Friday, 21 July, 2017 - 18:58

Ruas Jalan Balaesang Tanjung Rusak Parah

RUSAK - Tampak ruas jalan Balaesang Tanjung yang rusak parah. (Foto : Ist)

Donggala, Metrosulawesi.com - Beberapa titik ruas jalan poros Labean–Manimbaya, Kecamatan Balaesang Tanjung dalam keadaan rusak parah. Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena kerusakan hampir merata di sepanjang ruas jalan Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulteng.

Armawin (28), warga Desa Malei berharap kerusakan jalan tersebut segera dibenahi.

“Tinggal di Balaesang Tanjung ini cukup menderita, sudah jalan rusak, signal pun hilang-hilang,’’ ungkapnya kepada Metrosulawesi via telepon, Selasa (20/6/2017).

Menurutnya, setiap hari banyak warga, pelajar, pedagang hingga pegawai, petani dan nelayan mengandalkan jalur tersebut beraktivitas atau pergi ke Ibu Kota Kecamatan.

‘’Jalan ini merupakan akses satu-satunya warga di 8 desa di Kecamatan Balaesang Tanjung, yakni dari Desa Walandano, Malei, Kamonji, Ketong, Manimbaya, Rano, Pomolulu dan Palau.Jumlah penduduk se Kecamatan Balaesang Tanjung kurang lebih sekitar 10.000 jiwa, mestinya ini harus menjadi perhatian bahkan prioritas. Karena Balaesang Tanjung memiliki hasil bumi yang melimpah,’’ tandasnya.

Di beberapa titik, katanya, badan jalan amblas dan bergelombang.

‘’Pada musim hujan seperti saat ini, lubang jalan membentuk genangan karena dipenuhi air pada ruas jalan yang rata. Sebagian masyarakat yang membawa kendaraan roda empat sempat terhenti, diakibatkan tertimbun lumpur. Sedangkan kerusakan ruas jalan pada pegunungan kondisinya lebih parah dan sangat membahayakan pengguna jalan yang melintas."

Disebutkan, untuk pengendara kendaraan roda dua sering menurunkan orang yang diboncengnya bila melintasi ruas jalan rusak di pegunungan karena takut jatuh.

Dia juga menyebutkan, mimpi masyarakat akan jalan yang layak dan tidak lubang-lubang sudah lama didambakan seluruh warga Kecamatan Balaesang Tanjung. Padahal, di daerah tersebut ada potensi obyek wisata yang cukup menarik, misalnya, Desa Rano dengan Danau Ranonya dan Meriam peninggalan zaman penjajah.

"Kami berharap agar pemerintah lebih memperhatikan lagi akses jalan yang kami lalui, setiap kami mudik lebaran selalu berhadapan dengan lumpur ditambah lagi lamanya perjalanan hingga berjam-jam baru bisa sampai,’’ jelas Armawin.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.