Thursday, 23 November, 2017 - 19:01

Sengketa Lahan KEK 11.600 M2, Aliansi Indonesia Berterimakasih Kepada Pejabat Setempat

Ramsyah S Yodjorullah (kemeja biru) bersama Sekretaris Jenderal Aliansi Indonesia T Bustamam saat mematok lokasi lahan di kawasan KEK Palu, Senin, 13 Maret 2017. (Foto : M Yusuf BJ/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.com - Sekretaris Jenderal Aliansi Indonesia T. Bustamam menghaturkan terimakasih kepada pejabat setempat yang telah memberikan ruang untuk mendampingi Ramsyah S. Yodjorullah memperjuangkan haknya atas tanah 11.600 m2 di Baiya Kecamatan Tawaeli.

“Atas nama Ketua Umum dan seluruh pengurus Badan Penelitian Aset Negara Lembaga Aliansi Indonesia, Saya T. Bustamam selaku Sekretaris Jenderal menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Bapak Kepolda, Kapolres, Kapolsek dan seluruh jajarannya serta seluruh instansi terkait atas dukungannya, sehingga kami sukses menancapkan plang (tiang) kepemilikan lahan atas nama ahli waris Ramsyah S. Yodjorullah sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Bustamam.

“Mudah-mudahan dengan pemasangan plang ini, proses mendapatkan legalitas kepemilikan diperoleh Bapak Ramsyah S. Yodjorullah selaku ahli waris,” tambahnya.

Sebelumnya, bersama Aliansi Indonesia, Ramsyah S. Yodjorullah selaku ahli waris Ahmad Saehana, Senin, 13 Maret 2017 mematok tanah di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. Ramsyah mengklaim tanah seluas 11.600 m3 pada lokasi itu adalah tanah waris keluarganya.

Klaim tersebut diajukan Ramsyah berdasarkan Surat Keterangan Kepala Kampung Panau Nomor 002/K.P/73 tanggal 1 Januari 1973, Surat Keterangan Kepala Kampung Panau tanggal 31 Januari 1977 dan Gambar Situasi Tanah yang diterbitkan Kepala Desa baiya tanggal 21 April 1994.

Saat ditemui di lokasi, Ramsyah mengaku pihaknya menggandeng Aliansi Indonesia karena keinginannya menerbitkan sertifikat tanah tidak ditindaklanjuti oleh pejabat Pemerintah Kota Palu.

“Kami meminta Aliansi Indonesia untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Karena hingga saat ini, kami merasa terzholimi. Tujuan kami hanya satu, yakni kembalikan hak kami yang selama ini tidak jelas penguasaannya. Padahal sudah sangat jelas, tanah ini adalah hak ahli waris Ahmad Saehana yang diwakili Ramsyah S. Yodjorullah,” kata Ramsyah.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Aliansi Indonesia T. Bustamam mengatakan pihaknya melakukan pendampingan karena pemilik tanah yakni Ramsyah S. Yodjorullah kesulitan mengurus sertifikat.

“Alasannya karena tanah yang diklaim Ramsyah sudah ada sertifikatnya. Padahal sertifat tersebut bukan disini lokasinya. Kalaupun betul diatas tanah ini ada sertifikatnya, bagaimana proses keluarnya sertifikat itu, tanpa diketahui oleh pemilik tanah,” katanya.

“Kalau memang karena adanya jual beli atas tanah ini, buktinya mana, hingga saat ini tidak ada. Yang punya tanah saja tidak tahu, kok tiba-tiba ada sertifikat. Karena bertahun-tahun tanah ini diperjuangkan Ramsyah, maka mereka mengadu ke kami,” jelasnya.

Dalam surat terakhir yang dilayangkan Aliansi Indonesia kepada lurah, camat, Wali Kota Palu, dan BPN, kata Bustamam, pihaknya bersama Ramsyah S. Yodjorullah akan mematok lokasi tanah tersebut.

“Pematokan ini bertujuan untuk mempermudah Ramsyah mengurus sertifikat tanahnya,” jelasnya.

Bustamam mengungkapkan pihaknya akan mendesak BPN untuk melakukan pengukuran ulang atau menetapkan koordinat tanah tersebut.

“Jika yang kami desak ini tidak disahuti oleh BPN, maka BPNnya akan kami ganti dengan BPN yang bisa melaksanakan ini,” tegasnya.

“Kami inginnya seperti itu, karena Aliansi Indonesia bukan Ormas bukan LSM. Kalau memang aparatur negara tidak mampu melaksanakan tugasnya, akan kami ganti dengan pejabat yang mampu melaksanakan tugas ini,” tambahnya.

Kirim Komentar Anda
Budayakan beri komentar terkait artikel yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim, tidak mewakili kebijakan redaksi METROSULAWESI dot com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus komentar sesuai dengan Pedoman Komunitas.