Wednesday, 20 June, 2018 - 14:03

Sejarawan Belanda Tertarik Dokumentasikan Donggala

Egbert Wits saat melihat dan berdiskusi bersama pemerhati budaya di Donggala. (Foto : Metrosulawesi/Jose Rizal)

Donggala, Metrosulawesi.com - Donggala kota tua peninggalan kolonial mulai dilirik para pemerhati sejarah dari Belanda dan memungkinkan dilakukan kerjasama kebudayaan dan sejarah. Asal saja Pemkab Donggala memiliki gagasan dan menjadikan kota tua sebagai heritage untuk pelestarian. Ada banyak gagasan yang dilontarkan Egbert Wits seorang pemerhati sejarah dan budaya dalam kunjungan ke Kota Donggala belum lama ini sekaligus melakukan penjejakan situs-situs sejarah dan budaya kota tua.

“Saya tertarik melakukan workshop untuk pembuatan film documenter terhadap kota ini yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya, kemudian diekspose ke dunia internasional dengan leibatkan warga setempat,” kata Egbert belum lama ini.

Ia datang ke kota Donggala untuk rencana pendokumentasian berbagai kisah kota tua dengan melibatkan penduduk setempat, dapat pula dilakukan pertunjukan kesenian terkait pelabuhan dan memungkinkan kerja sama dengan Keduaan Belanda di Jakarta dan lainnya. 

Seyogianya, Jumat siang pekan lalu, ia ingin bertemu dengan Bupati Donggala Kasman Lassa di kantor bupati. Tapi informasi yang diperoleh saat itu bupati sedang istrahat di rumah jabatan, sehingga gagal melakukan shering.

Namun demikian, Egbert menyatakan optimis kemungkinan akan mencari alternative lain untuk menjadi sponsor dalam dalam mengangkat kota Donggala dari aspek informasi kebudayaan.   

Egbert Wits yang berkunjung khusus di kota Donggala belum lama ini, menyatakan kekagumannya terhadap kota tua ini. Terutama adanya bangunan-bangunan khas kolonial yang ada sejak zaman pemerintah Hindia Belanda yang menjadi ciri khas yang patut dilestarikan sebagai cagar budaya atau heritage.

“Setelah saya berkeliling kota melakukan pendokumentasian awal tentang bangunan-bangunan tua yang terlihat antik, sungguh menarik kota Donggala bila dijadikan suatu kawasan pelstarian dengan keunikannya.Di kota ini sangat kaya dengan cerita atau kisah perjalanan dalam perkembangan zaman yang pernah mengalami kejayaan pelabuhan,” kata Egbert pada media ini kemarin.

Egber yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini memiliki perhatian khusus pada kesenian Indonesia, apalagi sejak beberapa tahun terakhir ini telah bermukim di Yogyakarta. Aktivitasnya sebagai relawan seni budaya yang bekerja sama dengan beberapa lembaga kesenian Indonesia untuk pelatihan atau workshop organisasi seni.

Bahkan kedatangannya di Kota Palu menjadi salah satu pemateri workshop seni untuk perdamaian yang dilaksanakan yayasan Kelola di Taman Budaya Sulawesi Tengah.

Saat berada di kota Donggala menyempatkan diri berkunjung ke Warung Kopi Nagaya untuk menyerap informasi tentang dinamika kota dari aspek historis maupun cerita nostalgia. Dari Nagaya itu selanjutnya berkunjung ke secretariat Dewan Kesenian Donggala yang berada di dekat Pelabuhan Donggala untuk shering dengan Ketua DKD, Tanwir Pettalolo. Mereka saling tukar informasi masalah kesenian maupun keorganisasian yang berkaitan dengan suatu kota yang memiliki kekhasan sendiri.

 

Editor : Subandi Arya

Tags: