Sunday, 22 October, 2017 - 19:53

Sejarah Singkat Duet Perang dan Narkoba dari Zaman Viking Hingga Nazi (Bagian 2)

Tentara Nazi. (Foto : Google image)

Metrosulawesi.com - Menjelang akhir perang ketika Jerman kalah, ahli farmasi Gerhard Orzechowski menciptakan kokain permen karet yang memungkinkan awak kapal penyerang U-boats terjaga sehari penuh. Banyak yang menderita gangguan jiwa akibat efek samping obat sementara itu mereka terisolasi di kapal dalam waktu lama.

Era obat-obatan Nazi berakhir saat sekutu mengebom pabrik Temmler yang memproduksi Pertivin dan Eukodol pada 1945.

Tak hanya Nazi, para pilot sekutu juga diberikan amfetamin untuk membuat mereka terjaga dan fokus selama penerbangan panjang. Sekutu memiliki pilihan obat sendiri bernama Benzedrine.

Arsip pustaka The Laurier Military History di Ontario menunjukkan, tentara harus menelan 5mg sampai 20mg Benzendrine sulfat setiap lima sampai enam jam. Diperkirakan 72 juta tablet amfetamin dikonsumsi sekutu selama Perang Dunia II. Pasukan parasut menggunakan obat ini selama pendaratan D-Day sementara marinir AS mengandalkannya saat invansi Tarawa pada tahun 1943.

Dari fakta sejarah ini, mengapa sejarawan masih menganggap obat candu hanya sebagai anekdot dalam perang?

"Saya pikir banyak orang yang tidak mengerti bagaimana hebatnya efek obat-obatan itu," jawab Ohler.

"Tapi sekarang orang sudah mulai paham. Saya bukan orang yang pertama menulis tentang mereka. Saya pikir kesuksesan sebuah buku dan produk sinema seperti Downfall bila mereka memperhatikan penyalahgunaan yang dilakukan oleh Hitler."

Sejarawan medis Jerman Dr Peter Steinkamp dosen Universitas Ulm Jerman yakin, fakta itu akan terungkap. Sebabnya, "Mayoritas anggota Nazi mati."

"Veteran Nazi pernah marah saat film Das Boot menayangkan adegan kapten kapal U-boats mabuk berat. Para veteran memprotes bahwa mereka orang yang bersih," kata Peter.

Tapi sekarang sebagian veteran Perang Dunia II sudah tiada. Kita bisa melihat cerita lebih banyak dari penyalahgunaan zat bukan hanya pada PD II, tapi irak dan Vietnam.

Penggunaan obat-obatan sudah ada jauh sebelum PD II. Tahun 1200 SM, sebelum masa bangsa Inca di Peru dikenal obat psikoaktif sebagai obat kuat. Sementara bangsa Romawi membudidayakan opium seperti kisah Kaisar Marcus Aurelius yang kecanduan opium.

Kesatria Viking yang dijuluki "beruang berperisai" di Old Norse, terkenal bertempur seperti orang kesurupan. Mungkin akibat dari obat-obatan dari campuran sejenis jamur dan tumbuh-tumbuhan rawa. Sejarawan Islandia dan penyair Snorru Stuluson (117-1241) menggambarkan mereka sebagai petempur seperti anjing gila, hanya memakai perisai seadanya dan kuat seperti beruang atau banteng.

Baru-baru ini terbit buku Dr Feelgood mengungkap kisah dokter yang mempengaruhi sejarah dengan memberi obat-obatan sampingan pada tokoh ternama seperti Presiden Kennedy, Marilyn Moroe dan Elvis Presley . Richard Lertzman dan William Birnes, menduga puncak penggunaan obat-obatan pada Presiden Kennedy saat pertemuan 2 hari dengan pemimpin Soviet Nikita Krushcher tahun 1961 saat PD III.

Bersambung...

Baca bagian I dengan menuju tautan ini.

Barbara McCarthy

Penerjemah: Digital Publishing Metrosulawesi.com

Sumber: Aljazeera English

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.