Friday, 17 August, 2018 - 13:48

Ragam Sport Tourism Hadir di Salena

Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo Said. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.com - Keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu dalam mewujudkan Palu sebagai kota destinasi terus dilakukan, salah satunya pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di kawasan Dusun Salena sebagai salah satu wisata bukit di Kota Palu.

“Sport tourism flyng fox di wilayah Salena merupakan wahana terpanjang  di Asia, sekitar 24 kilometer,” kata Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo Said di Palu, beberapa waktu lalu. 

Wawali Sigit mengungkapkan masih ada beberapa wahana olahraga yang akan dibangun di bukit Dusun Salena, diantaranya arena paralayang bertaraf internasional.

“Dengan ketinggian sekitar 800 meter, arena sport down hill juga dibangun, dengan melakukan pembebasan lahan untuk jalan sepanjang dua kilometer diatas gunung Salena,” ungkapnya.

Kata dia, program Pemkot Palu pada 2018  bertujuan menjadikan Palu sebagai kota destinasi wisata.

“Olehnya kami berharap dengan adanya hal tersebut, bisa meningkatkan PAD daerah, serta meningkatkan taraf ekonomi bagi masyarakat Salena dan sekitarnya,” katanya.

Wawali Sigit juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan menjadikan mengembalikan fungsi lahan tidur menjadi lebih produktif.

“Pemerintah Kota Palu akan menghidupkan lahan tidur yang beberapa dekade sebelumnya dikuasai oleh pihak ketiga. Dengan menggunakan Hak Guna Bangunan (HGB). Namun kali ini, pemerintah sudah mengambil alih sekitar 1000 hektar lahan tersebut. Dengan memanfaatkan 500 hektar kawasan untuk membuat kebun percontohan, yang ditanami beberapa variatas tanaman, seperti buah naga, bawang merah, dan lainnya,” katanya.

Selain itu, Wawali Sigit mengungkapkan pihaknya juga sedang memaksimalkan program Kelurahan Inovasi dan Unggul berbasis iptek di 23 kelurahan yang ada di kota Palu.

“Dengan membentuk dua puluh kelompok industri kecil menengah, seperti di Kelurahan Baiya dengan batik bomba, kerajinan rotan di Kelurahan Kayu Malue, aneka kripik di Talise, kerajinan batok kelapa dan daun Silar di Lambara, pakan unggas di Kelurahan Panau dan Pengawu, kerajinan bambu untuk dijadikan tusuk gigi dan sate di Kelurahan Tatura Utara dan Silae, pembuatan alat musik tradional khas Kaili di Tatura,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu bertujuan mendorong  dan menumbuh kembangkan  pola ekonomi kerakyatan pada seluruh kelurahan di Kota Palu.