi Uang Departemen Pengelolaan Uang BI, Asral Mashuri, mengakui di sejumlah daerah di Indonesia masih ada masyarakat yang terbiasa bertransaksi dengan menggunakan mata uang asing. Masyarakat yang melakukan transaksi dengan mata uang asing biasanya mereka yang berdomisili di daerah ramai wisata internasional dan di daerah perbatasan.

Nilai tukar rupiah adalah salah satu hal yang menentukan pergerakan perekonomian Indonesia. Sebagian orang bahkan menyebut saat ini uang telah merajai segala hal. Di Indonesia sendiri mata uang yang dikenal adalah rupiah.

Sayangnya, nilai mata uang rupiah terbilang sangat rendah nilainya jika dibandingkan dengan mata uang asing, dan hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab perekonomian bisa anjlok.

Sejak krisis moneter menimpa Indonesia pada 1998 lalu, nilai tukar rupiah ke mata uang asing cenderung rendah. Untuk menjaga kestabilan rupiah, dibutuhkan kepedulian seluruh masyarakat dalam memberlakukan rupiah sebagai alat transaksi.

“Rupiah merupakan salah satu lambang kedaulatan Indonesia, sehingga kita harus menjaga keutuhan dan nilai mata uang rupiah,” kata Asral pada kegiatan Temu Wartawan Daerah Bank Indonesia 2016 di Gedung Bank Indonesia, Selasa 4 Oktober 2016, di Jakarta.

Menurut dia, nilai tukar rupiah punya peranan penting dalam pergerakan ekonomi Indonesia apakah akan turun atau naik. Penurunan dan kenaikan perekonomian Indonesia bisa dilihat dari pergerakan nilai mata uang rupiah. Dampaknya sendiri berpengaruh terhadap domestik dan Internasional.

Untuk menjaga kestabilan perekonomian Republik Indonesia yang bergantung pada stabilitas dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, diharapkan masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air mampu untuk menjaga nilai rupiah dengan menghargai, menjaga dan selalu menggunakan rupiah sebagai alat bertransaksi.

Ia menyebutkan, ketika masyarakat lebih senang bertransaksi dengan menggunakan mata uang asing maka akan berdampak kepada nilai mata uang rupiah yang seharusnya dibanggakan sebagai lambang kedaulatan NKRI.

“Jadi, selain menjaga agar fisik rupiah tetap utuh, kita juga harus menjaga nilai rupiah tetap tinggi dengan selalu melakukan transaksi menggunakan rupiah, bukan dengan menggunakan mata uang asing,” katanya.

Ia mengimbau agar masyarakat mau peduli, karena bagi masyarakat yang menolak menggunakan uang rupiah di wilayah Indonesia juga dapat dikenai pidana sesuai UU no 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
Penolakan menggunakan uang rupiah yang dimaksud diantaranya penolakan terhadap transaksi menggunakan uang logam yang masih berlaku.

“Selama uang rupiah tersebut masih berlaku, maka tidak boleh ditolak oleh siapapun,” jelas Asral.

Selain berbicara terkait pentingnya mata uang rupiah terhadap perekonomian, Asral juga berbagi cerita terkait bagaimana proses diterbitkan, diedarkan, hingga ditarik dan dimusnahkannya mata uang rupiah.

Berdasarkan amanat UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang (pasal 13), sebelum melakukan pencetakan uang  Bank Indonesia melakukan perencanaan dan penentuan jumlah rupiah dihitung antara lain berdasarkan kepada asumsi makro ekonomi (pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar, dan suku bunga) dan perkiraan jumlah rupiah yang tidak layak edar yang akan ditarik dan dimusnahkan.

Kemudian BI melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam perencanaan dan penentuan jumlah rupiah yang akan dicetak periode tertentu.

BI juga melakukan survei kepada stakeholder terkait (masyarakat umum, perbankan, institusi, pengusaha, dan instansi atau lembaga) untuk memenuhi kebutuhan komposisi pecahan mata uang rupiah.

Setelah diterbitkan dan dicetak oleh badan usaha negara yang dilakukan di dalam negeri, BI kemudian mengedarkan ke seluruh wilayah di Indonesia sesuai kebutuhan jumlah uang beredar. Pengedaran uang rupiah dilakukan BI bekerjasama dengan perbankan, dan juga melakukan layanan kas keliling secara rutin ke daerah-daerah terpencil dan perbatasan NKRI.

Setelah mata uang rupiah dengan pengeluaran emisi tertentu dinyatakan sudah tidak berlaku ataupun tidak layak edar (sobek, dll), maka BI akan melakukan penarikan kemudian dimusnahkan dan diganti dengan uang rupiah baru.

“Jadi, Pertumbuhan naik maka kebutuhan uang pasti akan naik,” ungkap Asral.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.