Sunday, 23 July, 2017 - 07:13

Potret Kemiskinan di Donggala

MISKIN - Inilah rumah Emi, salah satu warga dusun IV Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah yang hingga saat ini belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten Donggala. (Foto : Metrosulawesi/Jose Rizal)

MATAHARI sangat terik saat Metrosulawesi menyusuri jalan setapak dan sedikit berbukit menuju sebuah dusun di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sabtu (10/10/2015) lalu.

Perjalanan menuju dusun yang dihuni sekitar 40 Kepala Keluarga itu ditempuh dengan waktu hampir satu jam dengan jarak kurang lebih dua kilometer dari Desa Towale. Jalan menuju ke dusun itu tidak bisa dilewati dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat, karena jalanya sempit, mendaki dan curam. Itupun jalan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. 

Sebelum memasuki dusun tersebut, Metrosulawesi melewati jembatan kecil terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk, kira-kira sepanjang 500 meter. Lalu memasuki pemukiman nelayan, kemudian mendaki kurang lebih 30 meter sebelum menemui jalan yang agak rata menuju dusun tersebut.

Namun ada jalan alternatif yang bisa dilalui oleh kendaraan, yaitu jalan lingkar melewati Desa Limboro. Tapi warga dusun enggan melewati jalan itu. Selain berputar, jaraknya juga jauh untuk mengambil air di sungai bagi kebutuhan mereka sehari-hari. Mata pencarian warga setempat adalah bertani dan nelayan, dan rata-rata mereka hidup dalam kategori miskin.

Di dusun itu, selain rata-rata warga miskin, juga sangat kesulitan dengan air bersih dan listrik. Kalaupun ada air dan listrik, warga harus membayar. Untuk air mereka membayar Rp 500 per jerigen. Sedangkan untuk listrik mereka membayar Rp 15.000 persatu balon lampu ke ketua RT setempat.

“Mau tidak mau kami harus membayar air dan listrik karena itu adalah kebutuhan. Ya mau bagaimana lagi, meski pendapatan suami sangat minim,” keluh salah seorang warga setempat, Emi (30) dengan nada pasrah.

Emi adalah satu dari puluhan warga setempat yang hidup penuh kekurangan. Dia dan suami serta lima orang anaknya tinggal dirumah yang sangat sederhana. Atap dan dinding rumahnya terbuat dari pohon sagu. Selain lima orang anak yang tinggal berhimpitan, dirumah itu Emi juga merawat ibunya yang sudah renta. Dari pengakuanya, ibunya itu sudah berumur kurang lebih seratus tahun.

Saat ditanya apakah dia tidak terdaftar dalam program rumah layak huni. Perempuan kurus bermata cekung ini mengatakan, bahwa rumahnya dan beberapa rumah lainya di dusun itu sudah beberapa kali diambil gambar oleh pemerintah desa setempat. Namun hingga saat ini rumahnya belum tak kunjung diperbaiki. Padahal kata dia, beberapa rumah disekitar rumahnya sudah diperbaiki.

Sesekali perempuan ini melihat ke atap dan dinding kediamannya yang mulai bocor. Kedua anaknya yang masih kecil berlarian mengelilingi rumah tersebut. Anak tertuanya kini duduk di bangku sekolah menengah pertama. Untuk membantu ekonomi keluarga, Emi mengaku, saban hari mengisi waktunya dengan menenun sarung Donggala untuk dijual kepasar, meskipun hasilnya tidak seberapa.

“Untuk membantu suami saya menenun sarung Donggala. Meski hasilnya tidak seberapa, minimal bisa meringkan beban keluarga,” ungkapnya dengan mata berbinar.

 

Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.