Monday, 23 July, 2018 - 06:02

Prof Sultan Dieksekusi ke Lapas Palu

Palu, Metrosulawesi.com - Mantan Kepala Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Tadulako (Untad), Profesor Sultan telah dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu pada Senin, 26 Maret sekitar pukul 21.00 Wita. Pasalnya, Mahkamah Agung (MA) RI  menjatuhkan putusan terhadap Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) dengan pidana penjara selama 6 tahun.

"Iya, kami sudah melaksanakan eksekusi terhadap terpidana korupsi dana penelitian tahun 2014-2015, Sultan," kata Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu, Efrivel kepada Metrosulawesi, Selasa, 27 Maret.

Efrivel mengatakan, Sultan datang bersama keluarga dan didampingi penasihat hukumnya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Palu untuk menjalankan putusan pidana sebagaimana putusan MA terhadap dirinya. Memang sebelumnya sudah menyurati, dan beliau koperatif untukn datang sendiri di Lapas. Sehingga, pihaknya memproses semua administrasi eksekusi terhadap Sultan dilaksanakan di Lapas Palu.

Diketahui, bahwa dalam putusan MA Nomor: 2002 K/Pid.Sus/2017 menyebutkan, bahwa terdakwa Sultan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dana penelitian tahun 2014-2015. Sehingga, terdakwa Sultan dihukum dengan pidana penjara selama 6 tahun, denda senilai Rp200 juta subsidair 6 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti senilai Rp 311 juta subsidair 1,6 tahun penjara. Putusan MA lebih tinggi dari putusan Pengadilan Tinggi (PT) Sulteng. Bahwasannya, PT Sulteng menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Sultan dengan pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan penjara, dan denda senilai Rp50 juta subsidair 2 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti senilai Rp311 juta subsidair 8 bulan kurungan. Putusan PT merubah putusan Pengadilan Negeri (PN) Palu sebelumnya yang menjatuhkan vonis penjara 2 tahun terhadap terdakwa Sultan.

Putusan Pengadilan Negeri Palu lebih rendah dari tuntutan Jaksa yang menuntut terdakwa Sultan dengan pidana penjara selama 4 tahun, dan denda senilai Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan, serta membayar uang pengganti senilai Rp230 juta subsidair 2 tahun penjara.      

 

Editor: Udin Salim