Tuesday, 19 June, 2018 - 09:14

REI Sulteng: Waspada Developer Nakal!

Bursa rumah murah di Mall Tatura Palu, beberapa waktu lalu. (Foto: Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Tengah mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam membeli rumah.

Ketua REI Sulteng Musafir Muhaimin menjelaskan, untuk mencegah terjadinya penipuan oleh developer bodong ada beberapa langkah yang perlu diketahui masyarakat, khususnya bagi mereka yang hendak membeli rumah.

“Memang kita harapkan kepada masyarakat Sulteng bahwa bila mana  membeli lokasi perumahan mesti menanyakan dulu ke Bank BTN atau bank pelaksana, apakah dia suudah kerja sama atau belum,” ungkap Musafir Muhaimin, baru-baru ini.

Menurutnya, sangat penting bagi calon pembeli rumah untuk menanyakan langsung ke bank pelaksana jika sesorang ingin membeli rumah secara kredit, apalagi untuk pembelian rumah subsidi. Untuk pembelian rumah non subsidi, langkah yang perlu dilakukan juga hampir serupa.

“Masyarakat bisa menanyakan langsung kepada asosiasi yang ada di Sulteng yaitu Real Estate Indonesia. Yang ketiga, mesti mengecek apakah pengembang itu sudah terdaftar di Kemeterian PU-PR, karena sekarang ada namanya sistem registerasi pengembang, jadi semua pengembang yang terdaftar di asosiasi, baik REI, Apernas, Apersi itu kita mesti wajib di Kementerian PU-PR,” kata dia.

Bank-bank pelaksana bisa melaksanakan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Developer bila mana sudah terdaftar sebagai pengembang di Kementeria PU-PR.

“Makanya setiap ada pengembang janganlah kita diiming-iming oleh diskon, terus (program penipuan mengatasnamakan) Perumahan Jokowi. Yang ada itu programnya adalah perumahan yang didukung oleh pemerintah dengan bunga subsidi 5 prersen, itulah bentuk dukungan pemerintah yang mesti kita realisasikan. Itulah program pemerintah yang REI juga mendukung,” kata dia.

Dia kembali menegaskan, terkait masalah pengembang nakal, masyarakat mesti menanyakan apakah perusahaan pengembang yang menawarkan rumah telah memiliki izin. Selain itu, apakah pengembang bersangkutan telah melakukan kerja sama di bank pelaksana, serta memiliki izin pemerintah daerah.

Dia mengatakan, memang banyak pengembang-pengembang yang sengaja membuat suatu perusahaan, membeli tanah kemudian meminta uang muka lokasi, lahan kepada calon pembeli dengan membuat rumah contoh yang tujuannya untuk menarik minat calon pembeli.

“Inilah banyak kasus yang terjadi di Sulteng bahkan di daerah lain di Indonesia juga banyak kejadian seperti ini, olehnya itu kita harus mengecek betul tahapan-tahapan izin dan legalitasnya,” kata Musafir.