Saturday, 18 August, 2018 - 19:59

Petani Riopakava Butuh Pabrik Sawit

Anggota DPRD Sulteng, Muh Masykur menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng agar mendorong pelaku usaha membangun pabrik pengolahan sawit di Kecamatan Riopakava Kabupaten Donggala. (Foto: Ist)

Masykur: Astra Grup Monopoli Pasar

Donggala, Metrosulawesi.com - Anggota DPRD Sulteng, Muh Masykur menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng agar mendorong pelaku usaha membangun pabrik pengolahan sawit di Kecamatan Riopakava Kabupaten Donggala. Hal ini disampaikan Masykur saat berdiskusi bersama dengan warga di Desa Lalundu, Kamis 2 Agustus 2018.

Masykur dalam siaran persnya, Jumat 3 Agustus 2018 menjelaskan betapa sangat disayangkan jika potensi hasil perkebunan yang luar biasa di daerah ini tidak disahuti oleh pengambil kebijakan. Pasalnya, selama ini belum tampak upaya kongkret dan menggembirakan dirasakan oleh petani, khususnya perlindungan dan pengelelolaan hasil kebun sawit milik warga, jelasnya.

Lebih lanjut Ketua Fraksi Nasdem DPRD menjelaskan, jika ditelisik, Kecamatan Riopakava ini merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan  alam dan hasil pertanian tertinggi di Sulteng, baik dari hasil kebun sawit maupun dari hasil kekayaan alam lainnya. 

Diperkirakan dari hasil penjualan Tandan Buah Sawit (TBS) saja hasilnya bisa mencapai ratusan miliar setiap tahunnya. Bahkan bisa lebih lagi jika ditata dan dikelola baik, tentunya dengan kehadiran negara di sana. 

“Saya kira pada konteks inilah sejatinya negara melalui pemerintah ambil peran dan tanggungjawab. Sebab, tampak ada kondisi yang ‘tidak sehat’ terjadi dan dialami oleh petani di Riopakava,” ujarnya.

Menurut Masykur, terjadi kuasa monopoli pasar di sana. PT Astra grup satu-satunya pemain tunggal pembeli dan pemasok harga TBS dari petani. Sehingga standar harga dan layanan yang diberikan tidak sepenuhnya mencerminkan rasa keadilan.

Dari standar harga TBS saja misalnya jauh di bawah daerah lainnya seperti di Kalimantan. Jika dibandingkan dengan harga TBS kalimantan selisih sampai Rp. 400 per kilo dengan harga yang ditetapkan oleh anak perusahaan PT. Astra sebesar Rp. 1.200an.

“Padahal dari aspek kualitas, TBS kita di sini lebih baik dibanding di Kalimantan. Sebagaimana testimoni salah seorang warga yang pernah melakukan studi banding di Kalimantan,” jelas Masykur.  

Anggota DRPD Wakil Kabupaten Donggala dan Sigi ini mengingatkan kepada Pemprov agar responsif terhadap penyelesaian soal dan segera melakukan upaya kongkret.  

“Sepanjang Pemprov bertindak responsif, saya yakin pelaku usaha ada yang bersedia menyahuti  desakan warga. Karena pengalaman di tempat lain juga seperti itu dan sukses. Tinggal kuncinya ada di pemerintah, agar selain berefek ke petani juga ke peningkatan  pendapatan daerah,” tutup Masykur. 

 

Editor: Syamsu Rizal