Monday, 29 May, 2017 - 08:04

POTRET KEMISKINAN DONGGALA - Abu Suroso, Tukang Becak yang Butuh Perhatian

Abu Suroso istirahat usai mengayuh becaknya. (Foto : Metrosulawesi/Jose Rizal)

SUATU sore di Pelabuhan Donggala, seorang lelaki tua memakai topi, badannya kurus, kulitnya hitam kecoklatan, duduk termenung sendirian sambil memegang tali pancing. Sesekali, lelaki itu menarik-narik tali pancingnya, namun tak ada satu ekor ikan pun yang kena. Nafasnya terdengar panjang, semacam rasa kekecewaan. Tapi ia berusaha untuk tersenyum.

“Ikan disini tak lagi seperti dulu. Sekarang ikan-ikanya sudah banyak yang pintar,” katanya bergurau, Minggu (24/10/2015) sore. Rambut dan jenggot lelaki ini sudah kelihatan memutih. Tampak garis-garis keriput dikeningnya. Matanya cekung, dari sorot matanya, menyimpan begitu banyak beban kehidupan.

Lelaki ini bernama Abu Suroso. Dia lahir di Majene, Sulawesi Selatan 1949. Pada tahun 1970 dia merantau ke Donggala dan bekerja sebagai ABK pada sebuah kapal penangkap ikan. Setelah mempersunting perempuan asal Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, dia memutuskan untuk berhenti menjadi nelayan, Dia banting stir menjadi tukang becak.

“Waktu itu pelabuhan dan pasar Malonda belum pindah. Masih ramai sekali. Sehari, saya mendapat 40 ribu rupiah, kadang-kadang juga lebih,” tuturnya mengenang saat-saat pertama kali dia menjadi tukang becak.

Namun semua berubah, ketika pemerintah memindahkan aktifitas pelabuhan ke Pantoloan, dan Pasar Malonda dipindahkan ke desa Ganti.

“Sekarang sepi, kalau ke pasar, orang-orang lebih memilih naik ojek karena jaraknya yang jauh. Setiap hari, pendapatan saya paling tinggi 20 ribu rupiah,” sambung lelaki warga Kelurahan Gunung Bale tersebut.

Kayuhan kaki yang rapuh pada becak yang sudah sepuluh tahun menemani perjalanan hidupnya, memberikan nafkah dan sedikit harapan bagi keluarganya. Dia memiliki delapan orang anak. Enam diantaranya sudah berumah tangga, dan kini sudah tinggal dirumah mereka masing-masing.

Anaknya yang bungsu saat ini tercatat sebagai siswa kelas I SMK 1 Banawa. Dan satunya lagi menjadi nelayan. Saat pemerintah mencangkan program Bantuan Langsung Masyarakat (BLSM) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Abu mengaku, menerima bantuan tersebut. Namun sejak tahun 2012, namanya sudah tidak tercatat lagi sebagai penerima bantuan. Menurut pengakuanya, Ketua RW/RT setempat melakukan pengurangan warga yang menerima bantuan. Dan dia salah satunya.

Dia pernah menanyakan hal itu kepada Lurah Gunung Bale, Kalsum. Dari penjelasan Lurah Kalsum, pengurangan itu sudah kebijakan dari pusat. Abu pun hanya bisa pasrah.

“Padahal saya ini orang miskin. Tapi mau bagaimana lagi kalau itu sudah menjadi keputusan,” ujarnya pasrah.

Bahkan ketika ada program rumah layak huni, rumah Abu pun tak terdata untuk program tersebut. Pernah ada yang datang memotret rumahnya, tapi hingga kini tak ada kelanjutnya.

“Saya tidak terdata untuk program rumah layak huni itu. Tapi kalau pas menjelang pemilu, pasti ada yang datang kerumah untuk mendata dan meminta dukungan,” ungkapnya sambil tersenyum.​​


Editor : Subandi Arya

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.