Wednesday, 26 July, 2017 - 04:55

Pertumbuhan Ekonomi Sulteng 2016 Tak Capai Dua Digit

KONFERENSI PERS - Kepala BI Perwakilan Sulawei Tengah Miyono (tengah) saat menyampaikan rilis KEKR Sulteng di kantornya, Rabu 8 Maret 2017. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Laju pertumbuhan ekonomi tahunan Sulawesi Tengah pada 2016 hanya sebesar 9,98 persen atau tak capai dua digit. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yakni 15,56 persen.

Menurut Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Sulteng bisa mencapai angka dua digit, namun akibat terdapat penurunan produksi diantaranya pada sub sektor perkebunan menyebabkan ekonomi Sulteng mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Kepala BI Sulteng Miyono saat merilis Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) di kantornya, Rabu 8 Maret 2017, mengatakan pada triwulan IV 2016, nilai nominal produksi barang dan jasa (PDRB) Sulteng mencapai Rp 30,84 triliun atau secara relatif (atas dasar Harga Konstan 2010) mencapai Rp 23,11 triliun, tumbuh 3,80 persen (yoy).

Walapun demikian, pertumbuhan  pada triwulan ini lebih rendah dari angka pertumbuhan triwulan III 2016 yang mampu mencapai 7,91 persen (yoy).

“Melambatnya laju pertumbuhan disebabkan oleh tertundanya penyelesaian pabrik smelter sehingga terdapat potensi output yang belum terhitung dalam perekonomian Sulteng saat ini,” katanya.

Selain itu, sektor pertanian khususnya sub sektor perkebunan, juga memberi andil besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng yang tidak setinggi tahun lalu.

“Terdapat penurunan produksi sub sektor perkebunan yang disebabkan oleh imbas anomali cuaca EL Nino di 2015 yang lalu,” jelasnya.

Dampak El Nino menurutnya masih berimbas hingga akhir 2016 lalu. Dimana tingkat kesuburan tanah menurutnya membutuhkan waktu sebelum bisa kembali normal setelah terdampak fenomena El Nino, sehingga produksi perkebunan pun butuh waktu untuk bisa kembali berproduksi secara maksimal.

Atas pertumbuhan ekonomi Sulteng yang 9,98 persen itu, sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng dari sisi sektoral. Sementara itu, dari PDRB sisi permintaan, ekspor dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak perekonomian yang dominan.

LNG dan Smelter

Pada triwulan I 2017 sendiri, BI memperkirakan perekonomian Sulteng masih akan tumbuh. Optomisme pertumbuhan ekonomi pada triwulan satu ini didukung oleh meningkatnya ekspor LNG dan produksi pertambangan di sejumlah daerah.

“Terutama didorong oleh meningkatnya ekspor LNG dan adanya tambahan produksi smelter baru di Kabupaten Morowali Utara dengan kapasitas 100.000 ton per tahun,” kata Miyono.

“Memperhatikan kondisi perekonomian saat ini dan prospeknya kedepan, kami memproyeksikan perekonomian Sulteng pada triwulan I 2017 akan tumbuh di kisaran 8,6 persen hingga 9 persen (yoy),” jelasnya.

Sementara prospek perekonomian Sulteng pada 2017 diprediksikan masih cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 10,2 persen hingga 10,6 persen (yoy).

Hal ini seiring dengan perkiraan membaiknya harga komoditas utama khususnya nikel yang tentunya akan berdampak pada meningkatnya ekspor. Selain itu, produksi hasil smelter diperkirakan juga  akan semakin optimal dengan tambahan output dari pabrik pengolahan baru di Morowali Utara.

“Tambahan output perekonomian juga berasal dari nilai tambah produk hilirisasi ammonia dan pengembangan produk unggulan di sektor pertanian terutama sub-sektor perkebunan  dan perikanan skala menengah yang semakin baik,” tutur dia.

Menurutnya, optimisme pada sektor pertanian ini ditunjang dengan upaya positif dari pemerintah daerah khususnya dalam melakukan pembenahan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur irigasi, jalan dan bandara, sehingga konektivitas antar daerah semakin baik.

Sementara pada triwulan II 2017 tekanan inflasi diperkirakan sedikit mengalami peningkatan, namun melalui upaya penguatan koordinasi TPID dan peningkatan kerjasama antar daerah (antar Kab/Kota di Sulteng) diharapkan dapat mengendalikan dan menjaga pasokan maupun tingkat harga komoditas pangan strategis.

“Tekanan inflasi diperkirakan dipengaruhi oleh harga kelompok administered prices yang diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan adanya pengurangan subsidi listrik, dimana kondisi tersebut dapatmemicu kenaikan harga komoditas tariff listrik maupun memberikan tekanan second round effect pada komoditas lainnya,” kata Kepala BI Sulteng Miyono.

Tingginya harga minyak diperkirakan dapat mendorong peningkatan harga bahan bakar rumah tangga. Di samping itu, tingginya harga bahan bakar juga diperkirakan dapat memberikan tekanan pada kenaikan harga dari komoditas pada kelompok volatile food.

Sementara itu, komoditas yang berada pada kelompok inti diperkirakan juga akan mengalami tekanan inflasi seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat dalam menyambut pilkada serentak dan persiapan perhelatan berbagai festival budaya dalam menyambut ulang tahun Kota Palu.


Editor : Udin Salim

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.