Wednesday, 23 August, 2017 - 08:28

Porseni PGRI Majene Ricuh

ILUSTRASI - Kericuhan. (Foto : tribunnews.com)

Majene, Metrosulawesi.com - Pekan olahraga dan seni (porseni) PGRI Kabupaten Majene, Sulbar  yang dipusatkan di lapangan buraq Sendana, Somba, senin malam (21/11) lalu, dinodai dengan aksi kericuhan yang bermuara pada perkelahian antara panitia Samreda denga pendamping kontingen Pamboang, Majo.

Aksi perkelahian tersebut, bermula ketika dewan juri kasida rebana langsung mengumumkan hasilnya usai semua tim rebana tampil.

Pengumuman yang bersifat buru-buru itu dinilai banyak pihak kalau para dewan juri cenderung subyektif, dan lebih bersifat cari muka dengan Bupati Majene, karena yang dimenangkan adalah Tim Banggai Timur yang notabene ketua PGRI  adalah Fatmawati  Fahmi Masiara (isteri Bupati Majene), pasalnya semua orang tau kalau tim Banggai Timur ada kesalahan syair, sementara Tim Pamboang yang selama ini juara umum, hanya diberikan posisi juara kedua, disusul Banggai juara ketiga.

Saat usai diumumkan, tim Pamboang protes karena diduga juri melakukan penilaian tanpa obyektif.

"Masa yang salah syair juara, yang benar aja juri," teriak pendamping kontingen pamboang sambil memukul meja dan saat yang bersamaan salah seorang panitia Samareda mendatangi tim Pamboang, yang kemudian menimbulkan ketegangan, sehingga tanpa ragu panitia Samareda langsung menempelen Majo, tetapi karena tidak ambil senang Majopun mendorong Samareda hingga terjatuh hingga Majo mengunjak leher Samareda, untung saat kejadian masih banyak pengunjung hingga bisa segera dilerai.

Sejak awal penampilan lomba kasida rebana sudah mulai terbaca kalau lomba bernunsa Islam ini akan berlangsung penilaian tak obyektif dan bisa bermuara kericuhan, sebab Bupati Majene Fahmi Masiara saat memberikan sambutan langsung menekan kalau Tim Pamboang selama ini juara umum kareba para jurinya berasal dari Panboang, padahal fakta juri- juri tersebut justru unumnya berasal dari Majene.

Penekanan Bupati Majene Fahmi terkesan bersikap tidak adil untuk semua peserta, ibarat pepatah Fahmi menggunakan prinsip belah bambu, satu diinjak dan yang satunya lagi diangkat, padahal mestinya sebagai pemimpin harusnya menjadi pengayom, semua dirangkul.

Kesan untuk mengarahkan Tim Banggai Timur juara pertama terlihat saat usai tampil Ny. Fatmawati -- isteri Bupati Fahmi naik ke panggung foto bersama dengan peserta sambil mengisyaratkan pada dewan juri untuk mengumkan hasil perlombaan.

"Diumumkan saja juara lomba, meski tanpa saya ada, karena sebentar saya mau keluar," ungkap Fatmawati.

Isyarat itu tanpaknya para dewan juri mulai mengalami rabun mata dan mati rasa, sebab tanpa melihat jesalahan lupa syair tim Banggai Timur ditetapkan sebagai juara pertama.

"Majene kapan mau maju, kalau selalu didasari asal bapak senang," ujar pendamping Pamboang.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.