Tuesday, 21 August, 2018 - 06:32

Proyek Jembatan di Poros Palu-Sabang Terbengkalai

PROYEK TERBENGKALAI - Beginilah kondisi proyek pembangunan jembatan di poros Palu-Sabang Kecamatan Labuan yang sampai saat ini belum dilanjutkan. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Proyek jembatan di jalan trans Sulawesi poros Palu-Sabang Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala terbengkalai. Dua bulan sejak pembongkaran jembatan lama, hingga kini tak ada tanda-tanda pengerjaan pembangunan jembatan baru.  

Proyek ini pun menjadi viral di media sosial facebook. Theo Masykur, anggota DPRD Sulteng menulis di akun FB-nya menyoroti soal pengerjaan proyek tersebut.

“Pembongkaran jembatan Jl. Trans Palu-Sabang bikin resah masyarakat di Labuan. PT Miitra Ayanga Nusantara sebagai pihak ketiga dinilai tidak profesional meninggalkan lokasi tanpa sebab. Anehnya, Satker Jalan Nasional sebagai pelaksana program seolah tutup mata,” tulisnya, Sabtu 21 Juli 2018.

Status Theo Masykur itu pun mengundang ragam komentar dari sejumlah warga. Tak kecuali warga yang bermukim di sekitar proyek itu. Terutama mereka yang mendiami sepanjang jalan alternatif.  Mereka mengeluhkan, karena akibat proyek itu menyebabkan volusi udara di lingkungan mereka.

“Nandasa sudah kami disini Pak.. Kmiu bayangkan itu jembatan dibongkar sebelum bulan puasa sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya, yang lebih parah itu warga yang rumahnya disekitar jalan alternatif, siang malam dihantam debu karena dilewati kendaraan trans Sulawesi,” tulis Tagfir Labatjo mengomentari status Theo.

“Pantes saja masyarakat Labuan marah, jln alternatif sdh sangat rusak dan berdebu, sementara jembatan jln Poros tak kunjung di kerja, timpal Mansur M Yahya.

Sebelumnya, memang ada jembatan lama yang menghubungkan poros itu. Namun karena ada proyek jembatan baru, maka jembatan lama dibongkar. Sayangnya, perusahaan yang mengerjakan proyek itu, tidak membuat jembatan alternatif. Arus lalulintas dari dan ke Palu, akhirnya melewati jalan alternatif yang masuk ke pemukiman warga. Jalan alternatif yang tidak beraspal itu menimbulkan debu. Untuk mengantisipasi debu, beberapa warga terpaksa harus menyiram jalan depan rumahnya.

Proyek itu tidak hanya menyebabkan warga sekitar menghirup debu, tetapi juga menghambat laju arus lalulintas. 

“Pengguna jalsn trsns juga tersiksa krn tdk bisa dtg tepat waktu d tempat kerjax dan pulang hrs jalan kaki krn tdk ada angkot yg diizinkan lewat. Inilah yg terjadi dgn kami guru yg mengajar d toaya td siang,” tulis  Sri Nutfah.

Ada warga yang menilai proyek itu adalah pemborosan anggaran. Masalahnya katanya, jembatan lama yang dibongkar itu masih bagus. 

“Jembatan masih bagus,ini pemborosan anggara,tdk apa d perlebar tapi harus cepat d kerjakan," tulis Jemi Siana dalam kolom komentar.

Sebagai wakil rakyat, Theo Masykur berjanji akan membantu menyelesaikan permasalahan itu. 

“Sesaat setelah warga lapor situasi ini, kami langsung teruskan ke para pihak, termasuk propinsi dan satker jalan nasional,” tulis Theo menanggapi komentar netizen.

Dikutip dari salah satu laman, Anggota DPRD Sulteng dari Partai Nasdem Sulteng itu mendesak PT. Mitra Ayanga Nusantara selaku kontraktor proyek segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga meminta agar pengerjaan itu dilakukan secara transparan kepada warga. Terutama terkait kendala dan solusi jangka pendek menyelesaikan masalah tersebut.

“Jangan sampai proyek ini dinilai gagal perencanaan. Alangkah jauh lebih baik, jika bersikap terbuka.  Apakah masalahnya di perencanaan, anggaran atau masalah teknis di lapangan,” jelas Masykur.

Semestinya katanya, sebelum proyek itu dikerjakan, kontraktor harus lebih dulu menyiapkan jembatan darurat. Apakah itu berupa rangka baja bekas atau jembatan dari pohon kelapa seperti layaknya biasa digunakan.

Masykur juga mendesak Satker Jalan Nasional agar serius mengawal dan mengawasi pelaksana kerja pihak ketiga di lapangan.