Sunday, 22 October, 2017 - 03:30

Risiko Kematian Ibu Lebih Besar Daripada Saat Kehamilan

EKSPOSE HASIL - Diseminasi ekspose hasil penelitian penguatan sistem invovasi daerah bidang kesehatan yang diadakan oleh  Lembaga Penelitian dan Pengembangan Daerah (Litbang)  Majene, yang dilaksanakan di ruang pola kantor bupati 9 Mei 2017. (Foto : Humas)

Majene, Metrosulawesi.com - Dari hasil Rapid Survey wilayah kerja Dinas Kesehatan kab Majene tahun 2016 terkait determinan/faktor yang menyebabkan kematian ibu, diantaranya paritas atau yang disebut  jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar janin. Dalam hal ini paritas memiliki resiko untuk meninggal 3,6 kali lebih besar meninggal pada saat kehamilan atau proses persalinan. Tidak hanya itu, juga ditemukan fakta bahwa kepemilikan asuransi kesehatan, juga merupakan faktor resiko terjadinya kematian ibu.

Dalam hal ini bagi kaum ibu yang tidak memiliki asuransi kesehatan memiliki resiko 1,28 kali lebih besar untuk meninggal pada saat kehamilan atau proses persalinan dibandingkan ibu yang memiliki asuransi kesehatan. Seperti yang diketauhi bersama melahirkan merupakan proses yang penuh resiko, yang mempertaruhkan nyawa antara ibu dan anak.

Untuk itu perlindungan terhadap ibu hamil melalui asuransi kesehatan merupakan salah satu upaya mencegah hal buruk terjadi. Beberapa fasilitas yang bisanya tercakup dalam asuransi kesehatan bagi ibu hamil diantaranya, pelayanan kebidanan dan neonatal (perlindungan setelah melahirkan).

Perlindungan tersebut mencakup menjamin dan melindungi proses kehamilan – sebelum persalinan (antenatal care – ANC), persalinan, pemeriksaan setelah persalinan (postnatal care – PNC), penanganan perdarahan pasca keguguran dan pelayanan KB pasca salin serta komplikasi (pada saat kehamilan, persalinan, nifas dan KB pasca salin).

Hal ini terungkap saat diseminasi ekspose hasil penelitian penguatan sistem invovasi daerah bidang kesehatan yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Daerah (Litbang)  Majene, yang di laksanakan di ruang pola kantor bupati 9 Mei 2017.

Selain itu variabel–variabel lain yang menjadi faktor kematian ibu hamil diantaranya variabel umur, pendidikan ibu, status kesejahteraan keluarga, dukungan keluarga pemberdayaan ibu, pemeriksaan kehamilan, riwayat keguguran, kelahiran mati, tempat persalinan, serta penolong persalinan. Namun untuk hal tersebut resiko terhadap kematian ibu tidak signifikan. Di tahun 2016 ini, total kematian ibu hamil di kabupaten Majene mencapai 13 kasus. Dengan sebaran kematian di tiap kecamatan diantaranya kec Banggae 4 kasus, Sendana 3 kasus, Tubo Sendana dan Pamboang masing – masing 3 kasus, Tammerodo Sendan dan Malunda masing–masing 1 kasus.

Kepala Litbang kab Majene Dr, Evawaty mengatakan, program pencegahan kematian ibu hamil bukan hanya satu atau dua saja yang telah di upayakan. Namun ada banyak sekali program–program yang tekah berjalan. Namun hasilnya masih belum maksimal. Bahkan di Sulbar Majene masih memimpin  tingginya jumlah kematian ibu. Untuk itu ekspose determinan kematian ibu ini akan sangat bermanfaat dalam merumuskan kebijakan, langkah–langkah strategis apa yang harus di ambil khususnya dalam pencegahan kematian ibu di Majene.

“Peran dan fungsi kami salah satunya melalui hasil penelitian, tiap OPD bisa membawa dokumenya ke litbang, kita akan bantu diseminasi, jika tidak maka hasil tersebut hanya akan berupa dokumen yang tidak bisa diimpelentasikan,” jelasnya.

Sementara itu yang menjadi narasumber pada acara tersebut Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes, M.S.c. PH yang juga guru besar di Universitas Hasanuddin. Sebagai peserta diantaranya para kepala puskesmas, para lurah, kepala desa dan para anggota binaan posyandu. (hms/mp)

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Berita Terkait