Thursday, 16 August, 2018 - 18:48

Perayaan Idul Fitri Bukan untuk Hura-Hura

Dr H Zainal Abidin, MAg. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Inti orang yang melaksanakan Idul Fitri, sebenarnya bersyukur atas segala nikmat dan karunia Allah Swt, lebih khusus lagi karena baru saja melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya, selama di bulan Ramadan. Maka tentunya harus mensyukuri rahmat dari Allah Swt.

Demikian dikatakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin M Ag, kepada Metrosulawesi, di ruang kerjanya, Selasa, 5 Juni 2018.

“Bentuk kesyukuran itu sebenarnya kita tunjukkan pada salat Idul Fitri, kita datang berbondong-bondong ke tempat tertentu atau lapangan dan masjid, dalam rangka ingin membuktikan kepada Allah Swt, kami orang yang bersyukur atas kehadirat-Mu, karena sudah selesai beribadah khusus di bulan Ramadan,” katanya.
 
Prof Zainal mengatakan, perlu dipahami bahwa ibadah atau perayaan Idul Fitri bukan untuk hura-hura dan berfoya-foya. Jika ada kesan berfoya-foya dan semacam balas dendam selama ini tidak makan, itu bukan bagian dari ajaran Agama, tetapi itu adalah bagian dari kebiasaan sebuah masyarakat yang berlaku di masing-masing daerah.

Olehnya, kata Zainal, MUI mengimbau kepada masyarakat, jangan terkesan Idul Fitri sama dengan foya-foya atau hura-hura.

“Tidak perlu kita menghabiskan uang, tidak perlu membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, olehnya itu ini harus dibedakan, belilah sesuatu yang dibutuhkan untuk merayakan hari raya Idul Fitri,” ujarnya.
 
Selain itu Menurut Zainal, marayakan Idul Fitri dengan menggunakan petasan, ini bagian dari foya-foya.

“Tidak ada arti apa-apa yang bisa kita tarik dari petasan itu, lebih baik uang itu digunakan dengan untuk hal-hal yang positif, seperti kelebihan dari harta kita, berikanlah kepada orang yang membutuhkan, jika fitra sudah, zakat mal juga sudah, sedekah di bulan Ramadan itu jauh lebih baik dengan kita berhura-hura dan bahkan bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama,” jelasnya. 

Zainal mengungkapkan mengenai pawai obor yang di dalamnya ada takbir, ini merupakan bagian dari syiar agama. Tentu niat yang menyelengarakan pawai tersebut, menjelang malam lebaran pihaknya menilai ini bagian dari rasa syukur, bahwa bergembira menyambut hari kemenangan.

“Yang terpenting jangan berlebih-lebihan, karena dalam agama Islam Allah tidak suka orang yang berlebih-lebihan. Bahkan makan dan minum saja jangan berlebih-lebihan, apa lagi hanya sekadar aksesoris yang bukan bagian dari kebutuhan inti dalam kehidupan kita,” katanya.

Sementara itu kata Zainal, MUI mengimbau kepada sejumlah tempat ibadah masjid, agar menyemarakkan salat Lail, salat malam, salat tasbih, i’tikaf, tahajud bahkan bila perlu sahur bersama setelah malakukan i’tikaf.
 
Kata dia, sahur tidak perlu yang mewah-mewah, lakukanlah yang sederhana saja, karena jika terlalu kenyang biasanya di pagi hari, malas dan perut terasa panas. Ajuran bersahur itu bukan soal makanannya yang diartikan tetapi ada berkahnya.


Editor: Udin Salim