Sunday, 28 May, 2017 - 18:34

PT IMIP Berdayakan Pekerja Lokal Untuk Kesejahteraan

IKUT PAMERAN - Stand pameran PT.Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), di Sulteng Expo 2017, di halaman Masjid Agung Darussalam Palu, Senin 17 April 2017. (Foto : Ist)

Palu, Metrosulawesi.com – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menyatakan berkomitmen untuk tetap memprioritaskan tenaga kerja lokal yang ada di Sulawesi Tengah. Hal tersebut merupakan bagian dari tujuan perusahaan yang ingin ikut berperan serta memajukan daerah tempat perusahaan beroperasi.

“Tujuan setiap perusahaan jelas adalah provit, tetapi kami bercita-cita provit itu bisa kami bagi untuk ikut menyejahterakan masyarakat daerah ini," kata Koordinator Media Relation dan Publikasi PT IMIP, Dedy Kurniawan, di sela-sela pameran atau Sulteng Expo 2017 di Palu, Senin 17 April 2017.

Oleh karena itu, kata dia, PT IMIP melibatkan masyarakat lokal, baik sebagai tenaga kerja langsung ataupun tenaga kerja tidak langsung.

Menurut Dedy, tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dapat melakukan konversi bahan baku menjadi produk jadi atau orang-orang yang terlibat secara langsung dalam proses produksi segala bentuk produk yang dihasilkan perusahaan. 
Sementara tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke dalam bagian konstruksi ataupun komposisi dari sebuah produk jadi.
 
Tenaga kerja tidak langsung kurang lebih pengertiannya adalah orang-orang yang tidak secara langsung terlibat dalam proses produksi produk perusahaan. Misalnya orang-orang yang bekerja sebagai supplier berbagai kebutuhan PT IMIP seperti bahan makanan atau bahan bangunan. 

Dedy mengatakan, untuk saat ini total jumlah karyawan Indonesia yang bekerja di kawasan PT.IMIP lebih kurang sebanyak 11.500-an orang.

"Semuanya berasal dari Sulawesi Tengah dan daerah lainnya di Indonesia," ujarnya.

Sementara tenaga kerja yang berasal dari luar negeri saat ini jumlahnya tak mencapai seribu orang atau kurang 10 persen dari total jumlah karyawan Indonesia.
 
Dalam perekrutan tenaga kerja, kata Dedy, PT IMIP menetapkan lima prioritas. Untuk ring 1 yang merupakan wilayah terdekat dari pusat operasi perusahaan yakni tenaga kerja yang berasal dari Kecamatan Bahodopi, ring 2 tenaga kerja dari Kabupaten Morowali, ring 3 Sulawesi Tengah, ring 4 pulau Sulawesi dan ring 5 adalah tenaga kerja yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. 

"Tetapi tentu saja setiap tenaga kerja yang direkrut harus memenuhi sejumlah persyaratan yang telah kami tentukan,”  katanya.

PT IMIP memproyeksi kebutuhan tenaga kerja langsung itu kurang lebih akan mencapi 20 ribuan orang dan tenaga kerja tidak langsung sebanyak 80 ribuan orang.
  
Target untuk ikut berperan menyejahterakan masyarakat Sulawesi Tengah itu, menurut Dedy, juga dibuktikan dengan berbagai keunggulan yang dimiliki PT IMIP.

Keunggulan itu, kata dia, di kawasan PT IMIP telah berdiri lima smelter dengan berbagai produk dan kapasitas produksi. Smelter PT Sulawesi Mining Investmen yang diresmikan pada 29 Mei 2015 memiliki kapasitas produksi 300 ribu metrik ton Nickel Pick Iron (NPI) per tahun.

Smelter PT Indonesia Guqn Ching Nickel and Stainless Stell Industry (GCNS) yang diresmikan pada 22 Maret 2016 berkapasitas produksi 600 ribut ton NPI per tahun. Selain itu, PT GCNS juga memiliki pabrik stainless steel berkapasitas produksi 1 juta metrik ton pertahun.

Smelter PT Indonesia Tsingsang Stainless Stell (ITSS) berkapasitas produksi 600 ribu metrik ton NPI pertahun dan 1 juta ton stanless steel slab per tahun.

“Di kawasan IMIP juga dibangun pabrik ferro chrome berkapasitas produksi 600 ribu ton pertahun. Ini untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri stainles steel,” kata Dedy Kurniawan.

Di kawasan PT IMIP juga telah beroperasi tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan total kapasitas mencapai 1.180 megawatt.Selain itu, juga telah beroperasi pabrik yang menghasilkan oksigen, nitrogen dan argon. 

Secara rinci Dedy mengatakan bahwa di kawasan PT IMIP saat ini telah beroperasi 4 pabrik ferronikel, 1 pabrik nikel murni, 1 pabrik ferrochrome, 2 pabrik stainless steel, 1 pabrik kapur, 1 pabrik cocas, 1 pabrik stainless steel CRC dan ada rencana untuk mendirikan pabrik carbon steel dan CRC carbon steel. 

“Industri yang kami kembangkan seluruhnya berbasis nikel. Semoga dalam waktu yang tidak terlau lama lagi kami sudah bisa membangun industri hilirnya,” kata Dedy. 

Menurutnya, seluruh pabrik tersebut terkoneksi dengan pelabuhan yang telah dibangun di kawasan PT.IMIP dan mampu disandari kapal hingga berbobot 100 ribu DWT. 

Terkait pelaksanaan Sulteng Expo dimana PT.IMIP juga ikut menjadi peserta, Dedy mengatakan, sambutan masyarakat cukup baik.

“Ratusan pengunjung yang datang setiap harinya selama lima hari pameran digelar, cukup antusias menanyakan berbagai hal terkait aktifitas PT IMIP, dan pertanyaan yang paling sering dilontarkan pengunjung adalah soal peluang untuk bisa bergabung bekerja di kawasan PT.IMIP,” tambahnya.


Editor : Udin Salim

Tags: 
Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.