Thursday, 16 August, 2018 - 20:09

Sampah Jadi Emas? Bisa!

Deputy Bisnis Pegadaian Area Palu, Agus Tokhid. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Sampah punya daya tarik? Ah yang betul? Apa sih yang bisa diraih dari barang-barang terbuang, jorok dan busuk itu? Mungkin terdengar aneh. Tetapi dengan kesadaran global kepedulian akan penanganan sampah terutama sampah plastik, ya, daya tarik itu memang ada.

Kemajuan teknologi yang demikian pesat terkait proses recycle sangat memungkinkan melakukannya. 

Pegadaian Palu menjadi satu-satunya korporasi yang kini eksis mengajak warga secara terbuka untuk mengelola sampah plastik. Tak tanggung-tanggung, programnya bernama ‘sampah jadi emas’.  Artinya, semua sampah plastik punya nilai profit. Dihitung per kilo, hasilnya selain bisa menambah pemasukan anda, juga mampu membiayai pengelolaannya.

Meski saat ini di banyak daerah bank sampah sudah popular, konsepnya belum mengefektifkan pelakunya untuk menabung. Setelah dari bank sampah, langsung pegang uang cash. Besar kemungkinan dana tersebut juga langsung habis terpakai. 

“Lewat tabungan sampah jadi emas pegadaian, sebagian dari keuntungan pengolahan bank sampah itu, diarahkan ke rekening emas pegadaian,” ungkap Deputy Bisnis Pegadaian Area Palu Agus Tokhid.

Dikatakan Agus, memotivasi warga agar faham untuk lebih meningkatkan pendapatan sekaligus mengemas sampah menjadi emas adalah tantangan terbesarnya. Padahal, siapapun jika mau peduli akan penanganan sampah plastiknya, akan kaget akan nilai emas tabungannya dalam jangka waktu tertentu.

Untuk lebih memudahkan, Pegadaian menyiapkan unit mobil bank sampah yang akan menjemput sampah plastik anda. Kendaraan ini menurut Agus telah mereka operasikan untuk menjemput sampah plastik di gelaran Haul Guru Tua Alchairaat belum lama ini. 

Tak hanya bekerjasama dengan pihak kelurahan, kedepan Pegadaian bahkan sudah menyiapkan rencana pemaksimalan mesin pengelola kompos di setiap kelurahan yang hingga kini belum maksimal operasionalnya. 

“Daya tariknya seperti itu. Membuat sampah plastik dan kompos berujung profit dalam bentuk emas. Konsep begini tentu akan lebih diterima masyarakat daripada mengandalkan unsur paksaan agar lebih tertib mengelola sampah,” tambahnya. 

Ia pun mengklaim programnya ini mendapat respons positif pemkot. 

Kepedulian dari Komunitas Seangle

SEANGLE menjadi komunitas pecinta lingkungan teraktif yang kerap menggelar aksi dan event terkait pengolahan sampah plastik di palu dan sekitarnya. Bahkan mereka punya rumah bank sampah dan pusat recycle centre sendiri.

Program berkelanjutan Seangle diantaranya mengedukasi anak-anak SD untuk belajar memilah sampah yang kemudian di daur ulang. Seangle yang dibentuk oleh Robby Binsar Butar-butar (Manado), Abizar Ghiffary (Palu), Reni Septiani (Sigi), Irsyad dan Ayu (Gorontalo) Oktober 2017 silam, kini berfokus pada recycling centre yang mereka buat di sebuah rumah kayu tua di Jl. Lasoso.

SD DDI di Jl. Sungai Miu bahkan menjadi pilot project Sulteng untuk pengolahan limbah plastik usia dini berkat sentuhan mereka. 

Disitu kembali mereka mengedukasi semua kalangan terutama warga sekitar untuk memahami bagaimana proses mendaur ulang sampah plastik. Mulai dari memungut, memilah, membersihkan dan menggunakannnya kembali.

Termasuk bagaimana memilah sampah plastik berdasarkan jenisnya versi Seangle. Yakni, sampah plastik, botol plastik, gelas plastik transparan, gelas plastik berwarna, kertas dan sampah campuran. Hebatnya, untuk anggaran operasional dari recycle centre ini mereka dapatkan bukan dari Pemkot Palu. Tetapi dari korporasi sekelas KFC, Bank HSBC, Divers Clean Action dan Kehati saat mereka presentase di Jakarta. Belum termasuk dana yang mereka kumpulkan sendiri lewat www.kitabisa.com.

“Bantuan pemkot masih sebatas koordinasi ke pihak terkait seperti dengan lurah. Atau sumbangan kantung sampah saat ada event bersih-bersih massal,” ungkap Reni Septiani, salah satu penggagas Seangle. 

Menurut Reni, persoalan sampah plastik Palu adalah persoalan bersama. Harus ditangani bersama. Nah, agar warga ikut terlibat aktif, harus ada unsur ketertarikan.

“Mengelola sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat dengan sentuhan kreatifitas, adalah salah satu jawaban untuk mengurangi volume sampah plastik,” jelasnya. 

Tak jarang bersama Seangle, Reni kerap membuat action jemput sampah. Mereka menjemput sampah plastik warga untuk bisa di daur ulang dengan kendaraan khusus.

Seiring perkembangannya, Seangle mulai mengembangkan cakupannya. Tak hanya mendaur ulang sampah rumahan atau yang bersal dari tepi pantai atau sungai, sampah korporasi, café, rumah makan, kini jadi sasaran mereka.

“Volumenya lebih besar, tantangannya juga lebih besar,” sebut Reni. 

Meski demikian tetap menurut Reni, kesadaran warga dalam menyikapi pengolahan sampah menjadi pondasi jika ingin menjadikan Palu kota yang bersih dan berhasil dalam pengolahan sampah.

“Disiplin pengolahan sampah dan kesadaran akan hidup bersih adalah kunci utamanya. Meski pemerintah dan komunitas seperti kami bergerak dengan sangat giat, tanpa dukungan warga, akan sulit menciptakan semangat hidup bersih yang merata,” paparnya.      

 

Editor: Udin Salim