Tuesday, 24 January, 2017 - 15:29

Sejarah Singkat Duet Perang dan Narkoba dari Zaman Viking Hingga Nazi (Bagian 1)

Adolf Hitler sebagai inspektur upacara di Sekolah Kepemimpinan Reich di Bernau, Jerman [The Print Kolektor / Print Kolektor / Getty Images]

Metrosulawesi.com - Adolf Hitler ternyata seorang pecandu dan sepak terjang narkotika Nazi telah memberikan terminologi baru soal “perang melawan norkoba”. Tapi mereka bukan satu-satunya pelaku sejarah.

Publikasi terbaru mengungkap narkoba telah menjadi bagian dari konflik disamping peluru. Selama ini hanya peluru yang dianggap bagian konflik sedang keterlibatan narkoba hanya dianggap lelucon.

Penulis Jerman Norman Ohler dalam bukunya Blitzed menjelaskan bagaimana Nazi Jerman akrab dengan obat-obatan termasuk kokain, heroin dan terutama shabu. Obat-obatan itu jamak digunakan oleh semua orang dari tentara, ibu rumah tangga hingga buruh.

Pertama kali terbit di Jerman dengan judul Der totale Rausch (The Total Rush). Riwayat penyalahgunaan narkotika oleh Adolf Hitler dan kaki tangganya dikupas. Tulisan didasarkan pada arsip rahasia mengenai Dr Theodor Morell, dokter pribadi yang mengatur pemberian narkoba pada pimpinan Jerman dan juga untuk diktator Italia Benito Mussolini.

“Hitler adalah seorang Fuhrer dengan kecanduan narkoba akut. Masuk akal mengingat kepribadiannya yang sangat ekstrim,” Kata Ohler di rumahnya Berlin.

Pasca buku Ohler diterbitkan tahun lalu di Jerman, harian Frankfurter Allgemeine mengajukan pertanyaan pada penulis, “Apakah kegilaan Hitler menjadi lebih dimengerti saat kita melihatnya sebagai pencandu narkoba?”

“Ya dan tidak,” jawab Ohler.

Hitler, yang kesehatan mental dan fisiknya menjadi sumber banyak spekulasi, telah mengandalkan suntikan harian dari obat ajaib Eukodol. Obat ini membuat pengguna merasa dalam situasi euforia, dan seringkali membuat mereka tidak mampu mengeluarkan keputusan.

Selain Eukodol, Hitler juga mengkonsumsi kokain yang ia pakai secara teratur mulai 1941. Kokain ia gunakan untuk menahan penyakitnya seperti kejang perut kronis, tekanan darah tinggi dan gendang telinga pecah.

“Tapi kita semua tahu dia melakukan banyak hal yang dipertanyakan sebelum itu. Sehingga kita tidak bisa mengkambing hitamkan narkoba atas tindakan Hitler,” kata Ohler.

“Pastinya, narkoba memainkan peran dalam kematiannya,” lanjut Ohler.

Masih dalam bukunya, Ohler memerinci bagaimana menjelang akhir perang, “Obat-obatan menjadikannya berilusi ia tetap sebagai panglima tertinggi nan digdaya.”

“Dunia bisa tenggelam dan menjadi abu karenanya. Aksinya menelan nyawa jutaan orang, tapi Fuhrer merasa benar saat euforia palsunya bermain,” tulus Ohrer dalam bukunya.

Akhirnya mental dan fisik Hitler drop pada pekan terakhir saat ia bersembunyi dalam bunker. Ohler menyatakan, penurunan kesehatan Hitler akibat terhentinya Eukodol dan bukan karena Parkinson.

Perang Dunia II

Ironisnya, Nazi selalu mengaku sebagai bangsa Arya yang suci. Propaganda yang terus mereka kampanyekan.

Selama Republik Weimar, narkoba telah tersedia di ibukota Jerman, Berlin. Tapi setelah Nazi merebut kekuasaan pada 1993, Nazi melarang.

Pada 1937, Nazi mematenkan obat berbasis methamphetamine pervitin. Stimulan yang bisa merangsang orang untuk tetap semangat, meningkatkan kinerja dan merasa bahagia. Bahkan mereka memproduksi cokelat merek Hildebrand yang mengandung 13mg obat-obatan.

Pengaruh dari obat ini, tentara mampu terjaga selama beberapa hari, berbaris tanpa lelah. Itu semua tidak mungkin terjadi jika bukan karena shabu.

Juli 1940, lebih dari 35 juta pervitin dosis 3mg dikirim ke tentara Jerman dan Luftwaffe selama invasi Peranci dari pabrik Temmler di Berlin.

“Pasukan mampu terjaga selama beberapa hari, berbaris tanpa istirahat yang tidak mungkin bisa tanpa shabu. Jadi, ya, dalam kasus ini narkoba mempengaruhi sejarah,” kata Ohler.

Dia menyematkan medali kemenangan Nazi atas perang Perancis pada narkoba. “Hitler tidak siap untuk perang dan saat ia berbalik ia terhalang dinding. Angkatan bersenjata Jerman, Wehrmacht tidak sekuat sekutu, peralatan tempur mereka lemah dan mereka hanya memiliki 3 juta tentara dibanding sekutu yang berjumlah 4 juta.

Tapi berbekal pervitin, Jerman merangsak maju melalui medan yang sulit, berjalan tanpa tidur selama 36 sampai 50 jam.

 

Barbara McCarthy

Penerjemah: Digital Publishing Metrosulawesi.com

Sumber: Aljazeera English

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.

Bintang Delapan