Saturday, 18 November, 2017 - 01:24

Saksi Korupsi Gernas Kakao Tolitoli Saling Membantah

SAKSI GERNAS - Direktur Utama PT Supin Raya, Donatus, saat dimintai keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dugaan korupsi proyek Gernas Kakao Tolitoli di Pengadilan Negeri Palu, Senin 13 Maret 2017. (Foto : Agustinus Salut/ Metrosulawesi)

Cek Rp1 M Untuk Bupati Sempat Dititip di Brangkas Bendahara

Palu, Metrosulawesi.com – Sidang lanjutan dugaan korupsi Gernas Kakao menghadirkan Direktur Utama PT Supin Raya, Donatus sebagai saksi. Dalam persidangan, Senin 13 Maret terungkap, sebelum travel cek itu diserahkan ke Bupati Tolitoli, Saleh Bantilan, lebih dulu dititip di brangkas bendahara.

Di hadapan Majelis Hakim Tipikor Palu, Donatus mengaku tidak pernah mengirim travel cek kepada Bupati Tolitoli, Muh Saleh Bantilan. Bantahan itu diungkapkan oleh Donatus dalam persidangan yang terbuka untuk umum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palu, Senin, 13 Maret 2017.

Namun pernyataan saksi Donatus itu ditanggapi terdakwa Mansur. Mansur mengaku menerima travel cek dari Donatus saat bertemu di Bandara. Travel cek itu mau dikirimkan kepada Bupati Tolitoli, Saleh Bantilan.

“Kemudian sampai di kantor, travel cek itu dititipkan di brangkas bendahara. Tapi tidak lama kemudian travel cek itu di antar kepada Bupati,” kata terdakwa Mansur.

Mendengar pernyataan terdakwa Mansyur, saksi Donatus tetap pada keterangannya bahwa dirinya tidak pernah mengirim travel cek. Olehnya, Majelis Hakim mengingatkan agar kepada para pihak yang berkeberatan dengan keterangan Donatus silakan diproses. Bagi Majelis, pihaknya masih mempertimbangkan, sembari menunggu fakta-fakta lain yang muncul dalam persidangan.

Dalam kesaksiannya, Donatus yang merupakan saksi dalam berkas perkara dugaan korupsi dana proyek Gerakan Nasional (Gernas) kakao Kabupaten Tolitoli. Pasalnya, hampir semua saksi yang ada dalam berkas perkara tersebut menyebut namanya Donatus.

Ketika ditanya apakah pernah mengundang pihak Dinas Perkebunan Tolitoli ke Makassar? Donatus menegaskan tidak pernah. Namun mereka pernah ke kantor di Makassar, tapi bukan karena diundang. Hal tersebut semata-mata karena namanya pihak swasta harus bermitra dengan siapa saja, dan saat itu mereka ke kantor tapi yang melayani mereka saat itu adalah Nawir, dan memang Standar Operasional Perusahaan (SOP)-nya demikian. Pertemuan itu bukan membahas soal proyek Gernas Kakao, tapi karena kebetulan saat itu mereka transit di Makassar, dan sekalian singga di kantor.

"Kami tidak pernah mengundang pihak Dinas Perkebunan Tolitoli ke Makassar," tegasnya.

Donatus juga menjelaskan soal hubungan PT Supin Raya dengan PT Karya Lestari Raya yang merupakan perusahaan yang pemenang tender proyek Gernas Kakao Tolitoli tahun 2013. Bahwasanya, dua perusahaan ini pemilik atau ownernya adalah James Julianto. Status kedua perusahaan itu adalah grup, bukan merupakan anak perusahaan. Masing-masing kedua perusahaan itu mempunyai badan hukum.

Dirinya mengakui bahwa di perusahaannya ada kaderisasi. Sehingga, dikala itu owner mengangkat Syamsul Alam sebagai Direktur PT Karya Lestari Raya, dan sebelumnya dia hanya sebagai staf. Sebagai Direktur perusahaan saat itu, Syamsul Alam menandatangani semua penawaran lelang Gernas Kakao Tolitoli. Nah, saat menang tender, dirinya ditugaskan untuk mengawal, membina dan memberikan motivasi kepada pihak manajemen PT Karya Lestari Raya.

Donatus menuturkan, kalau soal pekerjaan itu sudah sesuai dengan apa yang ada di kontrak. Nilai kontrak proyek tersebut adalah senilai Rp 11 miliar.

Ketika Majelis Hakim bertanya, apakah benar terdakwa Syamsul Alam adalah Direktur PT Karya Lestari Raya? Donatus mengatakan ya, dia diangkat oleh owner sebagai direktur. Bahwasanya, Donatus disebut sebagai pengendali perusahaan itu tidak betul. Kemudian Hakim juga bertanya, apakah Syamsul Alam itu diberikan kewenangan penuh di perusahaan? Secara formil kata Donatus bahwa Syamsul Alam laksanakan, tetapi secara material operasional keuangan adalah owner.

Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa Syamsul Alam untuk menanggapi keterangan Donatus. Bahwasannya, Syamsul Alam diperintahkan langsung oleh Donatus untuk mengikuti proses tender Gernas Kakao Tolitoli.

"Saya ini tidak tahu apa-apa pak. Saya hanyalah staf biasa dalam perusahaan tersebut," kata Syamsul Alam sambil meneteskan air mata.

Selain saksi Donatus yang dihadirkan, JPU juga menghadirkan tim teknis Perusahaan, Nawir, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek Gernas Kakao pada Dinas Perkebunan Sulteng, Mulyadi, Bendahara Gernas Kakao Dinas Perkebunan Tolitoli, Rosani, dan isterinya terdakwa Eko.

Saksi Rosani menerangkan bahwa dirinya pernah mengantar uang senilai Rp 50 juta kepada saksi Mulyadi. Uang tersebut ditransfer oleh Mansyur melalui rekening BNI, dan uang tersebut diserahkan kepada Mulyadi selaku PPK Gernas Kakao Dinas Perkebunan Provinsi Sulteng. Namun Mulyadi membantah bahwa dirinya pernah menerima uang dari Rosani. Sehingga, kedua saksi itu sempat berdebat dalam persidangan bahkan saling tantang untuk sumpah pocong.

"Saya tidak bohong, uang itu saya serahkan langsung kepada Mulyadi di ruangannya," tegas Rosani.

Kemudian muncul juga dalam persidangan bahwa terdakwa Eko diberikan uang senilai Rp 50 juta oleh terdakwa Conni atas perintah terdakwa Mansyur selaku Kepala Dinas. Namun terdakwa Eko membantah bahwa dirinya hanya menerima Rp 30 juta, dan itu diakui oleh isterinya Eko yang hadir sebagai saksi dalam persidangan tersebut.

"Saya terima uang dari Bapak senilai Rp 30 juta, dan sempat saya tanya uang apa ini? Bapak bilang waktu itu uang operasional dari kantor. Saya percaya sama suami saya, karena memang dia sering ke lapangan dan bahkan pernah jatuh. Olehnya uang tersebut disimpan di tabungan hajinya," kata isteri Eko.

Setelah semua saksi dimintai keterangan, Majelis Hakim memerintahkan saksi Donatus dan saksi Nawir untuk hadirkan kembali sidang besok (hari ini).

"Dengan demikian sidang kita tunda, dan akan dilanjutkan kembali besok," katanya.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.