Saturday, 24 February, 2018 - 12:45

ROA Ajak Masyarakat Ikut Aliansi Penghidupan Hijau

Ketua Relawan Orang dan Alam (ROA), Subarkah. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Ketua Relawan Orang dan Alam (ROA), Subarkah mengajak masyarakat bergabung dalam aliansi penghidupan hijau  dalam rangka memperkuat masyarakat sipil untuk pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Ajakan ini untuk menyerukan kepada kita semua agar mulailah membangun dengan sesuatu yang ramah lingkungan dan memikirkan keberlanjutannya, karena membangun tanpa memikirkan hal itu, justru tengah menciptakan kerugian yang lebih besar,” ujarnya kepada awak media, Rabu, 17 Januari 2018.

Menurutnya, untuk menciptakan hal itu perlu komitmen politik yang kuat dari pemerintah, masyarakat dan sektor swasta. Ketimpangan dan kesenjangan yang selama ini terjadi harus mulai ditekan, perlu saling meningkatkan pemahaman, persepsi, saling berkordinasi dan meningkatkan pengawasan koloboratif dalam menciptakan pembangunan penghidupan hijau.

“Prakteknya mesti bersama-sama, bukan hanya mendengarkan satu pihak saja. Semisal hanya mendengar keinginan investor saja atau hanya mendengar keinginan pemerintah saja, bahkan hanya ingin mendengar keinginan masyarakat saja. Jika itu terjadi, maka ketimpangan dan kesenjangan dipastikan terjadi dan merugikan,” ungkap Subarkah.

Ia mencontohkan banyak yang dialami masyarakat saat ini yang kerap kali sangat dirugikan karena hak mereka atas tanah dan sumber daya alam seringkali tidak jelas. Perluasan perkebunan skala besar, pertambangan skala besar yang mengambil kawasan-kawasan hutan terkadang menyingkirkan masyarakat dari sumber-sumber penghidupannya, yang akhirnya berdampak pada kemiskinan.

“Pembukaan dan perluasan lahan untuk perkebunan skala besar, pertambangan yang tidak berkelanjutan merupakan salah satu akar penyebab rusaknya hutan dan penurunan lahan dan hilangnya sumber penghidupan masyarakat,” imbuhnya.

Subarkah mengatakan faktor kebijakan, dan perdagangan, baik lokal, nasional serta pelaku bisnis internasional seperti perusahaan multinasional dan investor merupakan pendorong utama hilangnya hutan ataupun sumber-sumber penghidupan masyarakat. Meski demikian, hal ini juga kerap dilakukan oleh  masyarakat.

Kata dia, perusahaan lokal juga berkontribusi besar terhadap hilangnya dan degradasi hutan serta sumber penghidupan masyarakat.

“Pendorong lain terjadinya deforestasi dan degradasi lahan adalah kurangnya kehendak politik dan pribadi untuk melindungi fungsi kritis yang diberikan oleh hutan dan sumber-sumber penghidupan, olehnya itu ROA mengajak para pihak untuk melakukan tata kelola hutan dan sumber-sumber penghidupan yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Ketua ROA itu juga mengatakan, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lanskap hutan dan sumber-sumber penghidupan yang subur. Namun, tiga kondisi perlu dipenuhi agar masyarakat benar-benar dapat memainkan peran ini, diantaranya keamanan kepemilikan lahan atau akses terhadap tanah, dimasukkannya masyarakat dalam pengambilan keputusan penggunaan lahan oleh pemerintah dan  sektor swasta, dan  pendekatan berbasis alam terhadap pengelolaan lanskap hutan dan sumber-sumber penghidupan.

“Kondisi ini memungkinkan masyarakat untuk terlibat dengan pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta untuk bersama-sama memutuskan penggunaan lahan. Ini adalah tata kelola yang inklusif dan berkelanjutan dari hutan dan sumber-sumber penghidupan,” jelasnya.
 
 
Editor: M Yusuf Bj

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.