Tuesday, 24 January, 2017 - 15:24

Sate Mobil di Bukit Indah Kanuna

SATE MOBIL - Mobil dengan cat berbagai warna disusun mirip sate. Ini hanya bisa dilihat di lokasi objek wisata Sate Mobil Bukit Indah Kanuni – Padanjese. (Foto : Tahmil Burhanudin/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Tidak lama lagi masyarakat Kota Palu dapat menikmati sebuah tempat wisata yang unik dan mengagumkan, di tempat wisata itu nantinya akan ada berbagai armada atau kendaraan transportasi, dari armada laut, darat hingga udara. Bahkan di tempat wisata itu nantinya akan ada kebun binatang mini serta berbagai spot lainnya yang terletak dalam satu lokasi.

Berbekal hobi dan kecintaannya terhadap seni, H Tadjuddin Lantagi membangun sebuah objek wisata di area seluas kurang lebih 20 hektare di bukit antara Desa Kanuna, Kecamatan Kinovaru, Sigi, dan wilayah Padanjese, Kelurahan Donggala Kodi, Kota Palu. Di sana Ia membangun sebuah objek wisata yang bertemakan kendaraan-kendaraan antik dan mobil yang disusun tampak seperti sate yang jadi ikon utamanya.

“Makanya saya beri nama Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese Wisata and Resto. Kenapa Kanuna – Padanjese? Karena lokasinya terletak di antara dua kelurahan tersebut. Dan Sate Mobil ini karena memang ada mobil yang disusun tampak seperti sate,” ungkap penggagas objek wisata tersebut.

Ketika anda memasuki lokasi wisata yang letaknya sekitar 5-6 kilometer dari keramaian Kota Palu atau persisnya di bilangan rumah makan Uta Dada di wilayah Kelurahan Donggala Kodi tersebut, anda akan langsung disuguhkan dengan susunan sejumlah mobil sedan tua berwarna-warni bak sate yang ditancapkan di tanah dengan ketinggian sekitar 10-15 meter.

Meski lokasi wisata tersebut belum beroperasi secara resmi, namun sejumlah masyarakat yang sudah mengetahui keberadaannya tidak jarang mendatangi lokasi tersebut untuk sekedar berfoto sembari menikmati pemandangan indah Kota Palu. Dari atas ketinggian bukit ‘Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese Wisata and Resto’ pengunjung bisa melihat hamparan luas teluk, kota Palu hingga ke wilayah Kabupaten Sigi yang terletak di arah Selatan Kota Palu.

Selain bisa menjadikan sate mobil sebagai objek foto, di sana juga terdapat berbagai spot seperti kolam, dan gasebo untuk sekedar bersantai menikmati udara segar. Ada sejumlah kendaraan antik, tua dan unik disana. Rencananya, kendaraan tersebut akan dijadikan sebagai restoran dimana di dalamnya akan disusun kursi dan meja untuk bisa dijadikan tempat menikmati hidangan oleh para pengunjung nantinya.

Bukan hanya mobil, ada juga pesawat hercules yang sengaja dirancang untuk dijadikan sebuah restoran di sana.

“Pokoknya temanya armada, jadi semua armada atau angkutan yang kita kenal akan kita hadirkan, dari kereta apai, kapal laut sampai pesawat. Cuman kalau pesawat kan susah kita mau datangkan ke lokasi ini jadi saya rakit sendiri dari mobil dan besi tua bahannya,” ujar laki-laki 61 tahun itu.

Tidak sampai di situ, di sana juga akan ada taman mini atau sang pemilik menyebutnya Taman Binatang Mini. Nantinya pengunjung dapat melihat sejumlah hewan yang sengaja dipelihara di sana, semisal kera dan binatang lainnya. Hal itu dibuktikan dengan sudah adanya sejumlah hewan yang dipajang oleh bapak enam anak itu di sekitar rumahnya yang berlokasi di pusat wisata yang tengah dibangunnya tersebut.

“Namanya kebun binatang mini, jadi hewan yang kita pajang nantinya juga tidak sebanyak dan seperti di kebun binatang pada umumnya,” kata laki-laki yang menolak berpolitik dan jadi kontraktor itu.
Dan untuk tetap mejaga kelestarian budaya, di sana juga akan dibangun rumah-rumah adat kecil dari berbagai daerah.

Ada Wisata Kuliner

Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese Wisata and Resto, tidak hanya sekedar menampilkan objek wisata armada, di sana juga akan dihadirkan berbagai menu kuliner. Renacananya berbagai kuliner nusantara akan dihadirkan, dan makanan khas Kota Palu uta dada juga jadi andalan.

“Selain menampilkan berbagai macam armada dan mobil kuno, jadi nantinya kita akan jadikan ini taman wisata, vila, kebun binatang mini, dan intinya wisata kuliner,” kata pria kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan itu.

selain berencanan menjadikan lokasi tersebut sebagai tujuan wisata kuliner, laki-laki yang akrab disapa pak Haji ini juga berharap lokasi tersebut nantinya menjadi tempat wisata yang tetap menjaga nilai-nilai keagaamaan.

Sehingga, di sana ia juga dibangun sebuah masjid sebagai tempat beribadahnya pengunjung, khususnya bagi mereka yang Muslim.

“Dan nantinya semua pengunjung tidak boleh membawa barang-barang haram ke sini, seperti minuman apalagi melakukan hal-hal negatif. Kita sengaja bangun masjid supaya para pengunjung nantinya selalu diingatkan waktu untuk shalat dengan nada panggilan dari masjid itu (adzan),” terang Tadjuddin.

Berawal dari Hobi Mobil Antik dan Seni

H Tadjuddin Lantagi, sebagai pemilik lokasi wisata yang luasnya kurang lebih 20 hektare itu mengaku mengawali pembangunan tempat wisata bertema armada antik tersebut dari hobinya terhadap mobil-mobil antik dan kecintyaanya terhadap seni.

Ia mengaku sudah mulai memikirkan untuk membangun tempat wisata bertema armada sejak 1987 silam. Berawal dari hobinya sejak tahun 70-an mengoleksi mobil-mobil antik, tua dan tak terpakai, Ia kemudian mengubahnya menjadi mobil yang dapat digunakan dan kemudian sebagian dijadikannya sebagai objek utama di lokasi objek wisata yang tengah digarapnya saat ini.

“Kebetulan saya juga orang otomotif, saya kemudian memadukan dengan kecintaan saya terhadap seni. Sehingga berdirilah tempat wisata yang sementara dikerjakan ini,” ungkap Tadjuddin.

“Saya mulai berburu kendaraan kuno mulai tahun 70-an, saya kumpul, saya simpan kemudian dibenahi dan dirakit sendiri,” kata dia.

Dari situlah dia akhirnya memiliki sejumlah kendaraan unik dari roda dua hingga roda empat, dan mengantarkan dia memikirkan menciptakan sebuah objek wisata yang memanfaatkan seluruh kendaraan kuno miliknya.

Semua fasilitas yang digunakan untuk membangun tempat wisata tersebut merupakan barang-barang lokal, bahkan sebagian barang limbah. Untuk membangun sejumlah gazebo, Tadjuddin mengaku menggunkan limbah kayu yang menurut sebagian orang sudah tidak ada harganya.

“Seperti kuilit kayu ini, kita mau beli di mana? tidak akan ada yang jual tapi saya memanfaatkannya,” kata dia sembari menunjuk dinding gazebo saat ditemui di lokasi, Minggu 3 September 2016.

“Saya tidak memandang ini sebagai lahan bisnis saja, saya jadikan ini sebagai wujud kecintaan saya terhadap seni dan hobi saya terhadap barang-barang kuno,” tandasnya.

Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Sekitar

Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese Wisata and Resto yang dibangun oleh H Tadjuddin Lantagi rencananya akan diserahkan kepada salah seorang pengusaha ternama di Kota Palu untuk pengelolaannya kedepan. Meski demikian, ia tetap ingin agar masyarakat sekitar dapat menikmati dan terlibat langsung sehingga dapat meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat sekitar.

Dengan adanya pusat wisata yang berlokasi di antara dua wilayah, yakni Desa Kanuna, Kecamatan Kinovaru, Kabupaten Sigi, dan Padan Jese Keluraha Donggala Kodi, Kota Palu itu, diharapkan dapat meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat di sana.

Kepala Desa Kanuna, Ferdin Tolesa, mengaku sangat menyambut baik keberadaan lokasi wisata tersebut. Karena kata dia, dampak positifnya akan dapat dirasakan masyarakat sekitar. Dia memberi contoh, salah satu dampak kecilnya yakni masyarakat yang berjualan atau kios akan banyak menerima pembeli dari luar yang merupakan pengunjung wisata di sana nantinya.

“Selain itu, masyarakat juga bisa menikmati lokasi wisata ini, yang dulunya di sini hanya gunung dan jurang ternyata dengan hadirnya pak Haji (Tadjuddin Lantagi) bisa dirubah menjadi seperti ini,” terang Kades Kanuna.

Sementara itu, H Tadjuddin Lantagi juga mengaku akan sebisa mungkin memberdayakan masyarakat sekitar ketika objek wisata yang dibangunnya saat ini telah beroperasi.

“Ketika nanti telah dibuka, tentu masyarakat sekitar akan kita gunakan juga, apalagi kita akan menghadirkan wisata kuliner di sini. Masyarakat bisa terlibat,” terang dia.

Kehadiran objek wisata tersebut juga diharapkan dapat menjadikan penyatu seluruh masyarakat yang mendiami dua wilayah letak objek wisata tersebut, yakni masyarakat Kanuni dan masyarakat Padanjese.

Membangun Sebuah Pusat Wisata Bukan Hanya Soal Biaya

Untuk Membangun Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese, Tadjuddin Lantagi telah menghabiskan biaya sebanyak sekitar Rp 10 milar. Kata dia, dana tersebut bukanlah hal utama, melainkan karena hobinya dan keinginan untuk menikmati masa tua.

“Kalau andalkan uang, tidak cukup dana yang saya milik. Tapi karena hobi dan jiwa seni saya, makanya saya bangun ini sekaligus untuk mengisi dan menikmati masa tua,” ungkap Tadjuddin lantagi.

Mendirikan objek wisata yang diperkirakan akan menjadi salah satu pilihan utama masyarakat Kota Palu itu, Ia tidak menafikkan membutuhkan biaya yang besar, sehingga kendalanya untuk sesegera mungkin menyelesaikan pengerjaan juga pastinya kerap terkendala dana.

“Tapi saya bersyukur sejumlah bank mau membantu saya,” katanya.

“Jadi selain sebgai bisnis, saya jadikan tempat ini sebagai tempat saya mengisi masa tua,” ujar mantan pengusaha kayu tersebut.

Target Beroperasi Oktober

Sesegera mungkin objek wisata baru yang terletak di bukit Kanuna – Padanjese tersebut akan beroperasi. Sang pemilik Sate Mobil Bukit Indah Kanuna – Padanjese Wisata and Resto, H tadjuddin Lantagi, berharap pada Oktober 2016 ini sudah bisa beroperasi.

“Oktober (2016) rencana aktif, dan Januari (2017) kita rencana grand opening, tapi masih panjang karena untuk membangun semuanya membutuhkan modal,” ungkap Tadjuddin.

Meskipun belum dibuka secara resmi, namun sejumlah masyarakat yang telah mengetahui letak objek wisata tersebut sudah mengunjungi untuk sekedar berfoto di sana.

Ketika resmi dibuka, Tadjuddin sebagai pemilik berharap bisa menarik minat masyarakat sebanyak mungkin. Dia memberikan bocoran tiket masuk di sana sekitar Rp 10 ribu, meskipun saat ini belum ditarik biaya untuk mereka yang berkunjung, alias gratis.

“Jadi harga masuk Rp 10 ribu, nanti untuk makan dan lain-lain bisa tukar voucher dan sebagainya,” katanya memberikan gambaran.

Dia berharap rencana untuk segera mengoperasikan tempat wisata tersebut bisa sesuai rencana, meskipun masih banyak pengerjaan yang belum terselesaikan.


Editor : Udin Salim

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan