Friday, 21 September, 2018 - 10:19

Sekretaris KPU Sulteng Belum Mau Terbuka Terkait Sumber Anggaran Kegiatan Orientasi

DISOROT - Ketua Tim Seleksi calon anggota KPU Provinsi Sulawesi Tengah, Muhtadin Dg Mustapa memberikan sambutan pada kegiatan Orientasi dan Penguatan Integritas Calon Anggota KPU Provinsi Sulawesi Tengah 5 Maret 2018. Kegiatan ini menuai sorotan karena Timsel memaksakan kegiatan tersebut meskipun tidak ada petunjuk teknisnya dari KPU RI. (Foto: Antara)

Palu, Metrosulawesi.com - Sumber dana kegiatan orientasi penguatan integritas calon anggota KPU Sulteng yang digelar beberapa waktu lalu dipersoalkan.

Pasalnya, kegiatan yang diperkirakan menggunakan anggaran puluhan juta rupiah itu tetap dilaksanakan meski tidak masuk dalam tahapan seleksi dan tidak ada dalam petunjuk teknis. Sekretaris KPU Sulteng Moh Nur Bakti yang dikonfirmasi belum memberikan tanggapan terkait sorotan tersebut.

Sementara itu, DR Aminuddin Kasim SH MH, mantan ketua Timsel KPU Sulteng saat diminta tanggapan mengatakan, lima tahun lalu dia juga menggelar kegiatan serupa yang dikemas dalam bentuk tauziah. Namun, lanjut Aminuddin Kasim, saat itu kegiatan tersebut tidak dianggarkan.

Pihak sekretariat KPU Sulteng kala itu menyampaikan bahwa tidak ada anggaran untuk kegiatan tersebut. Namun, tauziah dianggap penting, maka Aminuddin Kasim pun mengeluarkan uang pribadi untuk membiayai kegiatan tersebut.

Peserta seleksi calon anggota KPU Sulteng hanya sepuluh orang karena memang dilaksanakan pada tahap akhir. Berbeda dengan Timsel sekarang yang melaksanakan di awal tahapan.

“Waktu saya ketua Timsel, tidak dianggarkan (kegiatan tauziah) waktu itu. Jadi, seperti kaos saya beli pakai uang pribadi. Kegiatan tauziah itu anggarannya dari honor saya sebagai ketua Timsel,” kata Aminuddin Kasim menjawab pertanyaan Metrosulawesi, Kamis 12 April 2018.

Diketahui, anggaran pelaksanaan kegiatan orientasi penguatan integritas dilaksanakan oleh Timsel KPU Sulteng periode 2018-2023 pada 5 Maret 2018. Sebanyak 56 peserta seleksi dan pihak sekretariat KPU Sulteng mengikuti kegiatan tersebut. Dua pemateri yakni Prof Dr Ir Mohammad Basir dan Prof Dr Zainal Abidin MAg. Kegiatan yang dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Palu itu diperkirakan menelan anggaran puluhan juta rupiah.

Komisioner KPU Sulteng Muhammad Ramlan Salam mengungkapkan, anggaran kegiatan orientasi penguatan integritas patut dipertanyakan sumbernya. Sebab, kegiatan itu tidak masuk dalam tahapan seleksi sehingga jelas tidak dianggarkan. Selain itu, dalam petunjuk teknis tidak ada kegiatan tersebut.

Masalah orientasi penguatan integritas ini terungkap karena Ramlan Salam menganggap bahwa tidak diloloskan masuk sepuluh besar calon anggota KPU Sulteng periode 2018-2023 karena sempat mempersoalkan kegiatan tersebut.

Ramlan Salam adalah salah satu peserta seleksi calon anggota KPU Sulteng periode 2018-2023 yang tidak lolos sepuluh besar. Sedangkan empat rekannya sesama petahana lolos yakni Sahran Raden, Nisbah, Samsul Y Gafur, dan Naharuddin.

Ramlan Salam mempersoalkan sumber anggaran kegiatan orientasi penguatan integritas kepada pihak sekretariat KPU Sulteng jauh sebelum pengumuman sepuluh besar calon komisioner KPU Sulteng.

Dalam kapasitas selaku Divisi Perencanaan dan Data KPU Sulteng dia mengawai penggunaan uang negara agar sesuai aturan. Namun, masalah internal di KPU Sulteng itu bocor ke Timsel KPU Sulteng. Bahkan, sempat ditanyakan oleh Ketua Timsel kepada Ramlan Salam pada tes wawancara.

“Ada satu Pak. Katanya bapak protes ketika kita melakukan (kegiatan orientasi) penguatan integritas, saya selaku ketua (Ketua Timsel) keberatan.  Jawaban saya ketika itu ‘Saya bukan memprotes, tapi saya ini Divisi Perencanaan dan Data di KPU Sulteng yang punya kewajiban untuk memantau realisasi kegiatan anggaran yang ada di KPU Sulteng,” kata Ramlan Salam menceritakan kondisi saat mengikuti tes wawancara.

Menurut Ramlan Salam, dia tidak diloloskan karena hal tersebut. Karena itu, dia sengaja mengungkap ke publik agar tidak muncul persepsi negatif seakan-akan dirinya tidak lolos sepuluh besar karena pernah melakukan kesalahan besar selama menjabat sebagai komisioner KPU Sulteng.