Saturday, 19 August, 2017 - 19:23

Radikalisme Resahkan Kehidupan Berbangsa

Satgas Operasi Tinombala saat melakukan razia di Kabupaten Poso beberapa waktu lalu. (Foto : Dok Metrosulawesi/ Eddy)

Denpasar, Metrosulawesi.com - Rektor Universitas Mahendradatta Bali, Dr. Putri Anggreni mengatakan isu gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia tidak lagi merebak sebagai wacana, tetapi sudah taraf meresahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Gerakan radikalisme dan terorisme sudah sangat meresahkan kehidupan berbangsa di Indonesia, karena itu perlu kesamaan persepsi dalam mencegahnya gerakan tersebut masuk lewat sekolah maupun kampus perguruan tinggi," kata Putri Anggreni dikonfirmasi, di Denpasar, Jumat.

Dengan adanya fenomena tersebut, maka kalangan akademisi membuat beberapa perwakilan dari berbagai universitas yang diwakili oleh rektor, wakil rektor, dan ketua yayasan, organisaisi pemuda dan organisasi kemasyarakatan bertemu di Museum Bung Karno, Universitas Mahendradatta, Denpasar untuk melakukan "Rembug Nasional" pada Kamis 27 Juli.

Dalam pertemuan bertajuk "focus group discussion (FGD)" tersebut, kata dia, para peserta membahas cara mengantisipasi fenomena radikalisme dan terorisme itu.

"Di tempat ini bisa merasakan spirit perjuangan para pahlawan bangsa tempo dulu. Bagaimana perjuangan mereka untuk melakukan gerakan untuk kemerdekaan bangsa dari penjajah," ucapnya.

Putri Anggreni menegaskan, dukungan terhadap pertemuan ini karena melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masih saja ada, dan mungkin juga dalam jumlah skala besar yang sangat mudah terprovokasi maupun terpengaruh dengan paham dan ideologi terorisme dan radikalisme.

"Mereka sangat mudah terprovokasi untuk merongrong kebangsaan dan kenegaraan, yang mana tumbuh dan digali dari nilai-nilai dan budaya sendiri. Kenyataan ini seharusnya semua perguruan tinggi dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," ucapnya.

Pertemuan FGD dihadiri sekitar 79 rektor dari 79 perguruan tinggi yang tersebar di 12 provinsi yang semuanya sudah bersedia untuk menjadi "steering comittee" dan pengundang untuk mendeklarasikan pertemuan rektor se-Indonesia. FGD ini merekomendasikan agar "SC" minimal di isi oleh 150 perguruan tinggi.

Sementara itu, Rektor Universitas Mpu Tantular Jakarta, Mangasi Panjaitan menggarisbawahi agar gerakan para rektor bisa menghadirkan seluruh rektor di Indonesia.
 
"Di Indonesia ada 4.350 perguruan tinggi, dan kami berharap pertemuan tersebut bisa dihadiri seluruh rektor atau ketua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, besar atau kecil karena masalah yg sekarang dihadapi tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri," katanya. (ant)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.